Harian Bisnis Indonesia/Kamis, 29/05/2008 03:15 WIB


Hemat energi & kebijakan infrastruktur transportasi



Oleh Firdaus Cahyadi




Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia



Sebuah portal berita ternama di Indonesia pada 19 Mei 2008 menurunkan
tulisan mengenai jembatan Selat Sunda yang akan menjadi jembatan terpanjang
di dunia. Dalam berita itu juga diungkapkan bahwa Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) sendiri yang akan meresmikan jembatan tersebut pada 2009.



Sepintas tidak ada hal yang perlu kita kritisi dari berita yang diturunkan
oleh portal tersebut. Persoalan baru muncul ketika kita mencoba mengaitkan
berita  itu dengan seruan hemat energi yang pernah diucapkan oleh Presiden
SBY pada awal Mei 2008.



Pada awal bulan tersebut, untuk kesekian kalinya Presiden SBY menyerukan
agar masyarakat dan pejabat pemerintah melakukan penghematan energi. Bahkan
untuk melaksanakan seruan itu, SBY mengancam akan memotong fasilitas yang
diterima pejabat pemerintah. Seruan itu terkait dengan semakin melambungnya
harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar internasional.



Namun, seruan hemat energi itu seakan dipatahkan rencana peresmian jembatan
Selat Sunda oleh Presiden SBY. Bagaimana tidak, pembangunan jembatan yang
menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra itu dipastikan akan berdampak terhadap
meningkatnya jumlah pemakaian kendaraan bermotor pribadi, khususnya di
kawasan Jawa dan Sumatra. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa sektor
transportasilah yang paling rakus mengonsumsi BBM.



Data dari Departemen Perhubungan menyebutkan konsumsi BBM sektor
transportasi setiap tahun mencapai 31 juta kiloliter. Jumlah tersebut 50%
dari total kebutuhan nasional sebesar 60 juta kiloliter per tahun. Data
menyebutkan bahwa sektor transportasi mengonsumsi solar 14 juta kiloliter
per tahun. Jumlah tersebut dinilai sangat besar dibandingkan dengan sektor
lain.



Peningkatan laju pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi yang dipacu oleh
maraknya pembangunan infrastruktur jalan raya ditengarai menjadi penyebab
dari pemborosan BBM dari sektor transportasi. Setidaknya pengalaman di dalam
dan luar negeri menunjukkan hal itu. Pengalaman di California menunjukkan
bahwa setiap 1% peningkatan panjang jalan raya dalam setiap mil akan
menghasilkan peningkatan jumlah kendaraan yang lewat 0,9% dalam waktu lima
tahun (Hanson, 1995).



Sementara itu, pengalaman di Jakarta juga menunjukkan bahwa dalam kurun
waktu 1999-2003 saja, setiap ada pertambahan panjang jalan sepanjang 1
kilometer di kota ini, akan selalu diikuti dengan pertambahan jumlah
kendaraan bermotor sebanyak 1.923 unit mobil pribadi dan 3.000 kendaraan
bermotor roda dua (Kajian Jaringan Jalan Tol DKI Jakarta, PT Pembangunan
Jaya, Mei 2005).



Pemborosan energi



Pemerintah selalu berdalih bahwa pembangunan infrastruktur jalan raya
termasuk jembatan Selat Sunda untuk memudahkan distribusi barang. Namun,
pertanyaanya adalah mengapa pilihan distribusinya harus berbasiskan jalan
raya yang akan berdampak pada kenaikan penggunaan kendaraan bermotor dan
berujung pada pemborosan energi?



Mengapa pilihannya tidak pada membangun jalur kereta api yang lebih hemat
energi karena dapat memindahkan orang dan barang secara lebih banyak dalam
waktu yang lebih singkat daripada menggunakan kendaraan bermotor melalui
jalan raya?



Ketidakkonsistenan seruan hemat energi Presiden SBY semakin tampak dari
serangkaian proyek pembangunan infrastruktur transportasi pemerintah yang
menekankan pada pembangunan jalan raya di Pulau Jawa. Sebut saja rencana
pembangunan enam jalan tol dalam Kota Jakarta dan jalan tol trans-Jawa.



Meskipun Pulau Jawa dan Kota Jakarta sudah sangat padat dengan kendaraan
bermotor, namun tak menghalangi pemerintah untuk tetap memfasilitasi
pertumbuhannya. Betapa tidak, di Provinsi Jawa Tengah misalnya, jika pada
2000 jumlah kendaraan mencapai dua juta kendaraan, maka pada 2004 jumlah itu
sudah meningkat menjadi 3,5 juta kendaraan.



Sementara di Jawa Timur, berdasarkan data di UPT Dispenda Jatim, jumlah
angka kendaraan bermotor (roda dua dan empat) pada September 2004 mencapai
108.078 unit. Rinciannya, 99.065 unit roda dua dan 9.013 unit roda empat.



Kondisi itu mengalami perubahan yang cukup besar pada periode September
2005. Pada periode yang sama 2005, jumlah kendaraan bermotor mengalami
kenaikan 18.204 unit (18%) per tahun. Persisnya, jumlah total kendaraan
menjadi 126.282 unit. Dengan rincian, 116.486 roda dua dan 9.796 roda empat.



Di Jakarta kondisinya lebih parah lagi. Jumlah kendaraan bermotor di Ibu
Kota pada 2007 mencapai 5,7 juta unit. Adapun, penambahan kendaraan mencapai
1.127 unit per hari, 238 unit mobil dan 891 unit motor. Belum lagi
penambahan kendaraan bermotor dari Depok, Tangerang, dan Bekasi yang
mencapai 2.027 kendaraan per hari.



Paradigma lama



Dari uraian di atas tampak jelas bahwa kebijakan pembangunan infrastruktur
transportasi rezim SBY tidak selaras dengan seruan Presiden sendiri mengenai
hemat energi. Kebijakan infrastruktur transportasi rezim SBY tidak berubah
dari paradigma lama yang menitikberatkan pada pembangunan jalan raya.



Padahal, jika seruan hemat energi dari Presiden SBY benar-benar serius
hendak dijalankan, maka hal pertama yang harus dilakukannya adalah melakukan
reformasi kebijakan infrastruktur transportasi. Hemat energi mengharuskan
pembangunan infrastruktur transportasi diarahkan kepada pengembangan
fasilitas transportasi publik dan bukan justru memfasilitasi pertumbuhan
kendaraan bermotor pribadi melalui pembangunan jalan raya baru.



Kebijakan infrastruktur transportasi yang berbasiskan jalan raya jelas
bertentangan dengan keinginan untuk melakukan gerakan hemat energi.
Sebaliknya dari sisi industri otomotif hal itu justru menguntungkan.



Nah, beranikah Presiden SBY menabrak kepentingan industri otomotif dengan
memformulasikan seruan hemat energinya ke dalam sebuah kebijakan pembangunan
infrastruktur yang berpihak pada transportasi



publik?




Oleh Firdaus Cahyadi

Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia


bisnis.com

URL : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id60786.html


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke