Jabatan Rangkap: Sisi Gelap Reformasi Birokrasi?   Wednesday, 18 June 2008

MINGGU-MINGGU ini media massa ramai memberitakan ihwal jabatan rangkap
Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution yang dalam Rapat Umum Pemegang Saham
PT Bursa Efek Indonesia terpilih sebagai presiden komisaris.

Banyak kalangan, termasuk media massa, menyuarakan kekhawatiran tentang
potensi terjadinya benturan kepentingan (conflict of interest) dari
jabatan-jabatan yang dipegang Darmin. Dalam kapasitas sebagai Direktur
Jenderal Pajak, Darmin diberi target untuk memasukkan penerimaan pajak
sebesar mungkin bagi kepentingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN).

Sementara itu, dalam kapasitas sebagai Presiden Komisaris Bursa Efek
Indonesia,Darmin mau tidak mau harus memikirkan nasib para pemilik bursa
yang justru mengharapkan mendapat insentif pajak atau setidak-tidaknya tidak
dikenai beban pajak baru.

Begitu besar keinginan pelaku bursa untuk memilih Darmin sampai-sampai dalam
uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), paket komisaris tandingan
yang di dalamnya terdapat mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam)
I Putu Gede Ary Suta dan doktor manajemen keuangan lulusan Universitas
Indonesia Dr Adler Manurung gugur.

Tidak jelas apa alasannya, tetapi banyak kalangan berujar menirukan gaya
sebuah iklan pajak, "Jago-jago bursa dan doktor ilmu keuangan gagal tes, apa
kata dunia?" Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian memang ikut
bersuara dan meminta jabatan rangkap yang melibatkan pejabat penting negara
untuk segera ditertibkan, dengan pertimbangan menghindari benturan
kepentingan, mendorong bertumbuhnya tata kelola perusahaan yang baik,dan
penghematan keuangan negara.

Setelah itu, Darmin Nasution dan sejumlah pejabat teras Departemen Keuangan
dikabarkan ramai-ramai mengundurkan diri. Praktik memasukkan pejabat atau
mantan pejabat ke dalam jajaran komisaris perusahaan sesungguhnya bukan hal
baru.Untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN),alasan yang sering digunakan
adalah untuk mengamankan kepentingan pemerintah sebagai pemegang saham.

Alasan lain tentu saja sebagai upaya bagi-bagi rezeki atau bagi-bagi
kaveling, dengan harapan tambahan pendapatan yang diperoleh pejabat
bersangkutan akan menekan perilaku koruptif. Memasukkan pejabat penting
negara dalam badan usaha strategis, baik milik swasta maupun milik negara,
terkadang juga dilakukan untuk mendorong kerja sama antarkomponen bangsa
dalam rangka menghadapi persaingan global yang ketat.

Dari sini diharapkan kepentingan pemerintah sebagai regulator dan
kepentingan badan usaha sebagai operator (pelaku usaha) bertemu. Kerja sama
yang kompak tersebut di Jepang diistilahkan sebagai Japan Incorporated.
Lazimnya, yang dimasukkan ke dalam jajaran komisaris atau direksi adalah
mantan pejabat atau tokoh yang dinilai punya pengaruh luas.

Mereka biasanya sangat dibutuhkan untuk keperluan lobi.Pengalaman mereka
untuk menembus liku-liku birokrasi dan pemahaman terhadap kekuatan-kekuatan
yang berpengaruh di dalamnya sangat berharga untuk berbagai kepentingan
bisnis dan penyelesaian sengketa hukum. Di Amerika Serikat, negara dengan
komunitas korporat yang jauh lebih mapan, figur-figur mantan pejabat penting
duduk sebagai komisaris, direksi atau penasihat di beberapa
perusahaan.Fenomena ini dinamakan sebagai interlocking directorate.

Belakangan memang santer suara kritis untuk membatasi kecenderungan
mewabahnya praktik tersebut karena berbagai pertimbangan seperti benturan
kepentingan, tata kelola yang buruk, berkurangnya perspektif baru dari luar,
dan kekhawatiran semakin menguatnya konsentrasi kekuasaan para elite.

Namun pihak yang pro mengatakan, jabatan-jabatan rangkap tersebut justru
menciptakan kohesi politik di kalangan elite. Kiprah lobi para mantan
petinggi penting juga terungkap ketika terjadi skandal besar kebangkrutan
Enron (Desember 2001) dan WorldCom (Juni 2002). Robert Rubin, mantan Menteri
Keuangan Amerika Serikat, pernah terlibat sebagai "juru bicara"Enron.

Pengalaman seru pernah pula kita alami saat Hubert Neiss, mantan petinggi
Dana Moneter Internasional (IMF) yang begitu menggebu-gebu menyarankan agar
saham pemerintah di BCA dilepas, ternyata belakangan bekerja untuk Deutsche
Bank yang kemudian dipilih menjadi mitra Farallon yang memenangi divestasi
51% saham BCA (Maret 2002). Manuver dan lobi Neiss begitu "luar biasa".

Akhir-akhir ini, sejumlah kalangan di dunia mulai mengaitkan kenaikan harga
minyak yang spektakuler dengan kelompok-kelompok spekulan, yang bila dirunut
terkait dengan para arsitek Perang Teluk seperti Bush, Cheney, dan
Rice––Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat—
yang sebelumnya memang dikenal sebagai "orangorang minyak".

Di negara sedang berkembang, logika dan keputusan birokrasi publik biasanya
dikuasai oleh mereka yang lebih mampu memanjakan sang birokrat. Ingat
istilah "maju tak gentar membela yang bayar".Kedekatan dengan para pengambil
keputusan sudah merupakan setengah jaminan bagi keberlangsungan usaha dan
rezeki. Itu sebabnya, persaingan bisnis sering berupa persaingan untuk lebih
dekat dengan lingkaran sang birokrat.

Bila ini motif utama di balik kasus Darmin Nasution, hambatan reformasi
birokrasi sudah menghadang di depan mata. Rencana Departemen Keuangan,
Kementerian Negara BUMN,dan Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
untuk mengatur ihwal jabatan rangkap ini patut kita dukung. Taruhannya
jelas, bila reformasi birokrasi gagal kita lakukan, kita akan menuai
kegagalan-kegagalan dalam bidang lain.(*)

**)Penulis, Guru Besar FE UKSW, Salatiga; Alumnus Tinbergen
Institute,Belanda *

sumber : sindo


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

ANDA INGIN BERUBAH ? 

Apakah Anda menderita fobia, insomnia, psikosomatis, mudah pusing, berdebar 
debar, sesak nafas, nyeri ulu hati, leher kaku, sakit mag, dsb. ? 

Apakah Anda memiliki kebiasaan buruk, mania, kecanduan makan, kecanduan rokok, 
gangguan/penyimpangan seksual, tidur berlebihan, obsesif kompulsif, malas, 
menunda pekerjaan, lari dari masalah dsb. ? 

Apakah tiba tiba suka muncul perasaan negatif seperti gelisah, gampang marah, 
panik, gugup, bingung, lupa, sedih, sunyi dsb. yang semakin lama semakin buruk 
dan sulit dikendalikan ? 

Apakah Anda merasa semakin terpuruk dan berlarut larut, terperangkap dalam 
"penjara emosi" seperti : malu, fobia, cemas, stress, takut, malas,  depresi, 
rendah diri, rasa bersalah, rasa gagal dsb. ? 

Apakah Anda mulai merasa frustasi, lelah, tidak berdaya, paling bernasib buruk, 
sial dan sangat menderita ?

HUBUNGI KLINIK S.E.R.V.O, SEKARANG ! 

Hotline : (021) 554 6009, 5574 5555

http://klinikservo.wordpress.com/kesaksian/

-------------

Ingin dikusi bersama rekan milis Taman Bintang lainnya ? 
Invite [EMAIL PROTECTED] melalui Yahoo Messenger (YM) Anda 
http://messenger.yahoo.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke