From: [EMAIL PROTECTED]>, wrote:
wah... tapi saya sudah lama menanggalkan rasa nasionalisme selama
bertahun-tahun lalu. walau tinggal di indonesia, punya ktp indonesia,
tapi tidak pernah merasa sebagai bangsa indonesia. saya adalah seorang
muslim, negara-ku adalah din-ku, pemimpinku adalah rasulullah dan para
khalifah sesudahnya yg mengikuti jejak rasulullah (rasyidah), dan
rakyatnya adalah para mukmin yg mengatakan sami'na wa atho'na, dan
wilayahnya adalah seluruh permukaan bumi ini, karena mukmin adalah
pewaris bumi ini.
sesungguhnya berbangsa dan bernegara memecah kesatuan ummah, yg
membuat ummah ini rapuh dan terkotak-kotak. belum lagi perbedaan
gerakan, perbedaan pemikiran, perbedaan tujuan, yg membuat ukhuwah
terkoyak seperti tidak ada arti. khoyrun ummah adalah kelompok
manusia-manusia yg bertauhid satu, beraqidah satu, dan paling penting
way of life yang satu, islam. tidak peduli warna kulitnya,
keturunannya, bahasanya, atau lokasinya, karena khoyrun ummah adalah
satu dengan jalan yang satu menuju Allah.
ahhh... nasionalisme, berbangsa, bernegara, semoga semua mukmin
semakin tersadar bahwa ummah bukanlah bangsa atau negara, tetapi
sekumpulan orang-orang yg tunduk kepada Allah.
--- On Tue, 10/28/08, yumroni askosendra <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: yumroni askosendra <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: Tar-Com>> Sumpah !!!! Pemuda Indonesia
To: tarbawi_community@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, October 28, 2008, 4:52 PM
itulah realita bangsa kita ini, bangsa yang besar tapi nyali
kecil, masih banyak yang harus dibangkitkan dari tidurnya, kita bak
raksasa tidur yang masih nyenyak dalam mimpi indahnya, bangkitlah
negeriku,bangkitlah bangsaku
------------ --------- --------- --------- --------- ---
yum-roni.blogspot. com
------------ --------- --------- --------- --------- ---
--- On Tue, 28/10/08, setyawan_abe <setyawan_abe@ yahoo.com> wrote:
From: setyawan_abe <setyawan_abe@ yahoo.com>
Subject: Tar-Com>> Sumpah !!!! Pemuda Indonesia
To: tarbawi_community@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, 28 October, 2008, 10:16 AM
Jangan heran, jika kita (Pemuda) kini diteriaki, dicaci maki,
disangsikan eksistensinya. Tak perlu ngeles jika tuntutan-tuntutan itu
ditunjukkan ke muka kita, karena euforia reformasi tak jarang ada pada
momment yang tidak mudah dipahami. Belum lagi hiruk pikuk kepentingan
dan virus-virus `fatamorgana' entertainment merenggut jiwa-jiwa kita.
Memang banyak juga ini diteladankan oleh tetua-tetua kita.
Tetapi juga nyata realita pahatan dan sayatan peristiwa kongres pemuda
II tanggal 28 Oktober 1928 itu hanya terekam rapi di museum-museum,
baliho-baliho, spanduk dan sticker-sticker estetis.
Kita memang hafal 100% dengung kalimat :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe
Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa
Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng
Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Sumpah !!!!! Pemuda Indonesia.
Lalu Kita Bangun
Kalau tanah Indonesia , bangsa Indonesia , bahasa Indonesia
adalah warna-warna keIndonesiaan maka semua itu bermuara Indonesia
Raya. Maka :
--------
Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
---------
(Cuplikan Lagu Kebangsaan)
Itu juga menjadi lagu `kekitaan' yang hampir selalu kita
dengungkan setiap upacara-upacara. Dan kita sepakat.
Bangun untuk membangun, yang kalau dulu pernah ada Perkumpulan
Boedi Oetomo yang mengangkat derajat bangsa dalam harkat dan martabat
bangsa dengan : "Memadjoekan pengadjaran, pertanian, peternakan dan
dagang, teknik dan peroesahaan, membangunkan kembali kesenian dan
pengelolaan boemiputera, mempertahankan tjita-tjita manusia jang
oemoem dan selandjutnya semoea jang dapat mendjadi djaminan kehidupan
jang pantas bagi rakjat"
Bahkan saking hebatnya mereka tak heran jika Dr. O Damse dan
B. Jildera berkomentar "Sesungguhnja Boedi Oetomo ialah perserikatan
nasional jang pertama jang tahu diri"
Momment yang membuktikan bahwa pentingnya kemandirian,
keunggulan, daya saing, persatuan dengan membangunkan kekuatan diri,
jiwa raga.
Memang itu adalah sejarah, tetapi mata rantai kemarin-kini-
esok tidak bisa dipenggal. B. Russel mengatakan "Hystory acquire
meaning and objectivity only when it establishes a coherent relation
past and future".
Lain dulu, bisa lain bisa juga sama dengan sekarang. Dan kini
Mt. Everest, kutub utara-selatan, pesawat Chalanger masih tetap
menunggu sambutan kita para pemuda.
Jika mereka negara maju memupuk jiwa petualangan anak
bangsanya, mengapa kita pemuda `Zamrud Khatulistiwa' tidak juga
meneruskan budaya Discovery & Expedition ? Sementara kita kaya dengan
lautan, hutan, gunung, flora, fauna dll. Ironis jika pemudanya tidak
berminat menjelajah dan mengenal alam tanah airnya sendiri. Kalaupun
banyak organisasi pecinta alam, umumnya baru sebatas perkumpulan Olah
raga / Pleasure semata.
Jiwa Petualang
Bagi petualang (pendaki) sering terbersit pemikiran simpel,
"mendaki ya mendaki saja, bertualang ya asal jalan saja, tak perlulah
itu memikirkan argumentasi sedemikian rupa". Tapi lain halnya dengan
Real Backpaker : "Tetaplah mendaki dengan visi dan misi paling
sempurna dengan niat dan orientasi yang paling agung dengan motivasi
yang dapat dipertanggungjawabj an dihadapan Sang Pencipta Gunung.
Karena, wahai sahabat, besok-kelak, kaki, tangan mulut kita akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dikerjakan".
Atau Gr. Edmund Hillary, salah satu yang mencapai puncak
Everest, bukan hanya legenda penaklukan Everest saja yang patut
dikenang, tapi disamping mendaki ia juga berusaha memperbaiki kondisi
masyarakat Nepal yang sangat miskin dan jauh tertinggal. Ia pun selalu
mengunjungi Nepal selama 54 tahun berikutnya, tanpa kompensasi apapun.
"Â…Tinggal beberapa langkah lagi dan tidak ada sesuatu yang
lain berada diatas kami kecuali langit. Tidak ada dinding lain, tidak
ada puncak lain, kami berdiri bersama di puncak dunia"
Hillary dengan petualangan, pencapaian, penemuan dan
kesederhanaanya, dengan salah satu ucapannya yang patut dikenang : "We
knocked the bestard off". Dengan filosofi hidup yang sangat sederhana
: Petualangan bisa untuk orang biasa dengan kualitas biasa-biasa saja
seperti saya.
Jiwa petualang, mampu mengatasi kesulitan dengan jiwa raganya.
Demikian pula dengan Thomas Alva Edison dengan 50.000 percobaan selama
20 tahun, ketika ditanya : "Anda telah gagal 50.000 X, lalu apa yang
membuat anda yakin bahwa anda akan berhasil? Dengan spontan dijawab :
"Berhasil? Bukan hanya berhasil, saya telah mendapatkan banyak hasil.
Kini saya tahu 50.000 hal yang tidak berfungsi".
Merekalah yang berhasil mencapai puncak pendakian. Senantiasa
berfokus pada usaha, menundukkan tantangan, selalu mencari
kemungkinan- kemungkinan, hanya sesekali jeda untuk evaluasi, dan
kemudian kembali bergerak maju hingga puncak.
Dengan ketegaran (courage) menghadapi tantangan yang tak
pernah berhenti, kegigihan dan tetap teguh pada optimisme, tenang
menghadapi kekisruhan, sangat tegar ketika menghadapi "itu tidak dapat
dikerjakan" dan "kami belum pernah mengerjakannya. Sesuatu yang tidak
mungkin hanya perlu waktu untuk menjadi kenyataan.
Sehingga benar-benar spirit yang ada didalamnya : 1). Nation
character building
2). Pengusaan skill dan IPTEK (National competitiveness)
sering terabai. Menjadi sebuah pengembaraan (expedition) menempuh
wilayah tanah air demi kepentingan masyarakat dengan IPTEK
(Discovery). Sehingga `learning by visiting' adalah mensinergikan :
mind on, hearth on dan hand on secara integral dengan pengalaman dan
amal nyata (kontributif) .
Eksplorasi dari Yang Terkecil
"Sebuah pohon sebesar Anda, bermula dari sebuah biji yang
kecil. Perjalanan sejauh 1000 mil berawal dari sebuah langkah kecil
(Lao Tse)
Republik Indonesia memiliki 17.504 pulau, 9336 yang bernama,
8168 yang belum diberi nama. Panjang wilayah Indonesia 5300 Km, Lebar
2300 Km. Luas daratan dua juta Km2 etnik, belum lagi sekian juta
spesies flora dan fauna (pertanian, tambang perairan dll). memiliki
250 bahasa dan dialek dengan 200 kampung
Dalam sebuah diskusi "Sewindu Reformasi mencari visi 2030"
seorang panelis pernah menyatakan "Sehelai daun yang berserakan di
pinggir jalan dan selama ini hanya dianggap sampah, sebenarnya peluang
usaha yang sangat menjanjikan. Bisa diolah menjadi kerajinan tangan
yang diminati luar negeri. Tapi ternyata tidak banyak yang berminat
memunguti dan mengolahnya, padahal satu helai daun dihargai Rp. 100.
Ekspedisi yang dengan mengaktifkan ketiga potensi : mind,
heart dan hand, meningkatkan sensitifitas kita terhadap lingkungan,
bangsa dan negara berikut faktor yang mempengaruhi pada tataran
realita, termasuk peluang.
Namun begitu spirit / janji diri tidak berlepas dari `Cinta
tanah air dalam berbangsa dan bernegara. As a nation. "Bertumpah darah
dengan kesamaan pembahasaan bahasa, demi bangsa, Indonesia ".
Terima kasih, ternyata kita juga bisa ya bikin parabola, eeh
maksudnya hiperbola'^_ ^
mBogor,
28 Oktober 2008
(2
ribu + DELAPAN) ^_^
Re: Tar-Com>> Sumpah !!!! Pemuda Indonesia
Wednesday, 29 October, 2008 12:45
From:
To:
[EMAIL PROTECTED]
wah... tapi saya sudah lama menanggalkan rasa nasionalisme selama
"Jika cinta adalah ketertawanan, maka tawanlah cintaku hanya pada-Mu,
agar tiada cinta lain yang menawanku.
Jika rindu adalah rasa sakit, jadikanlah rasa itu untuk aku selalu
merindukan-Mu, hingga akhir nyawa meninggalkan raga di hatiku hanya
untuk satu cinta.
Bila tak bisa ku mencintai-Mu, kemana kusembunyikan wajahku, Bila
jumpa dengan-Mu ya Rabbku."