Pojok Kompas, 11 November 2008 menyentil soal tudingan para pakar 
komunikasi, kriminolog, psikolog, psikiater bahwa media masa 
cenderung kian menginspirasi kejahatan.

Komentarnya "Yang ngeres orangnya atau medianya ?"

Spontan saya jadi teringat pernyataan seorang artis sewaktu 
menanggapi kontroversi mengenai UU Anti Pornografi dengan 
mengatakan "Itu mah tergantung orangnya, mau pakaiannya minim ataupun 
tertutup tetapi kalau pikirannya jorok ya tetap saja jorok"

Memang betul, fungsi media komunikasi hanyalah "alat", sama seperti 
handphone, dimana semuanya tergantung dari pengguna itu sendiri, 
kalau digunakan untuk hal yang bermanfaat berguna tetapi kalau 
disalahgunakan salahnya sendiri.

Akan tetapi handphone bersifat individual sehingga penyalah-gunaan 
hanya beresiko pada diri yang bersangkutan, berbeda dengan media 
komunikasi yang berdampak luas dalam meng edukasi pemirsa.

Siapa yang bertanggung jawab jika pesan yang ingin disampaikan 
dipersepsikan keliru oleh anak kecil, menjadi ide "bunuh diri" bagi 
yang lagi stress, mendorong imajinasi liar para maniak seks ataupun 
menjadi inspirasi para pelaku kejahatan, padahal korbannya bisa Anda 
sendiri ataupun orang yang paling Anda cintai ?

Kebebasan informasi tidaklah berarti membebaskan media komunikasi 
dari tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan dan memberdayakan 
rakyat, tidak hanya menjadi sarana efektif para pemuja popularitas 
ataupun kanal para kapitalis dalam menambah pundi pundinya apalagi 
dengan cara cara murahan seperti mengeksploitasi hasrat seksual, 
berita berita kriminal ataupun pembodohan publik dengan "kuis-kuis 
bodohnya".

Apalagi "frekwensi" sebagai "public domain" juga merupakan milik sah 
para individu yang peduli pada kesehatan emosional anak anaknya, 
keluarganya dan lingkungannya.   

Kalau begitu siapa yang tidak bertanggung jawab "medianya atau 
pemirsanya" ?

http://klinikservo.wordpress.com/

Kirim email ke