''Ass, Kak. Aku baru nyampe rumah.''
Tak sabar Yayah mengirimkan SMS itu begitu tiba kembali di Tanah Air.
Empat tahun lamanya ia menuntut ilmu di Al-Azhar University, Cairo.
Tiga tahun di antaranya dilaluinya dengan menyimpan kenangan dan rindu
kepada Qodari. Ya, lelaki asli Madura itu telah merebut hatinya sejak
saat pertama menyambut kedatangannya di pagi buta, di Bandara
Internasional Cairo. Bersama sejumlah senior lainnya, Qodari menjemput
rombongan mahasiswa baru Al-Azhar University asal Indonesia yang
merupakan peserta program beasiswa kerja sama Indonesia-Mesir.

Yayah segera saja menjadi bintang mahasiswa Al-Azhar angkatan tahun
tersebut. Posturnya tinggi, dengan hidung bangir, bibir merah delima
asli tanpa pulasan lipstik, dan kulit seputih kapas. Busana apa pun
yang dikenakan gadis berdarah Sunda itu hanya membuatnya makin
kelihatan cantik dan mempesona. Banyak kakak kelasnya yang berupaya
menampakkan perhatiannya. Terutama mahasiswa tahun keempat yang sudah
hampir lulus S-1 maupun mereka yang sedang menempuh jenjang pendidikan
Pasca Sarjana.

Hanya Qodari yang sama sekali tak pernah memberikan sinyal khusus
kepadanya. Meskipun ia tak pernah menolak jika Yayah memerlukan
bantuannya. Terkadang Yayah ingin bertanya kepada kakak kelasnya,
apakah Qodari sudah mempunyai calon istri. Namun ia merasa malu
sendiri. Baru datang ke Mesir kok udah bicara cinta? Setahun kemudian,
Qodari lulus S-1. Ia akan pulang ke Indonesia sebentar, lalu
melanjutkan pendidikan S-2 di Pakistan.

Yayah dan sejumlah teman mengantarnya ke bandara. Ada yang terasa
hilang di jiwanya saat sosok lelaki yang selama ini kerap mengisi
relung batinnya itu menghilang dari pandangan sesaat setelah melewati
imigrasi. Negeri Mesir yang indah kini terasa begitu hampa. Ketika
mobil yang ditumpanginya perlahan meninggalkan bandara, matanya
menatap jauh ke landasan, ke deretan burung-burung besi yang dengan
angkuhnya bertengger di sana. Kalau saja ia punya sayap, ingin rasanya
ia terbang dan hinggap di pesawat yang akan mengantar Qodari pulang ke
Indonesia.

Betapa kejamnya Kak Qodari. Ia pergi tanpa pernah memberikan tanda apa
pun kepadanya. Apakah ia begitu keras hatinya, sehingga tak mampu
menangkap sinyal perasaan yang dikirimkan oleh seorang gadis -- meski
itu hanya berupa wajah memerah dan sikap canggung manakala tanpa
sengaja berpapasan di perpustakaan kampus, Masjid Al-Azhar, dan Wisma
Nusantara yang merupakan pusat aktivitas mahasiswa Indonesia di Mesir.
Padahal, lulusan terbaik Al-Azhar University dengan predikat Mumtaz
itu dikenal selalu ramah dan simpatik kepada siapa pun.

Diam-diam ia pun menyesali dirinya. Kenapa ia tak berterus terang
saja, atau setidaknya mengirimkan sinyal yang lebih jelas, misalnya
berupa SMS yang berisi sindiran tentang cinta. Atau, mengapa ia tidak
menitipkan salam lewat salah seorang kakak kelasnya yang sama-sama
aktif di PPMI bersama Qodari?

''Yayah, kamu sakit?'' tanya Aisyah, melihat wajah Yayah yang agak
pucat. Buru-buru Yayah menggeleng. ''Ah, tidak. Hanya kurang tidur
saja,'' kilahnya. Sesaat sebelum pesawat Singapore Airlines yang akan
membawanya dari Cairo ke Jakarta bersiap-siap untuk lepas landas,
Qodari mengirimkan SMS: ''Bila kamu mau menjadi istriku, aku akan
menunggumu.' ' Membaca SMS tersebut Yayah rasanya ingin berteriak dan
melompat dari mobil. Namun ia berusaha menahan perasaannya sewajar
mungkin.

''Welcome home. Jadi, kapan aku boleh datang melamarmu? Wss.'' Balasan
dari Qodari selalu pendek dan to the point. Namun itu sudah lebih dari
cukup. ''Aku akan bicara dulu dengan Abah. Nanti aku kabari Kakak.''
Butuh waktu sebulan, baru KH Syamsuri, ulama terpandang di Bekasi,
mengizinkan Qodari datang melamar putri kesayangannya. ''Saya tunggu
Jumat pagi, pukul enam,'' kata KH Syamsuri kepada Qodari, lewat telepon.

Dua tahun di Pakistan, Qodari kembali ke Tanah Air dengan menggondol
gelar Master di bidang ekonomi syariah. Ia mengajar ekonomi syariah di
salah satu universitas ternama di Jakarta. Ia rajin menulis di media
massa, khususnya mengenai ekonomi Islam. Ia pun menjadi da'i dan sudah
mulai sering tampil di acara keislaman di televisi. Tepat pukul enam
kurang 10 menit, ia tiba di rumah Sang Kiai. Ulama kharismatis itu
sedang duduk di beranda sambil memegang tasbih dan melantunkan zikir.

''Assalaamu' alaikum.' '
KH Syamsuri menoleh. ''Wa'alaikumsalaam. ''
Qodari segera mencium tangan Sang Kiai. ''Saya Qodari.''
''Silakan duduk.'' Suaranya terdengar berwibawa. Sorot matanya tajam.
''Terima kasih, Pak Kiai.''
Yayah menyaksikan dari dalam rumah. Hatinya berdegup kencang melihat
wajah yang selalu dirindukannya itu.
''Sayang, mana tehnya?''
''Siap, Abah.''
Yayah segera mengantarkan minuman teh manis. Wajahnya terasa bersemu
merah ketika Qodari menatapnya. Tanpa sengaja ia menunduk.
''Duduk di sini, sayang,'' kata KH Syamsuri.
Dengan kikuk, Yayah duduk di samping ayahnya, berhadapan dengan
Qodari. ''Silakan jelaskan, apa tujuan kamu datang ke rumah saya,''
suara KH Syamsuri terdengar sangat tegas.
''Terima kasih, Pak Kiai. Saya berniat melamar Yayah untuk menjadi
istri saya.''
KH Syamsuri tidak langsung menjawab. Ia menatap pemuda di hadapannya,
seperti ingin mencari kepastian di matanya. Tanpa sadar, Qodari
mengangguk. Yayah merasa serba salah. Ia tidak berani mendonggakkan
wajahnya.
''Tadi malam kamu shalat Tahajud?'' tanya KH Syamsuri tiba-tiba.
''Ya, Pak Kiai.''
''Tadi pagi shalat Shubuh di mana?''
''Saya shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nur, Perumahan Permata
Timur, Kalimalang.' '
''Ya, sudah. Tiga bulan lagi kamu balik ke sini.''
Setelah itu, KH Syamsuri masuk ke dalam rumah. Qodari pun beranjak
pulang. Yayah ingin protes kepada abahnya. Namun ia tidak berani.
Abahnya sangat sayang kepadanya, apalagi semenjak ibunya meninggal
enam tahun lalu. Namun ia sangat tegas memegang prinsip.
Tiga bulan kemudian, Qodari datang lagi. Namun hal yang sama berulang.
Ia diminta datang lagi tiga bulan kemudian. Lagi-lagi, pertanyaannya
sama, yakni di mana dia shalat Tahajud dan shalat Shubuh.
Hari ini, untuk yang kelima kalinya Qodari datang ke rumah KH
Syamsuri. Berarti kurang lebih setahun lamanya ia melamar Yayah.
Pertanyaan KH Syamsuri tetap tidak berubah.
''Saya Tahajud dilanjutkan Shubuh berjamaah di Islamic Centre
Bekasi,'' sahut Qodari mantap.
''Selama setahun ini, berapa kali kamu tidak shalat Tahajud, dan
berapa kali kamu tidak shalat fardhu berjamaah.''
''Alhamdulillah, tidak satu kali pun, Pak Kiai.''
Tiba-tiba KH Syamsuri bangkit dari duduknya, dan memeluk Qodari. ''Aku
izinkan engkau menikahi putriku. Bimbinglah ia ke jalan yang diredhai
Allah, dunia dan akhirat,'' bisiknya perlahan namun tegas di telinga
Qodari.
Yayah menarik napas lega. Wajahnya tiba-tiba tersenyum sumringah.

KH Syamsuri melirik putrinya. ''Sayangku, calon suamimu berkhidmat di
bidang dakwah dan pendidikan. Bagaimana ia bisa menjadi seorang dai
yang istiqamah, kalau ia tidak menegakkan shalat Tahajud dan shalat
fardhu berjamaah? Ketahuilah, Tahajud merupakan pakaian para Nabi,
Rasul dan orang-orang saleh. Sedangkan shalat fardhu jamaah merupakan
ukuran kesungguhan iman seseorang. Kamu pasti pernah membaca hadits,
cukuplah untuk mengetahui seseorang itu golongan munafik atau bukan
dari shalat Shubuhnya, berjamaah atau tidak.''





Kirim email ke