*Catatan Reporter: Aduh Penjahat dan Pejabat Jadi Satu... Gimana
Indonesia... OH biyung gimana Indonesia ku ini... Gimana mau maju ya... Ayo
satu kan tekad Berantas Korupsi.... Pejabat=Penjahahat *

Skenario Selamatkan Ayin
Jamdatun Mengarahkan Alibi

Kamis, 12 Juni 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Kejaksaan Agung merancang skenario untuk menyelamatkan
Artalyta Suryani alias Ayin dengan cara menangkap Artalyta terlebih dahulu
sebelum Komisi Pemberantasan Korupsi menangkapnya. Artalyta diminta untuk
mengarang cerita agar uang yang diberikan kepada jaksa Urip Tri Gunawan
tidak ada kaitannya dengan perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang
ditangani kejaksaan.

Skenario ini terungkap dalam percakapan telepon antara Jaksa Agung Muda
Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejagung Untung Udji Santoso dan
Artalyta Suryani beberapa menit setelah jaksa Urip ditangkap Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), 2 Maret 2008.

Percakapan telepon antara Untung dan Artalyta diperdengarkan dalam sidang di
Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (11/6).

Percakapan telepon antara Untung dan Artalyta ini tercatat pada tanggal 2
Maret 2008 pukul 17.48.

U (Untung): Halo?

A (Artalyta): Halo, Mas, ini Ayin, Mas (suara Artalyta terdengar panik).

U: Oh, ada apa, Dik?

A: Urip, Mas. Saya pakai nomor lain sekarang. Urip, Mas, tertangkap KPK.

U: Hah?

A: Dia mau eksekusi, biasa, tanda terima kasih.

U: Perkara apa?

A: Urip kita, Mas. Tolong, Mas, telepon Antasari untuk mengamankan. Saya
sudah suruh Joko untuk telepon Ferry.

Untung Udji kemudian menyarankan agar Artalyta mengatakan tidak ada
kaitannya dengan uang yang di tangan Urip. "Bilang aja tidak ada kaitannya.
Gratifikasi, kalau belum satu bulan tidak lapor, tidak apa-apa. Wis, ngomong
wae, gak ada kaitan apa-apa," kata Untung.

Artalyta kemudian meminta Untung untuk menelepon Antasari. Untung kemudian
berkata, "Ya wis, aku telepon dulu."

Beberapa menit kemudian Untung dan Artalyta kembali berkomunikasi.

U: Halo.

A: Halo, Mas. Tadi Salim sudah telepon. (Terdengar Artalyta bercakap-cakap
dengan seseorang di rumahnya, "Siapa ada di depan? Pantau siapa yang
menerima.")

A: Halo, Mas.

U: Bilang aja tidak ada keterkaitan dengan BLBI.

A: Si U (Urip) ngomong gitu gak?

U: Bilang aja dari Agus. Sebut saja anaknya sakit. Emangnya you kasih
berapa?

A: Enam, Mas.

U: Berapa?

A: 660.000 dollar, Mas.

U: Oh, itu 4 miliar?

A: 6 miliar, Mas.

U: Laa Ilahailallah. (Untung terdengar kaget)

A: Jadi, bagaimana ini, Mas, untuk menyelamatkan semua, orang-orang kita?

U: Yah enggak iso ngelak kalau 6 miliar. Gila!

A: Jadi, bagaimana?

U: Tak pikir enam atus yuto (Rp 600 juta) gitu.

A: Enggak, itu banyak. Jadi, gimana?

U: Itu untuk siapa?

A: Ah, ya sudahlah. Sekarang kita cari jalan keluarnya gimana?

U: Aduh biyung, gimana ini. Sek, sek, kalau kayak gitu, susah itu.

A: Aku bilang, kan, ajudanku. Terus?

U: Ajudan kok duite sakmono gede, soko ngendi? Ngarang wae. (Ajudan kok
uangnya segitu besar, dari mana? Ngarang saja) Yo wis, gimana caranya
hubungi Antasari.

(Untung mengatakan telepon Antasari mati)

A: Mati? Dicari dong, Mas. Suruh nyari dong, Ferry disuruh nyari.

U: Ferry juga gak ngangkat. (Artalyta terdengar bingung. Untung menyuruh
Artalyta mencari Antasari, tetapi Artalyta tidak tahu rumah Antasari)

A: Jadi, gimana ini? Ini, kan, mesti ngamanin bos-bos kita semua.

U: Minggu-minggu begini, kok, aneh-aneh. Kacau ini, kacau.

Skenario selamatkan Ayin

Beberapa menit kemudian, Untung Udji Santoso kembali menelepon Artalyta.

U: Halo, Yin. Jadi, begini, tadi kita sudah koordinasi dengan Wisnu, you di
rumah saja. Nanti you ditangkap kejaksaan.

A: Hah? (Artalyta terdengar bingung)

U: Kamu nanti ditangkep oleh jekso (jaksa). Mau diskenariokan begitu, lho.

A: (Artalyta masih terdengar bingung) Hah? Kenapa, Mas, kenapa?

U: Mau diskenariokan begitu. Awakmu neng endi iki? (Kamu di mana sekarang)

A: Enggak, udah aman, ini nomor lain. Aku di rumah, di dalam rumah.

U: Jadi, biar aja nanti kamu yang ambil (menangkap) kejaksaan. Si Urip
dicekel (ditangkap), awakmu di kejaksaan (kamu ditangkap kejaksaan). Lho ini
kok sudah penyelesaian begini, kok ada uang begini, maksudnya begini apa?
Gitu lho maksudnya.

A: Kan nanti saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan BLBI dan
saya gak ada....

U: Jangan ngomong begitu. Biar saya saja yang mancing. Bilang saja ada
hubungan dagang sama dia.

*Jawaban Hendarman*

Jaksa Agung Hendarman Supandji yang dimintai konfirmasi soal percakapan
telepon tersebut, khususnya terkait rencana Kejagung menangkap Artalyta
pascapenangkapan Urip, menyatakan tidak pernah memerintahkan itu.

Dari laporan yang ia terima, lanjutnya, rencana itu mengemuka karena ada
rentang waktu antara penangkapan Urip dan Artalyta. "Karena dua jam Artalyta
enggak ditangkap. Kok, Urip ditangkap, Artalyta belum?" ujar Hendarman.

Surat perintah penangkapan Artalyta dibuat sekitar dua jam setelah Urip
ditangkap di depan rumah Sjamsul Nursalim di Simprug. Namun, Artalyta urung
ditangkap jaksa karena KPK kemudian lebih dulu menangkap perempuan itu.

Jaksa Muda Intelijen Wisnu Subroto ditemui di Kejagung, Rabu, mengatakan,
ide menangkap Artalyta muncul spontan dan bukan untuk mengamankan.

"Tidak ada instruksi. Waktu itu ada opsi demikian. Ternyata KPK sudah
menangkap, ya sudah. Kita enggak terima dong. Mosok yang disogok ditangkap,
yang nyogok enggak?" ujar Wisnu yang mengaku memperoleh kabar tertangkapnya
Artalyta dari Untung. (VIN/IDR)

Sumber : Kompas


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke