Silahkan lihat artikel berikut :

http://klinikservo.wordpress.com/2008/10/16/sabar-2/

Semoga membantu !

Salam,

Isywara Mahendratto

--- In [email protected], Ade Marcelia <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> temen-temen semua,
> tolong kasih artikel tentang "sabar menghadapi cobaan" donk..
> yang mendekati hal itu jg gpp...
> trims ya atas bantuannya...!!!
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> Dari: arief dani <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: [EMAIL PROTECTED]
> Terkirim: Rabu, 15 Oktober, 2008 00:09:04
> Topik: TaManBinTaNG >>> SENYUMLAH...
> 
> 
> SENYUMLAH... 
> 
> Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni 
Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di 
sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan 
seumur hidup.
> 
> Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan 
kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. 
Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan 
setiap orang memilikinya.
> 
> Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi 
nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan 
memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan 
mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta 
untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang 
periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. 
Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.
> 
> Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan 
anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk 
pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu 
udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk 
dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani 
si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.
> 
> Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak 
setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang 
yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari 
antrian.
> 
> Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan 
melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah 
saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata 
tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat 
dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.
> 
> Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki 
yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia 
sedang "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot 
matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah 
saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' di 
tempat itu.
> 
> Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari 
menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang 
akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika 
teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki 
kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di 
belakang temannya.
> 
> Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi 
mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya 
merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam 
antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga 
tiba2 saja sudah sampai di depan counter.
> 
> Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin 
saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. 
Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." 
Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh 
mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di 
dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli 
sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan 
badan.
> 
> Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat 
terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka 
mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang 
hampir semuanya sedang mengamati mereka...
> 
> Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua 
mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga 
melihat semua 'tindakan' saya.
> 
> Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya 
untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya 
tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan 
saya) dalam nampan terpisah.
> 
> Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain 
yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke 
meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan 
lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih 
kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi 
makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas 
punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya 
berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
> 
> Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu 
mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih 
banyak, nyonya."
> 
> Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya 
berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk 
kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan 
sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."
> 
> Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan 
memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya 
merengkuh kedua lelaki itu.
> 
> Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan 
meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang 
tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya 
mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang 
saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang 
pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak2ku!"
> 
> Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami 
benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah 
kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat 
sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
> 
> Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan 
meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka 
satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat 
tangan' dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, 
memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan 
pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu 
saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang 
telah kamu contohkan tadi kepada kami."
> 
> Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum 
beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah 
kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin 
kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu 
melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya 
merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang 
tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh 
saya.
> 
> Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' 
Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
> 
> Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' 
ini di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. 
Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen 
saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah 
saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati 
saya mengiyakan.
> 
> Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas 
untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun 
mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah 
menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam 
membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah 
itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu 
berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di 
dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan 
perasaan harunya.
> 
> Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup 
ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir 
paper saya. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui 
betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
> 
> Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk 
menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, 
guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir 
saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang 
tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, 
yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
> 
> Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi 
oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan 
memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana 
cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG 
KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK 
KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
> 
> Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, 
teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini 
ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang 
membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu 
(sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!
> 
> Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari 
kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan 
JEJAK di dalam hatimu.
> 
> Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk 
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan 
uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan 
kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan 
kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap 
hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu 
ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa 
mendapatkannya.
> 
> Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi 
orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah 
dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama 
untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
> 
> CHEERS
> 
>  
> 
> 
>       
______________________________________________________________________
_____
> Dapatkan nama yang Anda sukai!
> Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan 
@rocketmail.com.
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke