Tidak dapat dipungkiri bahwa hingga kini migas masih
menjadi sumber penerimaan yang utama bagi negara dari
sektor sumber daya alam. Mengingat karakteristiknya
yang high capital, high technology, high risk, dan
high return tentunya, pengelolaan cadangan migas
memiliki model sendiri yang dikenal dengan Kontrak
Bagi Hasil (Production Sharing Contract). Model
Kontrak Karya yang dulu pernah diberlakukan, sudah
lama ditinggalkan dan diganti dengan model Kontrak
tersebut.

Beda dengan bisnis lainnya, bisnis migas membutuhkan
waktu investasi yang cukup panjang sebelum bisa
merasakan manfaat revenue-nya. Setidaknya dibutuhkan
waktu 6 hingga 13 tahun untuk investasi dengan jumlah
USD yang sangat besar, sebelum dapat merasakan tetesan
barel minyak dan/atau aliran MMCF gas bumi yang keluar
dari perut bumi yang dibor. Mengingat hal tersebut,
analisis keekonomian investasi yang akan dikeluarkan
sangat penting untuk dilakukan dengan secermat
mungkin, agar keputusan yang diambil betul-betul tepat
dan mendekati kenyataan di lapangan.

Ada dua sikap yang ditunjukkan oleh para pelaku bisnis
migas ini dalam melakukan analisis keekonomian
investasinya. Kelompok pertama begitu yakin bahwa
dengan spread sheet sudah cukup untuk melakukan
analisis keekonomian investasi ratusan juta dolar
tersebut. Mereka percaya bahwa dengan spread sheet
mereka sudah bisa mendapatkan informasi yang cukup
untuk menentukan layak tidaknya bisnis ini bagi
investor, berdasarkan indikator IRR, NPV, dan POT yang
diperolehnya secara deterministik. Mereka mengabaikan
model stochastik, yang bisa menggambarkan kondisi
sesungguhnya dari bisnis ini secara lebih
representatif. Kelompok kedua merasa bahwa model
stochastik sangat penting dan harus melengkapi hasil
analisis yang diperoleh dari model deterministik.
Mereka sadar dengan keterbatasan spread sheet yang
tidak bisa instan menampilkan hasil analisis dengan
model stochastik dan cukup repot melakukan perhitungan
dengan data-data dan asumsi yang berubah terus jika
menggunakan spread sheet. Oleh karenanya, mereka
kemudian coba beralih ke software-software aplikasi
yang secara khusus memang dibuat untuk menyelesaikan
masalah ini. Tapi sayang, investasi yang mereka
keluarkan untuk software-software tersebut sangat
mahal, karena dibuat oleh orang bule (produk impor).

Berangkat dari fenomena di atas, sekelompok anak muda
yang cukup lama dididik menjadi sarjana/master di
bidang Teknik Perminyakan dan bidang pemrograman
merasa terpanggil untuk menangkap peluang tersebut,
sekaligus memberikan solusi bagi negara dalam rangka
meminimumkan cost recovery. Oleh karenanya, lahirlah
software Field Management Assistant “FIELDMA” yang
dapat memecahkan masalah tersebut DENGAN BIAYA SANGAT
MURAH. Software ini sangat membantu para pelaku usaha
hulu migas untuk menilai keekonomian bisnis mereka,
Pemda untuk menghitung bagi hasil yang harusnya mereka
terima dari bisnis ini agar tidak dibohongi,
Pemerintah Pusat untuk mengontrol Cost Recovery,
Konsultan Migas, dan Akademisi. Anda dapat mengakses
software ini di website www.fieldma.com.  


Firman Juliansyah


      

Kirim email ke