Sinetron Melecehkan Dunia Pendidikan
Senin, 9 Juni 2008 | 01:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Tayangan sinetron di televisi nasional yang ber-setting
sekolah dan menggunakan seragam sekolah justru telah melecehkan dunia
pendidikan dan memberi contoh tidak baik dan tidak mendidik. Untuk itu,
pemerintah harus mengambil tindakan tegas terhadap tindakan eksploitasi
dunia pendidikan secara tak benar itu.

Depdiknas seharusnya turun tangan, mengeluarkan larangan untuk hal-hal
tertentu kepada produser, agar tayangan untuk anak dan remaja tak
kebablasan.

Demikian benang merah perbincangan Kompas dengan pakar pendidikan Hasrul
Piliang dari Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang), pengamat masalah
pendidikan anak dan Redaktur Majalah Kritis! Media untuk Anak Ike
Utaminingtyas, dan Direktur Pendidikan Tenaga Kependidikan Pendidikan
Nonformal Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK)
Depdiknas Erman Syamsuddin, yang dihubungi Kamis dan Jumat (6/6) di Padang
dan Jakarta.

Hasrul mengatakan, "Negara harus bertindak tegas. Tak cukup hanya pernyataan
'memprihatinkan dan/atau menyesalkan'. Ada etika-etika yang harus dipenuhi."

"Pelecehan seksual antarpelajar seolah-olah sesuatu yang wajar. Mereka
berdalih sinetron adalah potret remaja dewasa ini. Padahal, tak ada dunia
pendidikan yang seperti digambarkan di sinetron-sinetron," katanya.

Ike menegaskan, dunia sekolah sering digambarkan sebagai ajang berpacaran
dan guru sering dilecehkan seolah-olah hanya bisa mengatakan anak didiknya
bodoh, tolol, dan kata-kata lain yang tak pantas diucapkan pendidik.

"Sekolah adalah tempat menuntut ilmu dan guru harus menularkan nilai-nilai
positif, menjadi orang yang digugu dan ditiru (diikuti kata-katanya dan
diteladani)," ujar Ike.

Menurut dia, boleh-boleh saja sinetron memakai atribut sekolah, tetapi harus
memilah, patut atau tidak patut, dan memikirkan dampak negatifnya.
"Depdiknas harus mencermati, mana yang boleh dan yang tidak boleh
ditayangkan," ujarnya.

Erman mendesak pihak pengelola stasiun televisi menyeleksi ketat tayangan,
terutama sinetron dengan sasaran anak-anak dan remaja, apakah ada unsur
pendidikan atau tidak, berdampak positif atau tidak terhadap motivasi
belajar dan kreativitas.

"Tayangan sinetron bukannya mendidik pemirsa (anak-anak dan remaja), tetapi
cenderung merusak dan memberi contoh tak patut dicontoh," ujarnya.

Agar bermanfaat bagi dunia pendidikan, sinetron harus berdasar komitmen,
misalnya antara pihak sekolah dan produser. Kalau perlu, juga dengan
gubernur/wali kota/bupati, sesuai dengan otonomi daerah. (NAL)



Sumber : Kompas


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke