http://www.cybermq.com/
       
Diantara kita tentu kenal dengan binatang kucing, dan juga tau tentang istilah 
“membeli kucing dalam karung”. Mungkin inti makna membeli kucing dalam karung 
adalah jangan sampai kita membeli sesuatu, atau menginginkan sesuatu yang kita 
belum tau dulu apa yang akan kita beli atau inginkan.
  Tanggal 31 Mei 2008, saya sangat dikejutkan oleh istilah “yang penting 
kucing”. Kalimat ini muncul dari seseorang yang sudah tiga taun ikut 
meringankan beban keluarga kami. Beliau mencuci, memandikan anak, memasak, 
menyetlika dan beberapa aktivitas dikeluarga kami.
  Kisahnya sangat sederhana, yaitu suatu ketika dia menerima telepon salah 
sambung dari seorang laki-laki. Entah kena apa, setelah salah sambung itu, 
akhirnya mereka saling sms dan telepon. Hal ini terjadi sekitar dua minggu yang 
lalu. Dari hasil sms dan telepon, akhirnya mereka bersepakat untuk menikah.
  Akhirnya pihak laki-laki ke rumah dan ditemani saudara saya untuk saling 
dipertemukan dengan kedua orang tuanya. Ketika pihak laki-laki ke rumah, 
usianya sekitar 33 taun dan orang yang sudah tiga taun ikut meringankan 
keluarga kami usianya menginjak 23 taun.
  Kami tidak membahas masalah “pernikahannya”, namun saya akan membahas masalah 
yang sangat mengejutkan. Ketika pihak laki-laki dan pihak orang yang bertempat 
tinggal di rumah kami memutuskan untuk menikah, adalah belum pernah saling 
bertemu, kecuali melalui sms dan telepon salah sambung itu.
  Ketika kami bertanya, ”Mbak kenapa khok berani memutuskan menikah?” Apa tidak 
sebaiknya, ketemuan dulu, sekali saja, kalau cocok baru diputuskan hari 
pernikahannya”. Apakah tidak seperti membeli kucing dalam karung? Dengan polos, 
dia menjawab ”Nggak apa-apa pak, membeli kucing dalam karung, toh tetap kucing 
khan pak”. Ketika mendapat jawaban itu, saya sangat kaget, begitu luar biasa 
jawabannya. Hati saya menjawab betul juga yeach .... kucing dalam karung, toh 
yang penting kucing, bukan binatang lain, misalnya buaya, tikus, kerbau atau 
binatang-binatang lainnya.
  Ini ilmu sangat luar biasa, mereka berdua berani melangkah tanpa takut 
membeli kucing dalam karung. Sebab tujuan mereka berdua adalah yang penting 
kucing dan bukan binatang lain. Niat keberanian untuk segera menikah tanpa 
banyak pertimbangan, ditambah niat suci untuk berumah tangga, ketika bertemu 
dan langsung cocok, kemudian menikah. Dan mereka memang, niatnya menikah, 
semoga dapat keberkahan Alloh. Mereka tidak memberi ruang setan dalam hatinya!, 
tentang takut tidak cocok. Mereka yakin, pasangannya menurut jenisnya sendiri, 
sesuai dengan pesan agama. Jadi, yang penting manusia, bukan gajah, kuda, 
kerbau atau berbagai jenis binatang lainnya.
  Beda dengan kebanyakan diantara kita, terlalu banyak teori dan keilmuan, tapi 
miskin dalam segera bertindak. Dampaknya tidak berani segera melangkah, karena 
merasa belum kenal dekat. Sehingga banyak diantara kita, terlalu banyak 
mengenal calon pasangan dan sebagaian besar menjadi kebablasan. 
  Sahabat CyberMQ
  Saya tidak tau, mengapa sahabat yang sudah tiga taun membantu meringankan 
keluarga kami ini, khok berani langsung memutuskan menikah, padahal belum kenal 
sama sekali. Setau saya, dia belum membaca buku (1) Mohammad Fauzil Adhim, 
kupinang engkau dengan hamdalah; (2) Mohammad Fauzil Adhim, saatnya menikah; 
(3) Salim A. Fillah, nikmatnya pacaran setelah menikah; (4) Salim A. Fillah, 
bahagianya merayakan cinta dan aneka buku lainnya yang membahas tentang 
pernikahan. 
  Setau saya, dia hanya pernah membaca Novel ayat-ayat cinta yang ada dirumah 
karangan Habiburahman El Shirazy yang filmnya sangat terkenal dan bahkan Mally 
Guslow terispirasi membuat lagu setelah membaca novel ayat-ayat cinta, kemudian 
lagunya bergema dimana-mana yang dilantunkan oleh Rossa. Dia juga membaca novel 
ketika cinta bertasbih juga karangan Habiburahman El Shirazy yang sekarang 
sedang dalam proses pembuatan film. Oh .. yeach ... lupa, dia juga membaca 
novel Laskar pelangi, sang pemimpi, dan edensor karangan Andrea Hirata.
  Dari semua novel yang dibaca, sering mengeluhkan tidak paham semuanya, sebab 
maaf, pendidikannya juga tidak terlalu tinggi, hanya lulusan SD kampung. 
Mungkin yang paling paham hanya novel ayat-ayat cinta, sebab dibantu oleh 
filmnya. Tapi kami sekeluarga sangat angkat topi, dengan keberaniannya, 
memaknai ”kucing dalam karung”, dengan makna positif ”yang penting kucing”. 
Mereka berdua tidak lulus perguruan tinggi dan aneka kursus serta pelatihan 
pernikahan, namun mereka berdua lulus ”Marriage  University”, yaitu universitas 
pernikahan. Bagi mereka, yang penting kucing, dan tidak pusing dengan kucing 
dalam karung. 
  Selamat menikah sahabatku, engkau adalah guru kehidupanku. Semoga juga 
menjadi guru-guru sahabatku yang lain. Sebab banyak orang terlalu kebanyakan 
membaca buku-buku tentang pernikahan, kursus pernikahan, namun ilmu yang 
dimiliki itu, justru mengunci keberaniannya untuk menikah. Sehingga mereka 
sering kerumah untuk konsultasi masalah pernikahan yang menyebabkan kami tidak 
akat topi, tapi angkat kaki, karena terlalu jenuh, ditanya sana-sini, 
berulang-ulang dan tidak segera bertindak.
  Sahabat, hidup manusia penakut, selalu terjebak oleh mental negatif ”Kucing 
dalam karung”, namun manusia pemberani, berani berpikir dan bertindak berbeda, 
yaitu ”Yang penting kucing”. Berani hadapi tantangan, yang penting kuncing!!! 
Bagaimana pendapat sahabat??? 
  Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur
  Sumber :baca selengkapnya disini : http://www.cybermq.com/
  
       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke