Jawa Pos, Minggu, 30 Maret 2008 Tujuh Petualang Mistik di Alam Jin
Judul Buku : Sang Raja Jin; Menyingkap Rahasia Cincin Sulaiman Penulis : Irving Karchmar Penerbit : Kayla Pustaka (www.kaylapustaka.com) Cetakan : Februari 2008 Tebal : 295 Halaman Berbagi kisah dan kesan mendalam setelah memasuki mistisisme Islam selalu menarik untuk disimak. Tengoklah kisah petualangan Reshad Feild dalam The Last Barrier (Tabir Terakhir). Feild, seniman dan guru spiritual ini menceritakan "perjalanan rohani" berada di negeri para darwis dan bertemu dengan Syekh Hamid, seorang guru misterius yang mengajarkan "napas kehidupan". Beragam peristiwa dan pertemuan-pertemuan yang telah "digariskan" dijejaki Feild dalam menggapai ruang kesejatian. Ada pula kisah yang tak kalah menarik dari seorang keturunan Yahudanak korban Holocaustbernama Irving Karchmar. Karchmar adalah seorang penulis dan darwis dari Tarekat Sufi Nimatullahi. Berbeda dengan Feild, Karchmar tidak saja mengisahkan pengalaman dirinya. Ia menghadirkan keenam rekannya secara utuh dalam bukunya Master of the Jinn: A Sufi Novel. Novel ini telah diterjemahkan dan diedit dengan baik dalam bahasa Indonesia dengan judul Sang Raja Jin. Sang Raja Jin berkisah tentang tujuh petualang mistik yang dilatari sejarah tua peninggalan Nabi Sulaiman. Ketujuh petualang mistik ini menjadi "retakan" penting yang terus dirawat dalam benak Ishaq. Mereka adalah Ali, Rami, Rebecca, Kapten Simach, Profesor Freeman, Si Faqir, dan Ishaq. Dalam novel ini Ishaq adalah seorang juru tulis yang terus mendokumentasikan segala peristiwa yang terjadi. Ishaq tak lain adalah Karchmar itu sendiri. Latar kisah kenabian Sulaiman menjadi magnet yang misterius dan mengundang rasa penasaran. Kisah Raja Sulaiman memang menyisakan misteri berkepanjangan. Sampai saat ini harta karun peninggalan Nabi Sulaiman masih dipertanyakan keberadaannya. Raja penguasa angin, dunia binatang, jin, ilmu, dunia jin, ataupun kisah Ratu Sheba yang melingkupi adalah kisah yang melegenda. Konflik cerita bermula saat Kapten Simach menemukan silinder yang terbuat dari emas berisi gulungan papirus bertuliskan huruf alfabet Yahudi kuno. Temuan yang membuatnya gelisah ini memaksa Profesor Freeman turut terlibat. Freeman mencoba menyibak misteri ini lewat keahlian arkeologi purbanya. Namun, rasionalitas ilmuwan ini tak sanggup untuk menerjemahkan teka-teki ini, hingga menyeret ketujuh orang ini ke "jalan badai". Demikian sebutan Irving untuk menunjuk sebagai jalan nyata yang harus ditempuh dan penuh ujian. Sesungguhnya, petualangan berat yang menyeret ketujuh insan ini ke kota purba yang sejaman dengan Sulaiman sarat kejutan, ketegangan, dan hikmah yang dalam. Si Faqir, sang pemandu misterius, ternyata adalah Ornias, jin-bertaring pencuri permata semasa Sulaiman. Jin yang nekat menyamar sebagai seorang manusia. Inilah kejutan Karchmar pada pembaca, sekaligus menyisakan pertanyaan: mungkinkah sosok jin bisa menjelma menjadi manusia dan memandunya menuju "jalan cinta". Kehadiran Syekh Haadi sebagai wali Qutb beserta ketujuh muridnya memberikan cahaya terang di dunia jinKota Jinnistan dan reruntuhan Tadmor. Dunia gelap penuh keputusasaan tempat Baalzeboul, Raja Jin berpangku tangan, muncul setitik harapan, yakni ajakan bertobat lewat "jalan cinta". Jalan ini bukan hanya milik manusia saja, namun semua makhluk-Nya, termasuk jin (hlm. 261). Barangkali bagi pembaca awam yang kurang memahami dunia tasawuf akan sedikit terbantu mengenali tradisi ini lewat deskripsi penulis; baik pada lembaran awal ataupun dalam glosari. Novel yang dimulai dari halaman sepuluh ini disisipi taburan puisi ataupun kutipan-kutipan bijak dari para sufi, filsuf, ataupun ayat-ayat suci. Dunia para darwis atau sufi bisa Anda tangkap dari latar penggambaran Karchmar. Lingkaran persaudaraan mistik kentara nampak pada lima lembar awal novel ini. Tanpa sebuah basa-basi panjang, Karchmar segera mengajak pembaca mengenali dunia para darwis. Novel ini memiliki prolog pendek dan mengundang rasa penasaran yang mendalam: misteri. Novel ini tak dikhususkan bagi pencinta sufisme. Pesan-pesan universal tentang "jalan cinta" adalah benang merah yang ingin sampaikan Irving kepada siapa pun. Novel sufistik ini menawarkan sejarah kenabian Sulaiman dan sastra yang dijahit dalam latar nuansa modern. Pendeknya ada tiga kata untuk menggambarkan novel ini, yakni fantasi, mistisisme, dan petualangan yang menegangkan. Pesan-pesan universal juga bisa menggugah kehidupan pembaca. Lepas dari semua itu, kabarnya novel ini berasal dari pengalaman pribadi Karchmar sebagai seorang darwis yang "nyantri" dalam tarekat sufi Nimatullahi. Sang Raja Jin mengingatkan pada kisah The Lord of The Rings karya J.R.R. Toelkien tentang cincin sakti yang diperebutkan. Cincin yang memiliki kekuatan dan dapat menguasai dunia dan umat manusia. Demikian pula pada cincin Nabi Sulaiman. Cincin putra Nabi Daud ini diyakini bisa menguasai dunia jin dan menggenggam dunia. Hanya kematian-lah yang tak bisa dijamah cincin tersebut. Dua novel lainnya seperti Alchemist karya Paulo Coelho atau Celestine Prophecy juga mengingatkan saat menyimak Sang Raja Jin. Alchemist yang berlatar kisah mistik gurun dan The Celestine Prophecy tentang pencarian manuskrip kearifan mistik di Amerika Selatan. Ada pula yang menyandingkan novel ini dengan The da Vinci Code, karena sarat teka-teki. (*) *) Adi Baskoro, pembaca buku, tinggal di Jakarta
