Ketahanan Pangan Pemerintah Dinilai Tidak Terbuka Kamis, 12 Juni 2008 | 00:19 WIB
Jakarta, Kompas - Pemerintah dinilai tidak terbuka terkait kondisi pangan. Penilaian ini didasarkan pada adanya dua versi data produksi beras 2008. Pertama, versi Badan Pusat Statistik yang menyebutkan produksi padi tahun ini 58,2 juta ton gabah kering giling. Kedua, versi Departemen Pertanian yang memproyeksikan produksi padi 2008 hanya 54,433 juta ton. Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, Rabu (11/6) di Jakarta, perbedaan perkiraan produksi padi ini akan menjadi "bom waktu" krisis pangan di Indonesia dalam waktu dekat. Winarno menyayangkan sikap pemerintah yang tidak mau terbuka terkait kondisi pangan bangsa. Padahal, dengan adanya keterbukaan, masyarakat akan diajak untuk bersiap-siap menghadapi kondisi tersulit pangan. Namun, Winarno memahami ketidakterbukaan itu. "Kalau disampaikan secara terbuka, masyarakat menjadi resah, terus terjadi rush. Namun, kalau tidak terbuka, nanti akan menjadi 'bom waktu' persoalan pangan yang parah. Dengan keterbukaan, masyarakat bisa bersiap-siap sehingga bisa mengantisipasi," katanya. *Naik 2,05 persen* Angka ramalan I Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total produksi gabah kering giling (GKG) 2008 sebanyak 58,2 juta ton. Produksi gabah berdasarkan perhitungan BPS ini naik sekitar 2,05 persen dibandingkan dengan tahun 2007 sebanyak 57,03 juta ton. Penghitungan naiknya data produksi padi 2008 ini juga dikuatkan perkiraan peningkatan luas tanam Departemen Pertanian. Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyebutkan, realisasi luas tanam padi Oktober 2007-Mei 2008 seluas 10,11 juta hektar atau naik 81.000 hektar (0,81 persen) dari tahun 2007. Dengan menghitung produktivitas rata-rata nasional 4,691 ton per hektar, produksi GKG 2008 berdasarkan penghitungan luas tanam mencapai 47,426 juta ton atau 78,89 persen dari target produksi sebanyak 60,11 juta ton GKG. Volume produksi padi akan lebih tinggi lagi seiring optimisme Departemen Pertanian bahwa produktivitas bakal naik. Produktivitas diperkirakan meningkat karena penyerapan pupuk 2008 meningkat dibandingkan 2007. Begitu juga dengan penggunaan benih unggul bermutu atau benih padi hibrida dan penurunan dampak serangan organisme pengganggu tanaman. Di sisi lain, data dari Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian menunjukkan, proyeksi produksi padi atau beras 2008 hanya sebanyak 54,433 juta ton. Proyeksi Departemen Pertanian ini menunjukkan terjadinya penurunan produksi padi nasional sekitar 4,536 persen dari produksi 2007. Produksi padi sebanyak 54,433 juta ton GKG itu dihasilkan dari luas pertanaman 11,605 juta hektar dengan produktivitas rata-rata nasional 4,691 juta ton. *Stok dunia menurun* Data yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada Juni 2008 menunjukkan, produksi beras dunia 2008 justru mengalami peningkatan. Produksi beras 2007 mencapai 435,2 juta ton, sedangkan produksi beras tahun 2008 diperkirakan 445,3 juta ton. Volume produksi itu, antara lain, disumbang China 129,3 juta ton, India 96 juta ton, dan Indonesia 36,7 juta ton. Meski produksi beras dunia naik, stok pangan dunia, khususnya beras, mengalami defisit 4,57 juta ton. Jika tahun 2006/2007 stok beras dunia mencapai 75,627 juta ton, tahun 2007/2008 turun menjadi 72,174 juta ton. Winarno menjelaskan, kondisi stok pangan dan situasi pangan dunia yang tidak bersahabat ini dihadapkan pada kenyataan Bulog masih sulit membeli beras untuk stok dalam negeri. Pengadaan beras Bulog hingga 9 Mei 2008 baru 1,6 juta ton dari target 3,8 juta ton. "Kekurangan pembelian 2,2 juta ton setara beras bukan persoalan sepele," katanya. Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo menyatakan, produksi padi pada musim gadu 2008 lebih baik sehingga Bulog diharapkan bisa memenuhi target pengadaan. Terkait dengan makin dekatnya musim paceklik, pengadaan beras untuk keluarga miskin (raskin) di Perum Bulog Subdivisi Regional Wilayah V Kedu, Jawa Tengah, mulai tersendat. Pasokan beras terpaksa didatangkan dari sejumlah daerah di luar wilayah Kedu. "Pasokan raskin terpaksa didatangkan dari berbagai daerah, seperti Purwodadi, Grobogan, dan Demak," ujar Kepala Perum Bulog Subdivre Wilayah V Kedu Hadi Soepangat di Magelang. Sementara itu, untuk mengantisipasi kenaikan harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri bulan September, pemerintah mengandalkan hasil panen gadu pertama. Agar mampu bersaing dengan harga pasar, pemerintah memberikan keleluasaan kepada semua divre maupun subdivre Bulog untuk menerapkan kebijakan pemberian insentif bagi para mitra. Demikian dijelaskan Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi di Bandung. (MAS/EGI/A01) Sumber : Kompas -- ********************************** Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist ************************************ [Non-text portions of this message have been removed]
