Serangan Fajar di Kampus

Sebuah pesan pendek masuk telepon seluler Novi, Jumat malam lalu. Gw ga bs
pulang, nginep di kampus. Pesan itu datang dari adiknya, Yogi, mahasiswa
Jurusan Sastra Inggris, Universitas Nasional (Unas), angkatan 2005. Yogi tak
bisa pulang ke Tanah Kusir setelah kuliah malam lantaran Jalan Sawo Manila
di depan kampus itu ditutup karena aksi keprihatinan atas kenaikan harga
BBM.

Paginya Novi baru tahu, ada kerusuhan di kampus adiknya. Yogi ditahan di
Kepolisian Resor Jakarta Selatan. "Saya ragu dia ikut demo. Dia penakut,"
kata Novi. Kepala Yogi bocor. Pipinya sobek.

Menurut Adam, mahasiswa Jurusan Ilmu Politik angkatan 2005, aksi dilakukan
sejak pukul 20.00. Mahasiswa membakar ban di jalanan. Situasi memanas.
Terjadi aksi saling dorong dan lempar batu antara petugas dari Kepolisian
Sektor Pasar Minggu dan mahasiswa. "Polisi kalah dan balik kanan," kata
Adam.

Paginya, pukul 04.30 aparat dengan jumlah lebih banyak datang. Terjadi aksi
saling lempar botol dan batu. "Ada juga bom molotov," kata Adam. Aksi
mencekam ini bertahan lebih dari satu jam di depan gerbang Unas. Polisi lalu
menembakkan gas air mata ke gerbang kampus. Mahasiswa terpaksa masuk ke
kampus.

Menurut Kepala Bagian Operasi Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar
Polisi Elbin Darwin, polisi sejak awal dilempari botol dan batu. "Ada
sekitar 100 krat botol," kata dia.

Pukul 06.00 polisi masuk kampus. "Masuk juga dua truk polisi," kata Adam.
Polisi menembakkan gas air mata. Aksi saling lempar masih terjadi sekitar 10
menit. Mahasiswa terpukul dan mundur. Polisi lalu menyisir kampus. "Banyak
yang dihajar, kata Adam. "Yang sudah menyerah tetap ditendang."

Polisi, kata Adam, merusak gedung dan fasilitas kampus. Kaca jendela dan
pintu dihancurkan. Duit kas koperasi mahasiswa dan dagangannya dijarah,
begitu juga poliklinik. Mereka, kata Adam, menciduk secara sembarangan.
"Termasuk yang baru datang mau kuliah atau yang baru bangun."

Adam sendiri lari ke gedung Blok III, naik ke lantai III dan sembunyi di
bawah meja. Pukul 07.00 penyisiran selesai. Mahasiswa diangkut ke Polres
Jakarta Selatan dengan empat truk polisi dan satu Metromini. Belasan
mahasiswa bocor kepalanya, kaki diperban, dan berjalan pincang.

Akibat penyerangan itu, Abdul Malik, humas Unas, memperkirakan kerugian
mencapai ratusan juta rupiah. "Kami masih mendata detailnya," kata dia
kemarin.

Hingga kini, polisi masih menahan 31 mahasiswa di lantai III dan IV Markas
Polres. Status mereka tersangka. "Jumlahnya simpang siur, ada yang bilang
44, ada juga 55 mahasiswa," kata Budi Setyawan, pengacara dari LBH Jakarta.

Yogi, adik Novi masih ditahan. Adiknya disebut positif mengkonsumsi ganja.
"Sebelumnya dibilang negatif," katanya. Dengan jaket hitam adiknya, Novi
menyeka air mata. *Muhammad Nur Rochmi *

**

*Sumber : Tempo*


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke