Oleh: Helvy Tiana Rosa
Sang Murobi : Ustadz Rahmat Abdullah… Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang Berkilau di pandang orang Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi Janganlah seperti asap Yang mengangkat diri tinggi di langit Padahal dirinya rendah-hina [Rahmat Abdullah] Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama: Rahmat Abdullah. Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi percayakah kau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri. Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta. Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu dan pikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak! Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan pernah melupakannya. Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku dan seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk kami. Dengan riang kau menyemangati kami. “Ini kebaikan yang luar biasa,” katamu. “Bismillah. Berjuanglah dengan pena-pena itu!” Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat. Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum Lingkar Pena. Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan. Aku masih sempat bertanya pada panitia: “Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak Rahmat Abdullah?” Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga untuk menjemput. Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadir di acara seperti ini. Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau muncul! “Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka…,” sambutku. Kau tersenyum. “Saya sudah agendakan untuk datang,” katamu. “Ini acara FLP. Istimewa.” Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional. Dan kini ia sudi hadir sebagai undangan biasa! “Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?” Naik bis. Tempatnya mudah dicari,” katamu biasa. Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena…. Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan “Sastra untuk Kemanusiaan.” “Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi,” ceritamu. Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami. Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga. Sebagai guru sejati bagi ribuan da’i. Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat. Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada. Kau bahkan pernah berkata: “Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah yang lemah ini.” Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau—anggota dewan yang terhormat— masih saja menyetop kopaja. Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya. Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang keindahanmu. Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuh di dunia, semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin. (Helvy Tiana Rosa) Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapakah… yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya… [ Ustdz. Rahmat Abdullah (Sang Murobi) ] Subhanalloh… sebuah kalimat yang penuh kekuatan. Kekuatan seorang ksatria, kekuatan kehidupan! Sungguh, amat jarang kujumpai pemimpin di negeri ini berkata demikian. Bukan sebatas kata, tapi benar-benar dilakukan di tiap langkahnya yang dalam. Sering ‘ku menggeleng membaca tulisan-tulisanmu. Tak mengerti. Terlalu rumit dan berat untukku yang sarjana. Padahal kau hanya lulusan SD dari sekolah formal! “Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi,” katamu. Kita memang tak pernah bertemu, tapi ‘ku masih menyimpan banyak tulisanmu, di majalah ataupun buku. Itulah yang membuat figurmu terasa dekat denganku. Beberapa kali ‘ku main ke sekolahmu, berharap ‘tuk bertemu. Namun kau super sibuk, aku tahu itu. Tapi tiap lewat dan lihat depan rumahmu, hatiku bergetar! Kagum ustadz! Rumah mungilmu… terasa begitu teduh… Aku memang tak pernah didaurah langsung olehmu, tapi buku-bukumu yang mendidikku. Meski kau mungkin akan marah, kalau tahu banyak yang kulupa dan lalaikan dari apa yang kau ajarkan… Ustadz… ajarkan aku untuk tidak terlalu mencintai dunia ini ustadz… seperti yang kau jalani selama ini. Ah ustadz… aku sedih! Melihat azzam ikhwah-ikhwah kita mulai luntur. Azzam ‘tuk membumikan Izzul Islam wal Muslimun! Terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu nyaman dengan jabatan, terlena dalam nikmat dunia… Tapi kutahu kau pasti akan bilang “Teruslah berjuang!” dalam manhaj dan partai ini… bukan menyerah. Lawan! Lawan! Penyusup dan kaki tangan-kaki tangan itu…!! Untung kau sudah tidak ada ustadz… jika tidak, air matamu pasti terus membasahi pipimu, melihat ummat yang semakin terdesak. Dalam himpitan ekonomi dan perusakan aqidah. Mengapa ustadz? Engkau anggota dewan, tapi kau sendiri yang menyapu halaman. Mobil dinas pasti tersedia, tapi kau memilih menunggu Kopaja. Itulah dirimu… Itulah kesahajaanmu… Sahaja yang membuat riang gembira semua ikhwah tatkala kau hadir di tengah mereka. Ibarat anak bertemu bapaknya… Sahaja yang meluluhkan hati dan air mata semua tatkala kau pergi dari mereka… untuk selamanya… Ibarat bapak meninggalkan anaknya… Yogyakarta, 30 Juni 2008 Bolehkah aku memanggilmu, ayah? Sumber: http://apadong.com/2008/06/30/mengenang-syaikh-tarbiyah-ustadz-rahmat-abdullah [Non-text portions of this message have been removed]
