Beberapa hari terakhir, saya merasa penuh dengan beban. Berhenti. Keluar. 
Berhenti. Keluar. Begitulah mungkin hati saya kalau bisa berteriak. Menuntut 
berhenti dari segala macam urusan. Menuntut keluar dari semua persoalan. Satu 
persoalan datang, tanpa kenal kompromi, gelap mata persoalan lama belum 
terselesaikan. Saat saya mengeluh ke seorang kawan. Dia dengan seenaknya 
tertawa sinis, "Mau keluar? Ndak usah mimpi...lha periuk nasi kamu disitu. Mau 
makan apa anak isterimu?".

Dan nasib buruk pun masih berlanjut. Persoalan tidak lagi hadir di dunia nyata. 
Ketika saya sadar. Persoalan itu mengendap-endap memasuki mimpi saya. Siang 
yang penat digenapi dengan malam yang gelisah. Sudah kerja tidak nyaman. Tidur 
pun tak nyenyak. Menjalani hidup saat ini susah. Membayangkan masa depan, "tau 
ah gelap" kata mahasiswa saya. Nasib. Nasib. Dosa apa hamba gerangan?

Suasana semacam ini acapkali membuat saya mencari "kesenangan" yang dapat 
segera merelakskan seluruh tubuh, menenangkan urat syaraf. Ikut rapat, langsung 
saja tancap gas menyebarkan gangguan yang membuat orang lain tidak nyaman. 
Rasanya kok jadi sedikit lega kalau melihat orang jadi kesal, lebih-lebih kalau 
sampai marah. "Kamu itu memang tidak tahu diri", serang kawan saya yang 
bibirnya paling sering ditekuk, muka serius.

Dampak Pengetahuan
Dulu ketika kecil, saya mengangankan menjadi orang pintar. Kata orang tua, 
"Biar tidak ditipu sama orang". Rajin belajar. Rajin membaca buku. Rajin 
mendengarkan petuah guru. Apapun selama itu membuat saya jadi lebih pintar. 
Rangking kelas menjadi incaran yang diperjuangkan.

Setelah tua begini baru tobat. Ternyata semakin saya tahu, semakin saya menjadi 
bodoh. Semakin saya tahu, semakin saya menemui banyak masalah. Semakin saya 
tahu, semakin saya tahu mana yang benar mana yang salah. Semakin saya sadar 
banyak yang tidak beres terjadi. Semakin saya tahu banyak hal yang bisa dan 
harus saya lakukan. Semakin saya berharap banyak hal terjadi. Semakin sering 
saya mengalami kegagalan. Semakin sering saya menemui kekecewaan.

Banyak pengetahuan itu ibarat anak desa yang tengah membawa air dalam timba. 
Semakin banyak air yang dibawa maka semakin cepat ia menyelesaikan tugasnya. 
Semakin banyak air maka semakin berat beban yang dipikulnya. Semakin lambat 
menempuh perjalanannya. Semakin banyak air yang dibawa maka semakin sering ia 
harus berhenti, meletakkan timba airnya.

Yap, tepat! Layaknya keadaan saya sekarang. Sempoyongan. Tapi sok kuat, masih 
memaksa untuk melanjutkan membawa air tersebut. Dan itulah yang saat ini 
membuat saya terjebak dalam begitu banyak persoalan. Sudah, sudah cukup. 
Sekarang, ingin berhenti. Keluar dari hidup.

Masuk wilayah tidak tahu
Saya sungguh kagum dengan orang-orang yang dengan begitu "tidak peduli" masuk 
ke wilayah-wilayah ketidaktahuan. Salah satunya, yang membuat terhenyak, dimuat 
sosoknya satu halaman di Kompas (Minggu, 6 Januari 2007). Namanya Dynand Fariz. 
Idenya Jember Fashion Carnaval (JFC) telah memasuki tahun keenam. Dari Jember, 
Fariz berhasil menarik perhatian dunia ketika kantor berita dan media 
internasional menurunkan laporan mengenai JFC. Bulan Agustus lalu JFC digelar 
untuk yang keenam kalinya di jalan sepanjang 3,6 kilometer, diikuti 450 
peserta, dan diperkirakan ditonton 150.000-an orang dari Jember dan kota-kota 
di sekitarnya. Keheranan demi keheranan saya ketika membaca sosoknya. Dari 
heran menjadi decak kagum, menjadi teriakan "WOW!". "Hebat!".

Apabila anda mengajukan pertanyaan kepada orang yang tahu Jember. Apa yang 
terbayang di benak anda tentang Jember? Sangat mungkin jawabannya. Petani. 
Sarungan. Santri. Agraris. Konflik Pertanahan. Atau kalau Tukul bilang "Ndeso". 
Lha ini Fariz kok bisa menjadi "tidak tahu" tentang Jember. Berangan-angan 
Jember menjadi pusat fashion. Padahal beliaunya itu kan tulen Jember, kelahiran 
Jember. Kok bisa ya?

Install Image
Mungkin yang saya alami adalah krisis imajinasi. Gambar yang muncul dibenak 
saya melulu kelabu, suram, bahkan hitam. Ketika melihat orang yang saya kenal, 
muncul gambaran buruk. Ketika melihat bawahan saya, langsung muncul film 
keusilannya. Film ini menuntun saya bertindak hati-hati. Menghindari bila 
mungkin. Bicara seperlunya, apalagi memberikan saran. Karena saya jarang 
komunikasi. Jarang memberikan masukan. Tambah kumat usilnya. Semakin usil 
semakin heboh film keusilan di benak saya. Dan seterusnya. Saya gagal untuk 
melihat orang dengan cara yang berbeda. Gagal berimajinasi tentang orang 
tersebut.

Mungkin krisis imajinasi ini pula yang terjadi di negeri ini. Dulu pemimpin tua 
diganti. Harapannya ada perubahan. Setelah pemimpin muda maju. Keadaan tetap 
sama. Yap. Bukan urusan umur. Bukan soal tua muda. Kalau dibedah kepala 
pemimpin-pemimpin itu, pasti gambarnya sama. Kalau dicari gambar tentang 
indonesia, pasti juga sama. Gambar ini seperti rancangan bangunan seorang 
arsitek. Nah kalau gambar indonesianya sama. Pastilah indonesia yang dibangun 
juga sama.

Berharap Indonesia baru? Installah image indonesia baru pula. Indonesia Impian!

Seperti sekarang saya lagi menginstall image baru tentang kehidupan 
saya.....hehehe

Ingin tahu tips-tips mengimajinasikan semesta?
Klik disini
atau 
http://appreciativeorganization.wordpress.com/2008/01/08/mengimajinasikan-semesta/


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke