TAJUK RAKYAT
Selasa, 10 Juni 2008
Ibu Susu & Beras Jimpitan
DINI hari, Rabu, 4
Juni 2008 lalu. Saluran televisi TV 5 di kanal teve berbayar (teve
kabel), menayangkan film yang mengisahkan percintaan sosok ibu susu.
Sosok wanita orang biasa, ibu pengganti menyusui untuk anak kalangan
bangsawan di abad 18 di Perancis. Kendati suatu keluarga memelihara
sapi, masyarakat di abad silam, entah karena awam, atau memang lebih
berlogika, mereka menyusukan anaknya dengan tetek pengganti dari susu
ibu lain. Bukan susu olahan dari susu sapi atau kambing.
Sayang sekali saya terlambat menyimak kisah film, bahkan tak sempat
melihat judulnya. Namun dari cerita menyusui itu, yang paling
dikuatirkan keluarga para bangsawan, bila si ibu susu berpenyakit
herpes. Jika hal itu kedapatan, seisi rumah kalang kabut, kuatir sekali
seluruh anggota keluarga tertular.
Kisah dikemas dengan kecurigaan penyakit ibu susu. Juga lika-liku
bagaimana si ibu susu jika diperiksa dokter berkeluh kesah kalau suka
pusing, jika tidak diberi makanan enak, segar, jika tidak diajak
rekreasi. Kebalikannya, pening si ibu susu lenyap. Kiat demikian
terbukti ampuh menciptakan si ibu susu mendapat perlakuan setara dengan
kalangan bangsawan. Umumnya ibu susu berasal dari kalangan biasa.
Data di benak saya belum lenyap. Medio 2007 sekitar 17 ribu balita
di Nusa Tenggara Timur, mengalami gizi buruk, bahkan lebih 10%-nya
terindikasi busung lapar. Faktor utama berkurangnya gizi balita karena
air susu ibu pun minim. Akibatnya anak balita harus mengkonsumsi susu
bubuk. Dalam keadaan daya beli rendah, jangankan untuk membeli susu,
untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja sulit.
Rekan saya Hary Harjufri, Ketua Korda PWI-Reformasi NTT, pernah
menuliskan, bahwa ada sosok keluarga di NTT, untuk makan sehari-hari,
hanya mencampur menanak segenggam jagung dengan daun pepaya yang tumbuh
di halaman. Rebusan makanan ini untuk mempertahankan hidup, dilahap
berulang-ulang, berhari-hari. Jika ingin mendapatkan ransum tambahan,
ibu rumah tangga yang suaminya berkerja serabutan itu, memungut asam
jawa yang berjatuhan di seputar hutan di radius 5 km dari rumahnya.
Seember asam jawa ukuran 5 liter, laku terjual Rp 2 ribu - - seharga
sejam parkir saja di Jakarta.
Dalam keadaan demikian, gizi apa yang diharapkan tumbuh di kalangan bawah?
Posyandu yang di era Orde Baru dulu cukup bunyi, kini seakan tak
bunyi. Kekurangan gizi balita, dipastikan mengakibatkan berkurangnya IQ
,10 hingga 13%. Bisa dibayangkan kadaan intelegensi, kecerdasan,
sebagian generasi Indonesia ke depan. Dan sebaliknya di kota-kota besar
kini, mereka kalangan mapan, bahkan super mapan, bukan tidak memiliki
masalah.
Di sebuah lingkungan perumahan mewah di Jakarta Selatan, lebih dari
50% rumah tangga memiliki keluarga yang kecanduan narkoba. Dan
Indonesia kini sudah pula masuk negara empat besar pengkonsumsi
narkoba, obat-obatan psikotropika.
Kalangan bawah berkekurangan gizi, kalangan menangah atas
bermasalah narkoba. Klop sudah. Indonesia pari-purna membunuh
generasinya.
Teringat akan film lama yang berkisah tentang urusan kuno, ihwal
ibu susu itu, mungkin di era modern ini layak kembali dipertimbangkan
untuk dihidupkan. Anak manusia, ya harus menyusu dari orang. Bukan susu
olahan dari susu hewan.
Mungkin pula, jika segenap anak manusia kini disusui oleh orang,
maka ia dari sejak kecil sudah merasakan kehangatan, belaian seorang
ibu. Sudah banyak riset membuktikan, sentuhan ibu menyusui di masa
bayi, bahkan hingga balita, sangat berpengaruh kepada karakter sang
anak dalam pertumbuhan, dalam kehidupan dewasanya kelak. Sudah tidak
terbantahkan, bahwa salah satu penyebab narkoba, karena kurangnya
kehangatan, kurangnya perhatian orangtua di rumah tangga.
Sehingga sebagai sebuah solusi, tidaklah kuno misalnya, masyarakat
kebanyakan kini memikirkan ulang untuk menggunakan ibu susu. Idealnya
tentu susu dari rahim ibu yang melahirkan anak. Namun acap jua susu ibu
kandung kering. Di keadaan demikianlah ibu susu menjadi sangat penting.
Ibu susu secara psikologis maupun sosiologis, bermanfaat positif.
Selain gizi, rasa, kekeraban, akan meningkat tajam di tengah
masyarakat. Di lain sisi, bisa jadi ide ini dianggap kuno. Tetapi
biarlah, dari pada cuma menceracau, saya mengajak Anda semua untuk
memikirkan serius ihwal ibu susu sebagai solusi mengatasi keadaan rawan
gizi balita kini.
PADA penghujung 1960-an, saya memperhatikan nenek ketika
hendak menanak nasi. Sebelum ia memasukkan beras ke periuk, ia
mengambil seggenggam beras. Nenek memasukkan genggaman beras itu ke
dalam unjut (karung kain bekas kantung terigu).
Saya bertanya untuk apa beras itu dipisah?
Di setiap suap nasi yang kita makan, ada hak orang lain, ujar nenek.
Kala itu, saya tak paham tentunya. Seingat saya, di setiap Jumat
pagi, ada sosok remaja yang datang berkopiah bersarung ke rumah-rumah.
Begitu mereka ada yang mampir ke rumah kami, Nenek meminta saya
mengambilkan unjut, dan menuangkan ke unjut yang lebih besar yang
dibawa tamu itu. Beras berpindah. Nah orang itu antara lain berhak
mendapatkan beras dari sebagian yang kita makan, tutur nenek dengan
bijak.
Setelah dewasa, saya pun tahu bahwa laku demikian dikenal dengan
beras jimpitan. Hampir di semua wilayah, mengenal ikhwal beras jimpitan
itu - - terutama di pedesaan. Masyarakat kota yang sudah modern, sudah
lupa agaknya akan beras jimpitan. Ini tiada lain, instrumen untuk
berderma, sudah menjadi macam-macam, bahkan ada pula dengan cara
memotong pulsa, cukup dengan ber-SMS saja.
Namun, dari beras jumputan, bukan hanya ihwal wujudnya yang nyata,
tetapi ihwal kedisiplinan berderma tumbuh otomatis. Setiap mengambil
beras, sudah otomatis tangan menyisihkan.
Nah beras jimpitan, satu lagi hal kuno, kini layak disosialisasikan
kembali untuk mengatasi, mengurangi masayarakat yang kesulitan pangan.
Saya terkesemi juga, ternyata urusan beras jimpitan itu pernah
menghangat di Jawa Tengah. Pada 16 Februari 2008 lalu koran Kedaulatan
Rakyat pernah menulis ihwal ini. Saya kutipkan untuk Anda:
SRAGEN (KR) - Penolakan terhadap program jimpitan beras yang
digulirkan Pemerintah Kabupaten Sragen sebagai satu cara untuk membantu
keluarga miskin atau gakin meluas. Bahkan, Forum Masyarakat Sragen
(Formas) sebagai salah satu elemen warga meminta Pemkab untuk
menghentikan program jimpitan tersebut. Alasannya, tidak ada kejelasan
mengenai mekanisme pertanggungjawaban dan penyaluran dari beras yang
terkumpul.
Ketua Formas Sragen Andang Basuki kepada wartawan baru-baru ini
mengatakan, program jimpitan beras sebenarnya sudah ada di tingkatan RT
atau lingkungan tempat warga tinggal. Jadi menjadi tidak efektif jika
Pemkab juga membuat program serupa. Kami menilai program ini tidak
jelas dari sisi pertanggungjawaban dan penggunaannya, karena itu lebih
baik program itu dihentikan saja, tegasnya.
Dijelaskan Andang, kegiatan jimpitan di tingkat RT selama ini sudah
berjalan dengan baik dan bentuk pertanggungjawaban penyaluran beras
yang terkumpul juga cukup transparan. Jika nantinya program jimpitan
diambilalih oleh Pemkab, Andang menjadi ragu bagaimana
pertanggungjawabannya.
Yang namanya mobilisasi dana dalam jumlah besar, mestinya harus
jelas pertanggungjawaban penyalurannya. Apalagi dana yang terkumpul
dari jimpitan beras ini menyangkut ribuan warga.
Menyinggung soal jimpitan di sekolah yang sempat mendapat penolakan
dari warga Kecamatan Plupuh, Andang mengaku tidak terkejut. Karena
pihaknya juga sudah menerima banyak keluhan serupa dari warga lain.
Bahkan, penolakan itu sudah meluas tidak hanya di Plupuh, tapi juga
terjadi di Kecamatan Tangen, Jenar, Kedawung, Gesi, Ngrampal dan Miri.
Laporan dari warga masih bersifat lesan atau berupa keluhan dan
grundhelan yang intinya keberatan dengan program jimpitan tersebut,
jelasnya.
Tidak Mendidik
Khusus untuk jimpitan di sekolah, Andang juga menilai program ini
sama sekali tidak mendidik. Pasalnya, anak diminta untuk membawa beras
ke sekolah setiap hari. Kalau dalam satu keluarga ada dua atau tiga
anak, apakah mereka semua juga diminta membawa beras. Tentunya ini akan
memberatkan karena jimpitan dikumpulkan setiap hari.
Selama ini, tambah Andang, Pemkab Sragen juga sudah mengeluarkan
program wukirwati atau sewu mikir sukowati di mana pedapatan warga
dipotong Rp 1.000 untuk dikumpulkan. Dana yang terkumpul kemudian
disalurkan kepada warga yang tidak mampu. Hanya saja, program ini
menurut Andang juga menjadi tidak jelas pertanggungjawaban keuangannya
dipakai untuk apa saja.
Yang jelas kami meminta Pemkab untuk mengkaji ulang program ini.
Termasuk sisi pertanggungjawaban penggunaan agar tidak menjadi polemik
seperti wukirwati, imbuhnya.
Sebagaimana diberitakan, program jimpitan beras mendapat penolakan
dari warga Kecamatan Plupuh. Beras jimpitan khususnya untuk anak
sekolah dinilai sangat memberatkan bagi keluarga siswa tidak mampu.
Apalagi dalam satu keluarga terkadang ada lebih dari satu yang sekolah.
Sementara Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Drs Supriyatno
mengatakan aturan bupati tentang jimpitan beras tertuang dalam surat
bernomor 476/132-25/2007.
Aturan tersebut juga mengatur tatacara penarikan dan diperuntukkan
membantu masyarakat miskin. Teknis pengumpulan beras diserahkan ke
masing-masing dinas atau badan masing-masing. Dari dinas/badan,
kemudian dikumpulkan ke Dinkesos untuk didistribusikan. Aturan
tersebut juga mengatur jimpitan beras mulai dari PNS, swasta, pedagang
di pasar, siswa, dan warga lainnya. Yang namanya jimpit tentunya
seikhlasnya saja, ujar Supriyatno.
ANDA seharusnya kagum, ada Pemda yang memikirkan ihwal
jimpitan beras, sebagai solusi mengatasi kemiskinan. Tetapi dari berita
di atas, satu premis kental adalah, jimpitan ihwal derma. Ihwal laku
dan kedispilinan berderma. Ia saya pahami laksana seseorang beragama,
sangat personal - - karenanya saya enggan sekali terlibat dalam setiap
topik yang membahas agama, apalagi kekerasan yang bertameng agama.
Jimpitan beras juga demikian. Ia di ranah amaliah.
Bukan sebuah romantismelah bila saya katakan, jimpitan itu pun
sangat personal. Tetapi pelajaran yang ditunjukkan nenek saya semasa
saya kecil dulu itu membekas tajam dalam ingatan. Ternyata ia menjadi
asset budaya yang agung di Indonesia, yang seharusnya dipupuk untuk
terus tumbuh.
Jika ada manusia yang berlaku naif macam pejabat yang berpesawat
pribadi tiga buah, memiliki konglomerasi kian tambun, tetapi bila ada
usahanya merugikan banyak orang, macam yang terjadi pada kasus Lumpur
Lapindo, ia enggan sekali mengganti.
Manusia yang merugikan sesama, saya pastikan tidak mengenal beras
jimpitan, apalagi berkenan membahas ihwal ibu susu. Saya, agaknya,
hanya akan dihujat, Kuno elo!
Iwan Piliang
(www.presstalk.info)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
ANDA INGIN BERUBAH ?
Apakah Anda menderita fobia, insomnia, psikosomatis, mudah pusing, berdebar
debar, sesak nafas, nyeri ulu hati, leher kaku, sakit mag, dsb. ?
Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk, mania, kecanduan makan, kecanduan rokok,
gangguan/penyimpangan seksual, tidur berlebihan, obsesif kompulsif, malas,
menunda pekerjaan, lari dari masalah dsb. ?
Apakah tiba tiba suka muncul perasaan negatif seperti gelisah, gampang marah,
panik, gugup, bingung, lupa, sedih, sunyi dsb. yang semakin lama semakin buruk
dan sulit dikendalikan ?
Apakah Anda merasa semakin terpuruk dan berlarut larut, terperangkap dalam
"penjara emosi" seperti : malu, fobia, cemas, stress, takut, malas, depresi,
rendah diri, rasa bersalah, rasa gagal dsb. ?
Apakah Anda mulai merasa frustasi, lelah, tidak berdaya, paling bernasib buruk,
sial dan sangat menderita ?
HUBUNGI KLINIK S.E.R.V.O, SEKARANG !
Hotline : (021) 554 6009, 5574 5555
http://klinikservo.wordpress.com/kesaksian/
-------------
Ingin dikusi bersama rekan milis Taman Bintang lainnya ?
Invite [EMAIL PROTECTED] melalui Yahoo Messenger (YM) Anda
http://messenger.yahoo.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/