Kronologis pembunuhan yang dilakukan Sumiarsih dan Sugeng. 
--------------------------------------------------------------------------------

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=12720

Tas Kresek Bungkus Kepala Purwanto 

DUA puluh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah penantian. Apalagi, 
menunggu ajal dari bidikan proyektil para eksekutor. Namun, itulah kenyataan 
yang harus dihadapi Sumiarsih dan Sugeng. Manusiawikah bahwa seorang wanita tua 
dan anaknya yang rambutnya mulai memutih harus menerima ajal di hadapan regu 
tembak Brimob Polda Jatim?

Kebanyakan orang yang belum tahu peristiwa 20 tahun silam tentu akan berpikir 
lain tentang keputusan hukuman mati di ujung senjata itu. Namun, mereka yang 
tahu persis peristiwa kelam pada 13 Agustus 1988 itu bukan tidak mungkin akan 
mafhum agar kedua terpidana mati tersebut segera dieksekusi.

"Kalau teringat peristiwa saat itu, sadisnya bukan main," kenang Ramli, warga 
Pujon, yang ikut proses evakuasi korban pembantaian yang dibuang di jurang 
Songgoriti, Batu, Jawa Timur, itu. 

''Sampai sekarang pun saya masih terngiang-ngiang bagaimana ketika saya 
membantu petugas kepolisian mengangkat para korban,'' kata pria itu. Kelima 
korban bersama mobil Daihatsu Taft GT yang dijatuhkan dari atas setelah disulut 
api itu adalah Letkol (Mar) Purwanto, Sunarsih (istri Purwanto), Haryo Bismoko 
(anak), Haryo Budi Prasetyo (anak), dan Sumaryatun (keponakan).

Ramli yang mengaku berhasil mengangkat tiga di antara lima korban bersama tim 
penolong, mengaku masih belum bisa melupakan ''keganasan'' Sumiarsih cs. 
Terutama saat dirinya mengangkat tubuh korban yang rata-rata gosong dan baunya 
menyengat. Dia mengangkut korban bersama tiga rekannya ke ambulans. 

''Mayatnya bau busuk karena pembunuhannya kan pagi hari. Darah yang mengalir 
dari kepala korban juga dibiarkan. Baunya masa ampun,'' tuturnya.

Selain semua mayat kepalanya pecah akibat pukulan benda tumpul, Ramli melihat 
kulit tubuh korban banyak yang mengelupas akibat luka bakar. Bahkan, kepala 
Purwanto -kepala Primkopal- saat ditemukan masih terbungkus kresek hitam. 
Karena meleleh, kresek itu menyatu dengan kulit kepalanya. Sementara genangan 
darah di tas kresek mulai mengering. "Ngeri sekali," ucap Ramli.

Yang tak kalah ngeri saat dia mengevakuasi tubuh Haryo Budi Prasetyo. Tubuh 
putra bungsu Letkol Purwanto itu terjepit bagian belakang onggokan mobil Taft 
yang hancur. Luka di kepala penuh darah dan sebagian mulai mengering dan 
gosong. ''Sadis pokoknya, Mas,'' katanya lagi.

Sejak peristiwa itu, untuk beberapa lama warga Pujon, Malang, dan sekitarnya 
sampai tidak berani melalui jalur maut tersebut. "Mereka pada ketakutan," 
kenangnya. Terlebih lagi, di jalan itu tak ada pagar pembatas. Badan jalan 
berhampiran dengan jurang menganga. Lerengnya ditumbuhi banyak tanaman perdu.

Dalam rekonstruksi terungkap bahwa sebelum mobil "diterjunkan" ke jurang, 
seluruh permukaan mobil dan tumpukan lima mayat disiram bensin. Sebagai 
penyulut, Serda (pol) Adi Saputro -menantu Sumiarsih yang sudah dieksekusi 
mati-menyiapkan obor berupa tangkai kayu yang ujungnya dibalut gombal dan 
dibasahi bensin.

Caranya, mobil milik Purwanto itu dihentikan di bibir jurang dengan posisi 
moncong menghadap ke jurang. Mesin dimatikan. Setelah rem tangan dilepas, mobil 
didorong. Adi Saputro di sebelah kiri dan Sugeng di kanan. Saat didorong, pintu 
kiri ditutup, dan pintu kanan terbuka lantaran Sugeng harus melepas rem tangan. 
Saat mobil meluncur, Adi lantas menyulutnya dengan api lewat jendela pintu 
depan yang kacanya sengaja dibuka.

Begitu mobil terbakar dan meluncur ke jurang, keduanya pergi meninggalkannya. 
Para pelaku berharap agar skenario seakan-akan Purwanto meninggal karena 
kecelakaan berlangsung mulus. Mereka kembali ke Surabaya mengendarai Suzuki 
Carry yang sengaja dibawa dari rumah. Suzuki itu dikendarai Daim dan Nano 
(keduanya bebas setelah menjalani hukuman masing-masing 15 tahun dan 12 tahun 
penjara). 

Petugas identifikasi Polres Malang, Jamhuri, mengakui betapa sulitnya 
mengevakuasi para korban dari jurang saat itu. ''Mereka seperti paham lokasi 
yang tepat dengan karakteristik tertentu, termasuk kedalaman jurang itu,'' 
komentar Jamhuri kala itu.

Hal itu terbukti dengan lamanya tim evakuasi mengangkat kelima korban dan mobil 
Taft. Meski dimulai pagi, evakuasi baru tuntas setelah azan Magrib. Sebab, 
mobil terjepit di celah relung jurang dengan posisi bagian roda di atas.

Tak satu pun roda kendaraan itu tersisa. Semuanya ludes dilahap api. 
''Beruntung waktu itu, meski musim kering, tanaman-tanaman di sana tidak 
meranggas, sehingga tidak sampai membakar hutan di kawasan itu,'' ujar Jamhuri.

Truk katrol untuk menarik mobil Taft tersebut juga masih sederhana. Truk itu 
milik seorang petani di Pujon. Truk tersebut memang biasa digunakan untuk 
mengangkat mobil-mobil yang masuk jurang di kawasan Pujon dan sekitarnya. Truk 
itu dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga layak untuk mengatrol mobil yang 
terjerumus ke jurang. 'Truk itu warnanya putih seperti milik polisi lalu 
lintas,'' tandas Jamhuri.

Bukan hanya evakuasi mobilnya yang repot. Evakuasi para korban juga merepotkan 
banyak pihak. Mayat-mayat itu tidak bisa diangkut langsung menuju jalan raya. 
Akibatnya, tim evakuasi menempuh jalan memutar, lewat jalan lebih ke bawah 
sehingga jaraknya dua sampai tiga kali lipat lebih jauh. 

Pembunuhan itu memang dirancang cukup apik. Tapi, tetap tidak sempurna. 
Penyidik menemukan banyak kejanggalan, sehingga menyimpulkan korban meninggal 
bukan karena kecelakaan, tapi karena benturan benda tumpul di kepala.

Dihabisi dengan Brutal 

Sebelum skenario membuang mayat di jurang Songgoriti, Malang, pagi itu (13 
Agustus 1988), lima orang keluar dari sebuah rumah di Kupang Gunung Timur, 
Surabaya. Mereka adalah Djais Adi Prayitno, 54; didampingi istri, Sumiarsih, 
40; Daim, 27; Nano; Sugeng (anak Sumiarsih), 24; dan Serda Pol Adi Saputra 
(menantu Prayitno). 

Dari rumah Prayit -panggilan Djais Adi Prayitno- mereka naik Suzuki Carry 
menuju rumah Letkol Marinir Purwanto di Dukuh Kupang Timur XVII. Waktu berada 
di mobil yang dikemudikan Daim itu, Prayitno membagikan alu (antan) dan kaus 
tangan kepada Adi Saputra, Sugeng, Nano, dan Daim.

Sebelum sampai di rumah Purwanto, mobil tersebut berputar-putar. Sebab, saat 
itu banyak anak bermain voli di depan rumah Purwanto. Prayit merasa tidak aman 
apabila banyak orang di depan rumah korban. 

Beberapa bulan sebelumnya, Purwanto dan Prayit memang dekat. Bahkan, 
pembangunan rumah Purwanto di Dukuh Kupang Timur itu pun dipercayakan kepada 
Prayit. Tapi, hubungan kedua sahabat itu agak renggang karena Purwanto sering 
menagih utang Prayit sebesar Rp 36 juta.

(Bagi warga Gang Dolly, lokalisasi terkenal di Surabaya, Prayit bukan nama yang 
asing. Dia germo di kompleks pelacuran itu. Sejak sebelum 1980, Prayit sudah 
tinggal di kawasan lampu merah itu). 

Sekitar pukul 10.00, rombongan tersebut sampai di rumah Purwanto. Kedatangan 
mereka dianggap kunjungan biasa. Karena itu, kepala Primkopal (koperasi milik 
Angkatan Laut) yang sedang menunggu kelahiran anak keempat pun menemui mereka 
di ruang tamu.

Ruang tamu sedang sepi. Ketiga anak Purwanto tidak ada di rumah. Haryo Bismoko 
(siswa kelas I SMA Trimurti) dan Haryo Budi Prasetyo (siswa SD kelas VI) sedang 
bermain di depan rumah. Sementara, Haryo Abrianto mengikuti pendidikan di 
Akabri. Sunarsih, istri Purwanto yang dalam kondisi hamil, memasak di dapur.

Setelah merasa aman, lima orang tersebut menghabisi Purwanto. Mereka memukul 
Purwanto dengan alu di bagian belakang kepalanya. Perwira Marinir itu 
dikabarkan sempat melawan. Sebab, ditemukan memar di beberapa bagian di 
tubuhnya. Selain itu, tulang iga Purwanto patah.

Tubuh Purwanto dibawa ke garasi. Mendengar keributan itu, Bismoko dan Budi 
Prasetya pun menuju garasi. Di sana mereka dipukul Adi Saputra. Ternyata dia 
malah berlarian sambil berteriak. Salah satu dari mereka kemudian ditangkap dan 
dipukul Sugeng. 

Sunarsih mendengar keributan itu. Bersama Sumaryatun, keponakan Purwanto, dia 
masuk garasi. Di belakang mereka Prayit dan Sumiarsih sudah berjaga-jaga. 
Selanjutnya, Adi dan Sugeng menyambut Sunarsih. Mereka berdua mencekik Sunarsih 
dengan alu. Sementara, Daim kebagian membunuh Sumaryatun. Lengkap sudah. Kelima 
korban tersebut tewas seketika. Lima orang itu pun menyeret lima tubuh tak 
bernyawa ke garasi. Mereka memasukkannya ke mobil Daihatsu Taft milik korban. 

Dari rumah, mobil berisi mayat itu dibawa dua orang (Adi dan Sugeng) ke daerah 
Songgoriti, Batu. Mobil dan kelima jenazah tersebut dibuang, seakan-akan korban 
kecelakaan. Malamnya, ketika kabar kecelakaan tersebut menyebar, Prayit 
menyiapkan skenario lain. 

Sebelum mayat dibawa ke rumah duka, Prayit mempersiapkan rumah Purwanto. Dia 
membersihkan, menata kursi, dan menyuruh orang-orang mengganti lampu neon. 
''Itu dilakukan dengan duitnya sendiri,'' kata salah seorang tetangga.

Anak pertama Purwanto, Haryo Abrianto pun datang. Dia tampak terpukul dengan 
kejadian itu. Prayit sebagai kerabat dekat keluarga itu ikut menenangkannya. 
Layaknya pembunuh berdarah dingin, Prayit-lah orang pertama yang membuka dan 
peti mati para korban. Bahkan, dia masih bisa merekam gambar kedatangan jenazah 
itu dengan kamera video. (widodo irianto/amu/aga/ign/el)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke