Pak Hasan, firman yang artinya; (Katakanlah (Muhammad) kalau kalian mencintai aku maka ikutilah aku, (maka) Allah akan mencintaimu)).. sebaiknya tidak digeneralisir untuk mendasari pengharaman amalan baru (bidah).
kenapa? karena jika ayat itu diartikan bahwa kita harus ikut contoh nabi muhammad (100%) sehingga tak ada bidah, maka kita harus ikut menikahi istri lebih dari empat dong (mengikuti rasul)??? kita juga harus melarang anak kita dipoligami, karena rasul pernah melarang ali mempoligami putri beliau. (mohon pencerahannya..) menurut saya, maksud ayat tersebut adalah kita wajib mengikuti millah nabi ibrahim, yang disempurnakan oleh muhammad yakni prinsip syariat islam (rukun iman dan rukun islam). berbekal prinsip keyakinan itulah kita mengembangkan peradaban, kebudayaan, dan PERNIK tradisi islam. *** lalu pertanyaannya, adakah peringatan maulid yang diperingati di Indonesia itu adalah bentuk amalan baru (bidah) yang begitu buruk dan mengkhianati syariat islam sehingga harus ditinggalkan? tidak bukan? menurut saya, peringatan maulid itu bukanlah amalan yang wajib ditinggalkan. dia hanyalah bentuk budaya dan tradisi lokal yang tak bertentangan dengan syariat islam, sama seperti: istighotsah, dzikkir massal, dll. setahu saya sih, istighotsah dan dzikkir rame-rame itu bukan amalan yang pernah dicontohkan rasulullah (CMIIW). dia adalah bentuk bid'ah, namun tidak serta-merta bertentangan dengan prinsip apapun yang telah diatur Allah melalui rasul-Nya. *** BTW, bid'ah sering dikategorikan hitam-putih menjadi 2: bid'ah muamalah (nonton TV, browsing internet, dll) dan bid'ah syar'iyyah (ubudiyyah). yang perlu dikritisi adalah: mengapa aktivitas muamalah dipisahkan dari ubuddiyah ketika berbicara soal bidah? bukankah keduanya bisa bernilai ibadah; tiap helaan nafas kita bisa bernilai ibadah (ibadah ghairu makhdah), di samping ibadah khusus (makhdah)? jadi, jika aktivitas muamalah (aktivitas kemanusiaan/ horizontal) dan ubuddiyah (ritual penyembahan/ vertikal) saja bisa diposisikan satu level sebagai ibadah, maka.. bukankah amalam bidah muamalah pun bisa dianggap sebagai ibadah (misalnya: nonton siraman rohani di TV, browsing internet untuk membaca-baca artikel salafi, dll)? kenapa amalan muamalah itu dipandang dengan standar ganda? nilainya disamakan dengan aktivitas ubuddiyah (ketika berbicara ibadah), namun dipisahkan tegas ketika berbicara soal bid'ah?? *** menurut saya, bidah (amalan baru, apapun) yang diharamkan adalah yang bertentangan dengan hukum Allah dan rasul-Nya. sebaliknya, yang dihalalkan adalah yang bersesuaian dengan hukum-Nya. jadi, bermobil itu haram jika untuk riya. berinternet itu haram jika untuk liat gambar porno, SADAQAH TIBAN itu haram jika dialasdasari niat untuk KAMPANYE. sebaliknya, garap film macam AAC (ayat-ayat cinta) itu halal selama tidak melanggar nilai dan ketentuan apapun dalam islam (dan bahkan bisa menjadi media dakwah islam), dan maulid itu halal selama mampu menjadi wahana dzikir perjuangan nabi. semuanya adalah bidah bukan, tapi nilainya bisa berbeda berdasarkan niatnya? "innamal-a'maalu binniyyaat.." mohon pencerahannya, CMIIW.. wassalam, *rif Pada tanggal 23/03/08, Hasan Juhanis El-Palopy <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh > Bismillahirrahmanirrahim > segala puji bagi Allah SWT dan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. > Setelah membaca pemparan dari penulis, saya memberikan "bebebarapa bantahan > dan penegasan bahwasanya perayaan maulid nabi sama sekali tidak ada dasar > hukumnya dari AlQur'an dan Hadits serta amalan-amalan Shahabat, mengapa > demikian?... > kalaulah perayaan itu dilakukan dengan alasan karena cinta kepada > Rasulullah, cinta itu disalahtempatkan...kalau ingin benar-benar cinta > kepada Rasulullah, maka ikutilah jejaknya, perkataan Beliau, > amalan-amalannya, dan keputusan-keputusan serta di sisi lain melihat > bagamana para Sahabatnya dalam bermuamalah... > sangat jelas sekali bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan untuk > membuktikan cinta pengikutnya dengan melakukan perayaan maulidnya. bukankah > Allah SWT berfirman yang artinya; ((Katakanlah (Muhammad) kalau kalian > mencintai aku maka ikutilah aku, (maka) Allah akan mencintaimu)) > kemudian dalam ayat lain yang artinya: ((hari ini telah Aku sempurnakan > agamamu bagimu dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, Aku telah rela Islam itu > (menjadi) agama bagimu)),.. tafsiran dari ayat tersebut adalah hukum-hukum > dan amalan-amalan yang berkaitan dengan halal dan haram telah cukup dan > telah disampaikan semuanya oleh Rasulullah SAW. > Sabda Beliau: " barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan dari > amalan kami maka amalan itu tertolak" > dan masih sangat banyak dalil-dalil lain pendukung untuk mengikuti jejak > Rasulullah SAW. > jika kita melihat kepada amalan-amalan para Shahabat Rasulullah pun kita > dapatkan tidak ada di antara mereka yang melaksanakan perayaan maulid > sebagaimana yang dilakukan masa sekarang; bukankah mereka lebih tahu tentang > agama dan lebih pahamn terhadap Al-Qu'an dan Hadits? > kalaulah alasan melakukan perayaan maulid atas dasar untuk mengkaji > sejarah kehidupan Beliau, kenapa tidak dikaji secara berkelanjutan di > mesjid-mesjid atau rumah dan tidak dikhususkan seperti pada hari bertepatan > maulid saja? sejarah kenabian adalah bagian dari agama, dan wajib hukumnya > untuk mempelajarinya.. > kalau alasan melaksanakan maulid itu agar bisa bershalawat bersama, itu > jelas-jelas perbuatan bid'ah... adakah Rasulullah dan Para Sahabatnya pernah > memerintahkan bersholawat bersama-sama? kitakah yang lebih paham agama Islam > ini atau mereka? terus mengapa kita harus membuat amalan baru? tidakkah kita > hanya sekedar membuang waktu dan uang saja? karena amalan yang tidak sesuai > dengan syari'at itu akan ditolak dan sia-sia saja, apakah malah sebaiknya > meneruskan pekerjaan di rumah atau istirahat itu jauh lebih bermanfaat? > Selayaknya setiap muslim untuk selalu bershawat kepada Beliau setiap waktu > mengingatnya, kapan dan dimana saja terkecuali di tempat-tempat yang tidak > boleh berdzikir di dalamnya. > kebanyakan orang-orang yang "mengaku dirinya" sebagai ulama telah keliru > dalam hal ini sehingga menyesatkan banyak orang karena fatwanya yang > berdasar dari kiasan-kiasan atau hadits-hadits lemah saja. ulama yang > betul-betul ulama ialah yang memiliki ilmu syariat yang cukup dan > melaksanakan tuntunan dari ilmunya yang dia dapatkan, namun kita lihat > mereka yang mengaku diri sebagai ulama itu seringkali hanya bisa berkomentar > dan berfatwa tanpa melakukan tuntunan syariat. > kesimpulannya adalah; peringatan maulidn itu adalah perbuatan bid'ah. > Allahu a'lam bishshowab > > terima kasih, > Hasan Juhanis > Mahasiswa IIU Islamabad > > arief dani <[EMAIL PROTECTED] <ariefdani%40yahoo.com>> wrote: SEPULUH > BUKTI DARI ALQURAN DAN SUNAH BAHWA MEMPERINGATI > KELAHIRAN NABI SAW DAPATLAH DITERIMA > Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs > ( Master Syariah Al-Azhar, Master Sufi Dunia, President As-Sunnah > Foundation USA, President Islamic Supreme Council of America) > > Perintah Meningkatkan Rasa Cinta dan Hormat kepada Nabi saw. > > Pertama, Allah swt meminta Nabi saw. agar mengingatkan umatnya bahwa > sangatlah penting bagi siapa saja yang menyatakan mencintai Allah swt untuk > mencintai Nabi-Nya juga, "Katakanlah kepada mereka, 'Jika kalian mencintai > Allah swt, ikuti (dan cintai dan hormatilah) aku, niscaya Allah swt akan > mencintai kalian'" (3:31). > > Memperingati hari kelahiran Nabi saw. didorong oleh perintah untuk > mencintai, menaati, mengingat, dan mengikuti contoh Nabi saw., serta merasa > bangga dengannya sebagaimana Allah swt menunjukkan kebanggaan-Nya dengannya. > Dalam Kitab Suci-Nya, Allah swt begitu membanggakannya dengan berfirman, > "Sungguh engkau memiliki budi pekerti yang begitu agung"(68:4). > > Cinta kepada Nabi saw. dapat menjadi pembeda keimanan di antara kaum > beriman. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhârî dan Muslim, Nabi saw. > pernah bersabda, "Tak seorang pun di antara kamu beriman, sampai ia > mencintaiku lebih dari ia mencintai anak-anaknya, orang tuanya, dan semua > orang." Dalam hadis al-Bukhârî lainnya, beliau bersabda, "Tak seorang pun di > antara kamu beriman sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai dirinya > sendiri." 'Umar ibn al-Khaththâb ra berkata, "Wahai Nabi saw, Aku sungguh > mencintaimu melebihi diriku sendiri." > > Kesempurnaan iman tergantung pada cinta kepada Nabi saw., karena Allah swt > dan para malaikat-Nya terus-menerus menyatakan penghormatannya, sebagaimana > begitu jelas disebutkan dalam ayat berikut, "Allah swt dan para malaikat-Nya > berselawat kepada Nabi saw" (33:56). Perintah Tuhan, "Wahai orang-orang > beriman, berselawatlah kepadanya," segera menyusulnya, menambah jelas bahwa > kualitas seorang mukmin sangat tergantung pada dan dijelmakan dengan > pembacaan selawat kepada Nabi saw. > > Nabi saw. Menekankan Hari Senin sebagai Hari Beliau Dilahirkan > > Kedua, Abû Qatâdah al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya > mengenai puasa di hari Senin. Beliau kemudian menjawab, "Hari itu adalah > hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu."1 > > Syekh Mutawallî al-Sya'râwî menulis, "Banyak peristiwa luar biasa terjadi > pada hari kelahirannya sebagaimana disebutkan dalam hadis dan sejarah. Malam > waktu Nabi saw dilahirkan tidaklah seperti malam-malam kelahiran manusia > lainnya." 2 > > Sedangkan menurut Ibn al-Hajj, "Adalah suatu keharusan bagi kita pada > setiap hari Senin bulan Rabiul Awal untuk meningkatkan ibadah kita sebagai > ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas karunia-Nya yang begitu besar > yang telah diberikan kepada kitayaitu diutusnya Nabi saw. untuk membimbing > kita kepada Islam dan kedamaian Nabi saw., ketika menjawab seseorang yang > bertanya kepada beliau mengenai puasa di hari Senin, menyatakan, "Aku > dilahirkan pada hari itu." Oleh karena itu, hari tersebut memberikan > kehormatan bagi bulan itu, karena itu adalah harinya Nabi saw. dan beliau > pun mengatakan, "Aku junjungan (sayyid) bagi semua anak-cucu Adam as, dan > aku mengatakannya tanpa kesombongan" dan beliau pun mengatakan, "Adam as > dan siapa saja keturunannya akan berada di bawah benderaku pada Hari > Peradilan kelak." Hadis-hadis ini diriwayatkan oleh al-Syaykhâni (al-Bukhârî > dan Muslim). Muslim dalam Shahîh-nya menyatakan bahwa Nabi > saw. bersabda, "Pada hari itu, yaitu Senin, saya dilahirkan, dan pada hari > itu pula risalah pertama disampaikan kepadaku."3 > > Nabi saw. menaruh perhatian khusus pada hari kelahirannya dan bersyukur > kepada Allah swt, karena memberinya kehidupan, dengan berpuasa pada hari > itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abû Qatâdah. Nabi saw. menyatakan > kebahagiaannya akan hari tersebut dengan berpuasa, yang merupakan sebentuk > ibadah. Sebagaimana Nabi saw. telah memberi perhatian khusus pada hari > tersebut dengan berpuasa, maka ibadah dalam bentuk apa saja untuk memberi > perhatian khusus atas hari tersebut dapat pula dibenarkan. Meskipun bentuk > ibadahnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama. Oleh karena itu, berpuasa, > memberi makan fakir miskin, berkumpul untuk melantunkan pujian kepada Nabi > saw., atau berkumpul untuk mengingat perilaku dan budi pekerti baiknya, > semuanya dapat dipandang sebagai cara menaruh perhatian khusus pada hari > tersebut. > > Allah swt Berfirman, "Bergembiralah dengan Nabi saw" > > Ketiga, Menyatakan kebahagiaan dengan kedatangan Nabi saw. adalah perintah > Allah swt dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya, "Dengan karunia Allah swt > dan rahmat-Nya, maka hendaklah mereka bergembira" (10:58). > > Perintah ini ada karena rasa senang dapat membuat hati merasa bersyukur > atas rahmat Allah swt. Rahmat Allah swt mana yang lebih besar ketimbang diri > Nabi saw. sendiri. Allah swt menyatakan, "Tiadalah Aku utus engkau kecuali > sebagai rahmat bagi seluruh alam" (21:107). > > Karena Nabi saw. diutus sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia, maka > merupakan suatu keharusan, tidak saja atas muslimin tetapi juga semua umat > manusia untuk merayakan kehadirannya. Sayangnya, masih ada sebagian muslim > yang tampil menolak perintah Allah swt untuk bersuka ria atas kelahiran > Nabi-Nya. > > Nabi saw. Memperingati Peristiwa-Peristiwa Besar dalam Sejarah > > Keempat, Nabi saw. selalu membuat hubungan di antara peristiwa-peristiwa > agama dan sejarah, sehingga bila tiba suatu hari ketika terjadi suatu > peristiwa penting, beliau mengingatkan para sahabat untuk merayakan hari itu > dan menegaskan keistimewaannya, meskipun peristiwa tersebut terjadi pada > masa yang sangat lampau. Dasarnya dapat ditemukan dalam hadis berikut. > > Tatkala Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi > berpuasa pada Hari Asyura. Beliau bertanya mengenai hari tersebut, dan > beliau diberi tahu bahwa pada hari itu Allah swt menyelamatkan Nabi mereka, > yakni Musa as, dan menenggelamkan musuhnya. Karena itulah mereka berpuasa > pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah swt atas karunia ini.5 > > Pada saat itu juga Nabi saw. menanggapinya dengan hadis yang terkenal, > "Kita lebih berhak atas Musa as daripada kalian," dan beliau pun melakukan > puasa pada hari itu dan hari sebelumnya. > > Allah swt Berfirman, "Berselawatlah kepada Nabi saw" > > Kelima, peringatan atas kelahiran Nabi saw. mendorong kita untuk > berselawat kepada Nabi saw. dan menyampaikan pujian atasnya, yang menjadi > suatu keharusan berdasarkan ayat, "Sesungguhnya Allah swt dan para > malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw. Wahai orang-orang beriman, > berselawatlah kamu untuk Nabi saw dan ucapkanlah salam kepadanya dengan > sepenuh hati" (33:56). Karena datang bersama-sama dan mengenang jasa-jasa > Nabi saw. dapat membawa kita untuk berselawat dan memujinya, maka ini > selaras dengan perintah Allah swt. Siapakah yang punya hak untuk mengingkari > keharusan yang telah diperintahkan Allah swt kepada kita melalui Alquran? > Manfaat yang dibawa oleh ketaatan pada perintah Allah swt dan cahaya yang > dibawanya ke dalam hati tidaklah dapat diukur. Lebih jauh lagi, keharusan > tersebut dinyatakan dalam bentuk jamak, yaitu Allah swt dan para > malaikat-Nya berselawat dan mengucap salam kepada Nabi saw.secara > bersama-sama. Karena itu, sama > sekali tidaklah benar mengatakan bahwa membaca selawat dan salam kepada > Nabi saw. tak boleh dilakukan secara berkelompok, tetapi harus > sendiri-sendiri > > Pengaruh Menyaksikan Peringatan Kelahiran Nabi terhadap Kaum Kafir > > Keenam, mengungkapkan kegembiraan dan memperingati hari kelahiran Nabi > saw., dengan karunia dan rahmat Allah swt, dapat mendatangkan keberuntungkan > bagi orang kafir sekalipun.6 Imam al-Bukhârî menyatakan dalam hadisnya > bahwa setiap hari Senin, Abû Lahab dibebaskan dari siksaannya di alam kubur, > karena ia telah memerdekakan budak perempuannya, yaitu Tsuwaybah, pengasuh > Nabi saw. Beberapa ulama, di antaranya Ibn Katsîr dan Ibn Nâshir al-Dîn > al-Dimasyqî, mengatakan bahwa ini karena Abû Lahab sangat bergembira tatkala > Tsuwaybah membawa kabar kepadanya tentang kelahiran keponakannya itu. > Meskipun demikian, agaknya pemerdekaan ini terjadi pada saat Nabi saw sudah > dewasa, yaitu pada saat hijrah ke Madinah.7 > > Tentang hal ini, Hafiz Syams al-Dîn Muhammad ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî > menulis bait syair berikut, "Bila ini, seorang kafir yang dikutuk untuk > kekal di neraka dengan ucapan 'celakalah kedua tangannya' (Q. 111), > dikatakan menikmati masa tenang pada setiap hari Senin, karena ia bergembira > dengan (kelahiran) Ahmad saw, lantas bagaimana menurutmu seorang hamba yang, > sepanjang hidupnya, bergembira dengan Ahmad saw, dan meninggal seraya > mengucap, 'Ahad (Esa)'"8 > > Keharusan Mengetahui Sirah Nabi saw. dan Meniru Perilakunya > > Ketujuh, kita dituntut untuk mengetahui Nabi saw., baik kehidupannya, > mukjizatnya, kelahirannya, perilakunya, keimanannya, tanda-tanda > (kenabian)-nya, khalwatnya, ataupun ibadahnya. Tidakkah mengetahui hal-hal > seperti ini merupakan keharusan bagi setiap muslim? > > Apa lagi yang lebih baik dari merayakan dan memperingati kelahirannya, > yang mewakili babak penting hidupnya, untuk dapat memahami kehidupannya? > Memperingati kelahirannya akan mengingatkan kita tentang segala hal lain > yang berhubungan dengan kehidupannya, sehingga memungkinkan kita untuk > mengenal perjalanan hidup (sirah) Nabi saw. dengan lebih baik. Kita akan > lebih siap untuk menjadikan Nabi saw. sebagai panutan, memperbaiki diri > kita, dan meniru kepribadian beliau. Itulah mengapa perayaan hari > kelahirannya merupakan suatu karunia besar bagi seluruh umat muslim. > > Nabi saw. Setuju dengan Syair Pujian Terhadapnya > > Kedelapan, sudah diketahui benar bahwa pada masa Nabi saw., para penyair > berdatangan ke hadapannya dengan berbagai jenis karyanya yang berisi pujian > terhadapnya. Mereka menulis dalam syair-syair tersebut tentang perang dan > panggilan jihadnya, juga tentang para sahabatnya. Ini dapat ditemukan dalam > berbagai syair yang dikutip dalam sirah Nabi saw. yang disusun oleh Ibn > Hisyâm, al-Wâqidî, dan yang lain. Nabi saw. sangat senang dengan syair yang > bagus, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhârî dan yang lain bahwa beliau > bersabda, "Dalam syair itu ada hikmah (kata-kata bijak)."9 Paman Nabi saw., > al-'Abbâs, menggubah sebuah syair yang menyanjung kelahiran Nabi saw, yang > memuat bait-bait berikut: > > Tatkala engkau dilahirkan, bumi bersinar terang, > Dan cakrawala benderang penuh cahayamu, > Sehingga kami dapat tembus memandang, > Segala syukur kupanjatkan atas sinar terang, > Cahaya dan jalan yang menunjuki itu.10 > > Ibn Katsîr menyebutkan fakta bahwa, menurut para sahabat, Nabi saw. memuji > namanya sendiri dan membacakan syair tentang dirinya di tengah-tengah Perang > Hunain untuk membangkitkan semangat para sahabatnya dan membuat takut > musuh-musuhnya. Pada hari itu beliau mengatakan: "Akulah Nabi saw! Ini bukan > kebohongan. Aku anak 'Abd al-Muthâlib." > > Nabi saw. merasa senang dengan orang-orang yang menyampaikan pujian > kepadanya, karena itu merupakan perintah Allah swt dan beliau pun suka > memberi mereka sesuatu yang Allah swt anugerahkan kepadanya. Allah swt sudah > pasti sangat menyenangi orang-orang yang berkumpul dan berusaha mengenali > dan mencintai Rasulullah saw. > > Menyanyi dan Membacakan Syair > > Ada keterangan kuat bahwa Nabi saw. menyuruh 'Â'isyah membiarkan dua gadis > menyanyi pada hari raya. Beliau berkata kepada Abû Bakr, "Biarkanlah mereka > menyanyi, karena setiap bangsa memiliki hari rayanya, dan hari ini adalah > hari raya kita." Ibn al-Qayyim berkomentar bahwa Nabi saw. juga mengizinkan > menyanyi pada perayaan perkawinan, dan membolehkan syair dibacakan > kepadanya.11 Beliau mendengarkan Anas dan para sahabatnya yang > memuji-mujinya dan membacakan syair-syair sambil menggali tanah sebelum > terjadinya Perang Khandak (Parit) yang terkenal itu; beliau mendengarkan > mereka yang mengatakan: "Kitalah orang-orang yang memberikan baiat (sumpah > setia) kepada Muhammad saw untuk berjihad sepanjang hayat." > > Ibn al-Qayyim juga menyebutkan bahwa 'Abd Allâh ibn Rawâhah membacakan > sebuah syair panjang yang memuji-muji Nabi saw. tatkala beliau memasuki > Mekah, yang setelah itu Nabi saw. berdoa untuknya. Nabi saw. berdoa agar > Allah swt memberi kekuatan kepada al-Hasan ibn Tsâbit dengan ruh suci > sehingga ia dapat mendukung Nabi saw. dengan syair-syairnya. Demikian pula, > Nabi saw. pernah menghadiahi Ka'b ibn Zuhayr sebuah jubah karena syair > pujiannya. Nabi saw. pernah meminta al-Syarîd ibn Suwayd al-Tsaqafî untuk > membacakan sebuah syair pujian sepanjang seratus bait yang digubah oleh > Umayyah ibn Abî al-Salt.12 Ibn al-Qayyim melanjutkan, "'Â'isyah selalu > membacakan syair-syair yang memujinya dan beliau pun merasa senang dengannya > itu." > > Umayyah ibn Abî al-Salt adalah seorang penyair jahiliah yang meninggal > sebelum Islam datang. Ia seorang saleh yang tidak lagi minum khamar ataupun > menyembah berhala.13 Bagian dari syair pujian yang mengiringi penguburan > Nabi saw. yang dibacakan oleh al-Hasan ibn Tsâbit, menyatakan: > > "Aku katakan, dan tak seorang pun dapat menemukan cela dari ucapanku > Kecuali orang yang telah kehilangan segala akal sehatnya: > Aku tidak akan pernah berhenti menyanjung dan memujinya > Karena dengan berbuat begitu, mungkin aku akan kekal di dalam surga > Bersama Sang Pilihan, yang dorongannya untuk itu aku harapkan. > Dan untuk mencapai hari itu, segala ikhtiarku kupertaruhkan.14 > > Membaca Alquran dan Melagukannya > > Ibn al-Qayyim mengatakan dalam Madârij al-Sâlikîn, Allah swt telah > membolehkan Nabi-Nya saw. membaca Alquran dengan cara dilagukan. Abû Mûsâ > al-Asy'arî ra suatu kali membaca Alquran dengan suara merdu, sementara Nabi > saw mendengarkannya. Setelah ia selesai, Nabi saw. mengucapkan selamat > kepadanya atas bacaannya dengan suara merdu dan berkata: "Engkau memiliki > suara yang indah." Beliau pun menyatakan tentang Abû Mûsâ al-Asy'arî bahwa > Allah swt telah memberinya satu dari mizmar (seruling) Dâwud. Kemudian Abû > Mûsâ ra berkata: "Ya Rasulullah saw, kalau saja aku tahu bahwa engkau > mendengarkanku, aku pasti akan membacakannya dengan suara yang jauh lebih > merdu dan lebih indah yang belum pernah engkau dengar sebelumnya." > > Ibn al-Qayyim juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, "Hiasilah > Alquran dengan suara-suaramu," dan "Barang siapa tidak melagukan Alquran > bukanlah dari golongan kita." Ibn al-Qayyim kemudian mengomentari: > > Mendapatkan kesenangan dengan suara indah adalah diperbolehkan, > sebagaimana mendapat kesenangan dengan pemandangan yang indah, seperti > gunung atau alam, atau dari wewangian, atau makanan lezat, selama sesuai > dengan syariah. Apabila mendengarkan suara yang indah diharamkan, maka > mencari kesenangan dengan semua hal-hal lainnya pun diharamkan juga. > > Nabi saw. Membolehkan Bermain Gendang Bila dengan Niat Baik > > Ibn 'Abbâd, seorang ahli hadis, memberikan fatwa berikut dalam > Rasâ'il-nya. Ia memulai dengan sebuah hadis, Seorang gadis datang kepada > Nabi saw. ketika beliau baru pulang dari salah satu peperangan. Gadis itu > berkata: "Ya Rasulullah saw, saya telah bersumpah kepada Allah swt bahwa > bila Allah swt mengirim engkau kembali dalam keadaan selamat, saya akan > memainkan gendang ini di dekatmu." Nabi saw. kemudian berkata: "Tunaikanlah > sumpahmu itu."15 > > Ibn 'Abbâd kemudian melanjutkan: > > Tidak syak lagi bahwa menabuh gendang merupakan sejenis hiburan, meskipun > demikian Nabi saw. menyuruh gadis tersebut untuk menunaikan sumpahnya. > Beliau melakukannya karena niatnya adalah untuk menyambut beliau karena > telah pulang dengan selamat, dan niatnya itu suatu niat baik, bukan niat > melakukan dosa atau membuang waktu. Karena itu, bila ada orang yang > merayakan saat-saat kelahiran Nabi saw. dengan cara yang baik dan dengan > niat yang baik seperti dengan membaca sirah Nabi dan menyampaikan > puji-pujian kepadanya, maka itu diperbolehkan. > > Nabi saw. Menaruh Perhatian Khusus pada Kelahiran Para Nabi > > Kesembilan, Nabi saw. dalam hadisnya memberikan perhatian khusus pada hari > dan tempat kelahiran nabi-nabi terdahulu. Sehubungan dengan keistimewaan > Jumat sebagai hari besar, Nabi saw. mengatakan, "Pada hari tersebut (yaitu > Jumat), Allah swt menciptakan Adam as." Dengan demikian, hari Jumat diberi > penekanan karena Allah swt menciptakan Adam as pada hari tersebut. Hari > tersebut diberi perhatian khusus karena hari tersebut menyaksikan penciptaan > seorang nabi dan bapak semua umat manusia. Bagaimana halnya dengan hari > ketika seorang nabi teragung dan manusia terbaik diciptakan? Nabi saw. > bersabda: "Sungguh Allah swt telah menciptakanku sebagai Penutup para Nabi > (khatam al-nabiyyîn) sementara Adam as di antara air dan tanah."16 > > Mengapa al-Bukhârî Memberi Perhatian Khusus pada Kematian di Hari Senin > > Imam al-Qasthallânî , dalam komentarnya atas al-Bukhârî, mengatakan: > Dalam bagian "al-Jana'aiz (Jenazah)", al- Bukhârî menamai satu bab utuh > "Mati pada Hari Senin". Di dalamnya ada sebuah hadis dari 'Â'isyah as yang > meriwayatkan pertanyaan dari ayahnya (Abû Bakr al-Shiddîq ra), "Pada hari > apakah Nabi saw. wafat?" Ia menjawab: "Hari Senin." Beliau bertanya: "Hari > apa sekarang?" Ia menjawab: "Ayah, sekarang hari Senin." Abû Bakr ra pun > kemudian mengangkat tangannya dan berkata: "Ya Allah swt aku memohon > kepadamu biarkanlah aku meninggal pada hari Senin agar bersamaan dengan hari > wafatnya Nabi saw." > > Imam al-Qasthallânî melanjutkan: > > Mengapa Abû Bakr ra memohon agar kematiannya terjadi pada hari Senin? > Karena dengan begitu, kematiannya akan bersamaan hari dengan hari wafatnya > Nabi saw., maksudnya untuk mendapatkan barakah dari hari tersebut Apakah > ada orang yang akan mencela permohonan Abû Bakr ra untuk meninggal pada hari > tersebut untuk mendapatkan barakah? Pada masa sekarang, mengapa ada > orang-orang yang mencela kegiatan merayakan dan memberi perhatian khusus > pada hari kelahiran Nabi saw. dengan maksud memperoleh keberkahan? > > Nabi saw. Memberi Perhatian pada Tempat Kelahiran Para Nabi > > Sebuah hadis yang dianggap sahih oleh Hafiz al-Haytsamî menyatakan bahwa, > pada malam Isra Mikraj, Nabi saw. disuruh oleh Jibril as untuk salat dua > rakaat di Bayt Lahm ( Bethlehem ). Jibril as bertanya kepadanya, "Tahukah > engkau di manakah engkau melakukan salat?" Ketika Nabi saw. bertanya > kepadanya "Di mana?" Ia memberi tahu beliau, "Engkau salat di tempat Isa > dilahirkan."17 > > Ijmak Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi saw. > > Kesepuluh, memperingati hari kelahiran Nabi saw. merupakan suatu tindakan > yang telah dan masih disepakati oleh para ulama di dunia Islam. Untuk alasan > inilah, hari tersebut dijadikan sebagai hari libur di semua negara muslim. > Allah swt tentu meridainya karena selaras dengan perkataan Ibn Mas'ûd, "Apa > saja yang dipandang baik oleh mayoritas muslimin, itu baik di sisi Allah > swt; dan apa saja yang dipandang buruk oleh mayoritas muslimin, itu buruk di > sisi Allah swt."18 > > Wa min Allah at Tawfiq > > wasalam, arief hamdani > www.mevlanasufi.blogspot.com > www.ariefdani.mutiply.com > > Dikutip dari: > Buku Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi saw > Oleh Mawlana Syekh Hisyam Kabbani qs > Penerbit: Serambi ( Tersedia di Gunung Agung ) > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ANDA INGIN BERUBAH ? Apakah Anda menderita fobia, insomnia, psikosomatis, mudah pusing, berdebar debar, sesak nafas, nyeri ulu hati, leher kaku, sakit mag, dsb. ? Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk, mania, kecanduan makan, kecanduan rokok, gangguan/penyimpangan seksual, tidur berlebihan, obsesif kompulsif, malas, menunda pekerjaan, lari dari masalah dsb. ? Apakah tiba tiba suka muncul perasaan negatif seperti gelisah, gampang marah, panik, gugup, bingung, lupa, sedih, sunyi dsb. yang semakin lama semakin buruk dan sulit dikendalikan ? Apakah Anda merasa semakin terpuruk dan berlarut larut, terperangkap dalam "penjara emosi" seperti : malu, fobia, cemas, stress, takut, malas, depresi, rendah diri, rasa bersalah, rasa gagal dsb. ? Apakah Anda mulai merasa frustasi, lelah, tidak berdaya, paling bernasib buruk, sial dan sangat menderita ? HUBUNGI KLINIK S.E.R.V.O, SEKARANG ! Hotline : (021) 554 6009, 5574 5555 Http://klinikservo.wordpress.com/ ------------- Ingin dikusi bersama rekan milis Taman Bintang lainnya ? Invite [EMAIL PROTECTED] melalui Yahoo Messenger (YM) Anda http://messenger.yahoo.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
