Assalamu'alaikum Wr.Wb,
Yang terhormat rekan - rekan semua mohon batuanya untuk mensosialisasikan
keinginana rekan saya saudara william yang seorang mualaf agar dapatnya
disebarkan ke milist-milist yang lain.
Jazakumullahu khairan katsira.
Wassalam
M.Ihsan
Sebuah Himbauan
Kepada Saudaraku Sebangsa dan Se-Tanah Air
Yang Kebetulan Berasal dari Ahmadiyyah
Salam sejahtera,
Pertama, sebagai pribadi, saya mengakui, bahwa adalah hak semua individu untuk
memilih ber-Tuhan dan atau tidak ber-Tuhan.
Sebagai kelanjutan hak tersebut, memilih ber-Tuhan dengan nama tertentu adalah
hak dari tiap individuâ¦Maka adalah hak dan pilihan individu, baik saya untuk
memilih Islam sebagai agama saya, atau seorang Kristiani memilih agama Kristen,
dll. Tiap agama pada akhirnya akan memiliki persyaratan tertulis maupun tidak
tertulis berkaitan dengan keyakinan yang dianut agama tersebut. Pada tataran
Islam, Nabi Muhammad sebagai Rasul dan Nabi terakhir, adalah final sebagaimana
terpilihnya Isa sebagai Juru Selamat bagi Kristiani..
Tentu, hal ini amat berkaitan dengan keyakinan, dan ditegaskan bahwa iman
kepada nabi dan rasul adalah bagian dari rukun iman di agama Islam. Maka, pada
titik ini, apa yang dianut oleh saudara-saudara Ahmadiyyah (meyakini Mirza
Ghulam Ahmad sebagai Nabi), adalah hal yang di luar dari iman Islami.
Kembali, mengingat adalah hak individu untuk memilih agama atau keyakinan
masing-masing, maka mohon dihargai juga keyakinan umat Islam (termasuk saya
yang muallaf), yang meyakini bahwa Iman kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi dan
Rasul terakhir adalah hal yang finalâ¦
Yakinlah, di Indonesia, siapa pun bebas beragama (bahkan untuk tidak beragama).
Sebutlah dan tegaskan Tuhan dan Iman berdasarkan ajaran Anda, jangan berlindung
atau mencobai daerah abu-abuâ¦.Ingatlah, tidak sedikit agama dan ajaran agama
di Indonesia yang hidup dan berani berdiri atas kaki mereka sendiri, seperti
Kristen, Konghucu, Taoism, Buddha, dll.
Mengapa tidak yakin dengan agama dan diri Anda Sendiriâ¦Biarkan Tuhan Anda
menilai, kebenaran dan ketidakbenaran Iman yang Anda pilih (sebagaimana kami
pun melakukan kepasrahan yang sama), tapi tolong berikan identitas yang jelas,
dan jadikan itu pembeda, karena sesungguhnya, tiap-tiap kita dirahmati untuk
memiliki keunikan masing-masing⦠kenapa tidak berterus terang, bahwa
keunikkan adalah hal yang memang tidak mungkin untuk dijadikan sama rata (hal
ini membuat keunikan menjadi hal yang tidak unik)..
Secara keuangan, golongan Anda telah mandiri, bahkan memiliki jaringan TV
satelit sendiri, lalu kenapa masih ragu memproklamasikan diri Anda sendiri,
atau Anda telah kehilangan diri Andaâ¦
Sekali lagi saudara-saudara-ku dari Ahmadiyyah, kebetulan kita sebangsa dan
se-tanah air, maka kita pun tahu bahwa di antara kita telah ada perbedaan,
mengapa tidak cukup persamaan kita adalah sebangsa dan setanah air, serta
perbedaan kita di keyakinan. Tunjukkan diri Anda apa adanya karena dengan itu
Anda dianggap ada, selagi Anda bersembunyi, saat itu identitas diri Anda
hilang, dan Anda hanya terlihat sebagai bagian dari individu yang
terombang-ambing, memiliki keyakinan tapi tidak memiliki keberanian untuk
mengetengahkan keyakinan sebagai bagian dari diri Anda. Lebih parah lagi,
apabila keberadaan atau ketidakberadaan Anda, ditunggangi oleh kepentingan
politik, tentu memilukan, tetapi apabila Anda yang menunggangi kepentingan
politik di Indonesia, secara pribadi, saya terbuka dan mau belajar banyak dari
Anda.
Terima Kasih
William
Bagi rekan-rekan Ahmadiyyah dan atau Non Ahmadiyyah yang berkeberatan dengan
tulisan ini, dapat langsung menghubungi saya ke alamat di bawah ini :
Email :
[EMAIL PROTECTED]
0838-8050988(AXIS-William)
agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
19 Kiat Hidup Berkah:Kiat 3 Ketika Makan
sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com
Setelah pulang dari masjid, mempersiapkan diri untuk bekerja, terlebih
dahulu menyantap hidangan pagi untuk sarapan, mungkin sendiri-sendiri,
mung¬kin bersama keluarga dalam satu meja makan. Agama Islam
mengajarkan adab makan sebagai berikut:
1. Hendaknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, jika
tangannya kotor.
2. Niat makan (minum) untuk memperkuat tubuh menjalankan tugas
beribadah kepada Allah.
3. Memulai dengan berdoa ketika mencicipi makanan, dengan doa sebagai
berikut:
Allahumma ba rik lana fi hi wa at `imna khairan minhu
Artinya: Ya Allah berkatilah kami pada makanan ini dan berikan kami
makanan yang lebih baik dari ini.
Setelah selesai makan hendaknya membaca doa:
Allahumma ba rik lana fi hi wa zidna minhu
Artinya: Ya Allah berkatilah kami pada makanan ini dan tambahilah kami
dari padanya. (H.R.Silsilah sahihah)
4. Bacalah Bismillah ketika mulai makan, dan jika lupa membaca pada
awalnya, maka bacalah:
Bismillahi awwalahu wa akhirahu
Artinya: Dengan nama Allah awal dan akhirnya.
5. Hendaknya makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang
dekat dengannnya.
6. Duduk dalam keadaan merendah. Jika makan¬nya lesehan maka hendaknya
melipat dua lutut dan duduk diatas dua kaki, atau duduk di atas kaki
kiri dengan menegakkan kaki kanan seperti yang dilakukan oleh
Rasulullah. Jangan makan sambil bertelekan.
7. Memakan makanan yang tersedia dan tidak menghina makanan. Jika
sesuai dengan selera silakan makan, jika tidak sesuai, tinggalkan.
8. Hendaknya makan tidak terlalu kenyang te¬tapi juga tidak terlalu
sedikit. Rasulullah bersabda:
Cu¬kuplah bagi anak Adam makan beberapa suap yang dapat menegakkan
tulang punggungnya untuk beribadah.
9. Tidak memaksakan diri menyantap makanan (minuman) yang masih
terlalu panas, tung¬gulah hingga mendingin. Tidak pantas pula meniup
makanan (minuman) apalagi sampai bernafas da¬lam gelas atau mangkok.
Hadis Ibn Abbas mence¬ri¬terakan bahwa Rasulullah melarang bernafas
dalam bejana atau menghembusnya. (HR. Turmuzi)
10. Tidak terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam mulut,
mengecil¬kan suap ke mulut dan mengunyah hingga lembut. Jangan sisakan
makanan sedikitpun dari piring anda, dan bahkan dari tangan anda,
karena kita tidak tahu bagian makanan mana yang paling diberkati Allah.
11. Jika sedang makan bersama, jangan melaku¬kan sesuatu yang membuat
orang lain merasa jijik, misalnya mengambil lauk dari mangkok bersama
langsung dengan tangannya, atau terlalu mendekatkan mulut ke makanan
yang sedang disantap bersama. Demikian juga hendaknya tidak
membicarakan hal-hal yang menjijikkan atau hal yang dapat
menghi¬langkan selera makan orang lain.
12. Hendaknya mengambil makanan ke dalam piring secukupnya saja, agar
tidak tersisa karena kekenyangan, seperti yang biasa terjadi dalam
persta-pesta, karena makanan yang tersisa itu kemudian menjadi
mubazir. Menurut Al Qur'an perbuatan mubazir itu merupakan perilaku
tercela.
13. Hendaknya jangan memaksa orang lain memakan makanan banyak,
seperti yang terkadang terjadi ketika tuan rumah menjamu tamu.
14. Bersyukur dan memuji Allah setelah mencicipi makanan, seperti yang
diajarkan oleh Ra¬sulullah, yakni dengan membaca doa:
Al hamdu lillahil lazi at `amani ha dzat ta `am, wa razaqani hi min
ghairi haulin minni wala quwwah
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku makanan ini
serta memberikan padaku rizki tanpa daya kekuatan dariku. (HR. Muslim)
15. Jika makanan itu merupakan jamuan, berdoa¬lah untuk tuan rumah
yang menjamunya, sebagai berikut:
Aftara `indakum as sa imun wa akala ta `a makum al abra ru wa sallat
`alaikum al mala ikatu
Artinya: Telah berbuka di sisimu orang yang berpuasa, telah dicicipi
makananmu oleh orang-orang yang berbuat kebaikan dan telah didoakan
kepadamu oleh para malaikat. (H.R. Muslim)
atau doa di bawah ini:
Allahumma at `im man at `amani wa asqi man saqa ni
Artinya: Ya Allah berilah makanan kepada orang yang telah memberi
makanan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang telah memberi
minuman kepadaku. (H.R. Muslim)
sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com
Salam Cinta,
agussyafii
==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
[EMAIL PROTECTED] atau http://mubarok-institute.blogspot.com
==============================================
[Non-text portions of this message have been removed]