Catatan Reporter; Negara kepulauan Import Ikan..?, Negara Agraris Import Beras...? OH Indonesiaku
Nelayan Mulai Jual Kapal Impor Ikan dari Malaysia Mengkhawatirkan Kamis, 12 Juni 2008 | 00:16 WIB Medan, Kompas - Sejumlah nelayan di Belawan mulai menjual kapalnya menyusul tekanan ekonomi yang kuat akhir-akhir ini. Kondisi nelayan yang terpuruk semakin menjadi pascakenaikan harga BBM. Mereka juga mengkhawatirkan mulai masuknya ikan impor dari Malaysia ke Belawan. Anto (48), seorang anak buah kapal yang ditemui Kompas, Rabu (11/6) di Gudang Arang, Belawan I, mengatakan, kapal biasa dijual Rp 8 juta. "Itu contohnya. Kapal itu mau dijual," tunjuk Anto ke sebuah kapal kayu berwarna hijau yang bersandar di kawasan Gudang Arang. Ketua Sarikat Masyarakat Pesisir Medan Syafruddin (40) yang ditemui di Gudang Arang, Belawan I, mengatakan, sekitar lima nelayan di kawasan Belawan I sudah menawarkan kapalnya. Problem utamanya karena ekonomi yang semakin terpuruk, entah terlilit utang atau semakin tidak bisa bergerak pascakenaikan harga BBM. Jika tidak sangat terdesak, nelayan tak akan menjual alat produksinya. Mereka juga harus berpikir ulang ketika berganti kerja di darat. "Biasanya lalu menjadi ABK saja," kata Syafruddin yang pernah menjadi eksportir ikan itu. Menurut Syafruddin, kenaikan harga bahan bakar minyak hanya satu faktor yang membuat nelayan Belawan semakin terpuruk. Masalah utama nelayan adalah semakin berkurangnya ikan di kawasan perairan Selat Malaka di Wilayah Indonesia karena rusaknya rumpon atau tempat berkembang biak ikan. Andak Ruslan (58), nelayan warga Belawan I, mengatakan, nelayan di Belawan I sudah membuat enam titik rumpon seberat masing-masing 20 ton di kawasan Langkat. "Namun, idealnya di Pantai Timur dibuat sedikitnya 5.000 rumpon baru," kata Andak. Rumpon, kata Andak, akan menghemat bahan bakar minyak sampai 50 persen. Selama ini nelayan perlu melaut sejauh 80 mil hingga perbatasan Malaysia untuk mendapat ikan. Dengan rumpon, tak perlu jauh-jauh melaut dan area yang dituju sudah jelas. Ini yang sudah dilakukan Malaysia yang membangun 7.000 titik rumpon di Selat Malaka. "Maka, ikan-ikan Indonesia pergi ke sana," tutur Andak. Ikan gembung dan selayar yang banyak di Malaysia kini bahkan sudah masuk ke Indonesia. (WSI) Sumber : Kompas -- ********************************** Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist ************************************ [Non-text portions of this message have been removed]
