http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/09/index.html

*SUARA PEMBARUAN DAILY
------------------------------
* Siswa Miskin Makin Tak Tersentuh

*[image: SP/Berthold Sinaulan - HAR Tilaar] *

*Fenomena maraknya berbagai sekolah dengan embel-embel sekolah unggulan,
plus, atau SBI sebenarnya telah menciptakan dikotomi pendidikan nasional.
Hal ini berarti pendidikan juga menciptakan jurang pendidikan antara
anak-anak dari golongan ekonomi kuat dan dari golongan ekonomi lemah
(miskin). *

*"Munculnya sekolah-sekolah internasional mulai dari TK sampai SMA dengan
biaya yang begitu mahal, telah menutup akses orang miskin mendapatkan
pendidikan, meskipun secara konstitusi setiap warga negara berhak
mendapatkan pendidikan. Ini bertentangan dengan moral Pancasila," kata pakar
pendidikan HAR Tilaar, saat dihubungi SP, Sabtu (31/5). *

*Selain itu, katanya, sekolah-sekolah semacam itu cenderung membangun suatu
budaya baru, yakni budaya elit yang kurang peka terhadap realitas sosial di
dalam masyarakat. *

*Tilaar mengusulkan, SBI dan sejenisnya menyediakan 50% bangku yang
diperuntukkan bagi anak-anak dari golongan rakyat miskin yang terpilih dan
mempunyai potensi inteligensi yang disyaratkan sekolah bersangkutan. *

**

*Melunturkan Citra *

*Pandangan serupa disampaikan pakar pendidikan dari Universitas Katolik Atma
Jaya Jakarta, Marcellino. Dia mengatakan, SBI mampu melunturkan citra dan
konsep pendidikan nasional. Karena itu, pemerintah perlu mencermati fenomena
mulai berkembangnya SBI. *

*"Pemerintah harus mencermati makin banyaknya sekolah-sekolah yang bertaraf
dan berstandar internasional. Jika pemerintah tidak memiliki regulasi yang
ketat maka konsep pendidikan nasional seperti yang diamanatkan dalam
konstitusi akan pudar," katanya. *

*Marcellino mempertanyakan standar internasional yang kerap digunakan dalam
SBI. "Standar internasional apa yang diterapkan? Apakah standar Amerika,
Inggris, Singapura, India, atau apa? Apakah media komunikasinya yang
menggunakan bahasa asing sementara kurikulumnya ternyata biasa saja,"
katanya. *

*Dikatakan, saat ini banyak sekolah mengklaim sebagai SBI. Namun
kenyataannya, kurikulumnya biasa saja atau bahkan, kurikulum internasional,
namun pengajarnya tidak mampu menguasai bahasa asing. Artinya, pengertian
internasional itu kabur," katanya. *

*Dia menerangkan, jika pemerintah tidak membuat regulasi yang ketat, maka
banyak sekolah nasional yang tergerus oleh SBI. *

*Padahal, lanjutnya, jika SBI makin marak berarti akan terjadi migrasi
besar-besaran pengajar asing yang masuk ke Indonesia. "Kalau sudah begitu,
apakah pemerintah sudah memikirkan agenda-agenda terselubung yang juga
dibawa para pengajar asing tersebut. Selain itu, lazimnya para pengajar
asing itu mengaku lebih berkualitas dibandingkan dengan para guru kita,"
katanya. *

*Dia menambahkan, pemerintah mesti memperketat masuknya investasi SBI ke
Indonesia. Karena, SBI ini diprediksi akan mampu "mematikan" keberlangsungan
hidup sekolah-sekolah nasional. "Era globalisasi memang tidak bisa dicegah.
Namun, era itu bisa kita bendung dengan nilai-nilai kebangsaan yang kokoh.
Indoktrinasi paling efektif terjadi pada pendidikan anak usia dini. Kalau
jenjang TK saja sudah dengan pengajar asing. Apakah ada jaminan, nilai-nilai
luhur Pancasila bisa terbangun dengan kurikulum internasional dan apakah
pemerintah memberikan jaminan akan memantau perkembangan itu," katanya. *

*Karena itu, katanya, SBI seharusnya bergabung dengan sekolah nasional.
"Alangkah bijaksana jika pemerintah mau lebih dulu memprioritaskan
peningkatan mutu dan kualitas sekolah-sekolah nasional. Karena itu,
pemerintah harus melakukan kajian secara komprehensif mengenai SBI sebelum
telanjur menyuburkannya," katanya. *

*Sebagai unsur keragaman sistem sosial, dikotomi sebenarnya sudah ada sejak
lama dan sah-sah saja dibuat. Masalah menjadi lain saat kebijakan pemerintah
di bidang pendidikan cenderung memberi ruang gerak sebagian kecil masyarakat
kelas menengah ke atas untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin,
mengabaikan kepentingan serta hak orang- orang miskin yang kian
terpinggirkan oleh ketidakberdayaannya. *

*Keadilan menjadi barang yang harus diperjuangkan oleh sebagian besar
masyarakat miskin. Fenomena ini dengan mudah bisa dilihat. Kenyataan kini,
sekolah-sekolah bermutu, unggul, favorit, dan kelas "akselerasi" dihuni
anak-anak dari keluarga kaya yang mampu berinvestasi secara ekonomis, dan
nyaris tidak ada akses bagi anak-anak dari keluarga miskin. *

*Padahal, rendahnya kemampuan akademik anak-anak miskin, tidak terlepas dari
faktor rendahnya kualitas hidup mereka. Kalaupun ada sebagian kecil
anak-anak keluarga kurang beruntung yang mampu berkompetisi, mereka
mendapatkannya dengan usaha atau kerja keras berlipat ganda dibandingkan
usaha yang dikeluarkan anak-anak keluarga golongan mampu. *

*Di tengah dikotomi pendidikan yang umumnya tidak memberi ruang gerak bagi
yang lemah, kebijakan pemerintah yang hanya menggunakan azas kesamaan hak
dan kewajiban, belumlah cukup. Dalam realita seperti ini, berbagai kebijakan
pendidikan seharusnya selalu berpihak kepada masyarakat tidak berdaya dan
terpinggirkan yang menjadi mayoritas penghuni Republik ini. *

*Bagaimana dengan uang masuk yang di nilai mahal dan berbagai pungutan?
Mendiknas mengatakan, adalah sesuatu yang wajar jika SBI mematok tarif
mahal. "Fasilitas SBI kan lengkap. Kalau pungutan di SBI, saya biarkan
saja," kata Mendiknas sewaktu mengadakan dialog dengan para pimpinan media
cetak dan elektronik, di Jakarta, beberapa waktu lalu. *

*Kebijakan Mendiknas tersebut, tentu saja makin menciptakan jurang bagi
siswa dari keluarga miskin. Kalau siswanya pintar, tetapi keluarganya tidak
mampu diabaikan, lalu sampai kapan mereka bisa menikmati pendidikan
berkualitas?* *

------------------------------
*Last modified: 9/6/08*


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke