Muraqaba ( Meditasi Sufi )
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani qs


La hawla wa la quwwata illa billahil `aliyyil `azhiim
Rabbi yassir wa la ta’ssir Rabbi tammim bi-l khayr
(Ya Allah jadikanlah segalanya menjadi mudah, jangan biarkan kesulitan 
membelenggu diriku, ya Allah jadikanlah akhir dari setiap upaya ini semata-mata 
berupa kebaikan)

Kini, kita semua hendaknya mulai mempraktekkan muraqaba (sikap mewaspadai 
tujuan spiritual yang telah ditetapkan).  Banyak sekali pertanyaan dan komentar 
mengenai hal ini dari saudara-saudara kita, sehingga kiranya perlu ada sedikit 
penjelasan mengenai hal ini.  Sidi Jalaluddi Rumi berkata, “Wahai dikau yang 
kehausan dan tak berarah, datanglah!  Kami adalah insan-insan yang meminum 
‘air’ Makrifat Sayyidina Khidir dari arus sungai beliau.  Jikalau kalian tidak 
dapat ‘melihat air’ itu secara nyata, maka berbuatlah seolah-olah engkau 
seorang tuna netra.  

Bawalah sebuah ‘tempayan’ sebagai tempat untuk menangguk ‘air’, dan masukkanlah 
tempayan itu ke dalam arus sungai.  Tenggelamkan dirimu sedalam-dalamnya ke 
dalam ‘arus sungai’ tersebut, sampai dirimu merasakan suatu sentuhan yang 
berbobot.  Ketika sentuhan itu mulai terasa, berarti engkau telah mengalami 
suatu bimbingan spiritualitas.  Pada saat itu kalbu kalian mulai terlempar dari 
kehampaan dan kepura-puraan menuju kepada suatu pengalaman ruhaniah yang nyata. 
 Benang merah inilah yang acap kali dilakukan oleh para Awliya Allah (Syaikh, 
serta penuntun ruhani kita), sehingga hal tersebut haruslah menjadi bahan 
perenungan dan pendalaman kita mengenai makna muraqaba.  

Walaupun hal ini bukanlah sesuatu yang amat penting, tetapi merupakan sesuatu 
yang ‘wajib’ bagi para pengikut thariqat.  Pada kenyataan praktisnya, kita akan 
melatih beberapa kali secara bersama dan kita berharap dapat melakukannya 
secara terus-menerus di waktu yang akan datang.  Dengan cara tersebut, kita 
akan menggapai thariqat ataupun ‘jalan yang lurus’ sebagai suatu kebiasaan yang 
konstan.  Jika seseorang memberi kalian suatu format/awrad dengan jumlah yang 
terdefinisi dan telah ditetapkan, maka kalian harus teguh pada bilangan 
tersebut.  

Memang setiap bilangan akan merujuk pada jumlah yang terbatas.  Sedangkan 
dzikir adalah sebuah perjalanan menuju cakrawala yang tidak terbatas, karena 
dia tak berawal dan tak berakhir.  Tetapi bilangan tersebut merupakan latihan 
spiritual, serta cerminan disiplin kita.  Muraqaba adalah cara yang partikular 
untuk melatih kalbu, dan sangat biasa dilakukan oleh para pengikut thariqat.  
Dalam kebiasaan kita, yaitu Khatam Khwajagan, kita melakukan rabitha, artinya, 
kita menenggelamkan kalbu ke dalam hubungan spiritual seperti yang telah 
diungkapkan di atas.  

Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi dan dilakukan—kita diperintahkan 
untuk melakukannya!  Seperti halnya setiap amalan kalbu, demikian pula dalam 
rabitha, pada awalnya harus memiliki batasan, walaupun selanjutnya amalan 
tersebut untuk dilakukan secara tidak terbatas.  Langkah rabitha seperti inilah 
yang akan membawa dan mengarahkan kita kepada muraqaba.  Mengenai muraqaba itu 
sendiri, kita temui lebih banyak lagi dalam Hadits Nabi sawyang banyak kita 
kenal.  

Ketika sayyidina Jibril aspada suatu kesempatan mengunjungi baginda Rasulullah 
saw, beliau menanyakan hal mengenai Islam, Iman dan Ihsan.  Muraqaba adalah 
suatu jargon yang sangat berkaitan dengan Ihsan—ketika kita beribadah kepada 
Allah swt, seakan-akan kita melihat Dia.  Walaupun kita tidak mampu melihat 
Dia; Dia pasti melihat kita.  Ini adalah bentuk pelatihan untuk menjadi 
Ihsan—dan Tasawwuf (Sufisme Islam) adalah media untuk merunutnya.  Hal inilah 
yang membuat tasawwuf sangat menarik sebagai bagian dari Din-al Islam.  Bagian 
yang tertinggi.  

Dalam tingkatan yang sudah demikian pencapaiannya—Allah lah Yang Memiliki 
Haqiqatul Akbar.  Apa itu Haqiqat?  Yaitu suatu kondisi, di mana pada saat 
engkau menyembah-Nya, seakan-akan engkau melihat-Nya dan walaupun engkau tidak 
melihat-Nya, Dia melihatmu.  Haruslah kita selalu waspada bahwa Dia selalu 
melihat kita.  Jika suatu saat kalian berkata bahwa, “Aku ini ahli tasawwuf,” 
maka kalian tidak pantas berkata, “Di mana Allah?  Aku tidak melihat-Nya.”  Itu 
berarti kalian belum masuk ke tingkat Ihsan.  Kalian harus selalu istiqamah 
untuk melakukan hal tersebut.  

Di dalam apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, ada yang disebut dengan 
musyahada.  Hal ini tentu tidak mudah untuk dicapai.  Musyahada disebut juga 
‘bersaksi’.  Muraqaba (berasal dari kata raqaba/raqib) itu sendiri merupakan 
faktor kedua setelah kondisi kesaksian ini karena dia menyangkut kesadaran 
bahwa kita diamati oleh-Nya.  

Sidi Muhyidin Ibnu Arabi qsmenerangkan bahwa asal kata ini berakar dari ayat 
terakhir Ayat Kursi, “Wa laa ya-uuduhu hifzhuhumaa…” Dia (Allah swt) adalah 
Raqib as-samawaati wa-l-ardh (Pemilik Alam Dunia dan Akhirat).  Muraqaba dari 
seorang hamba merupakan implikasi dan imitasi dari Atribut Ilahi, yaitu 
al-Raqib atau Dia Yang Memiliki Pengelihatan atas Segala Sesuatu dengan Segala 
Yang Dia Miliki.  

Muraqaba yang kita laksanakan merupakan khazanah kesadaran bahwa Dia melihat 
kita.  Dia melihat di setiap lingkup Waktu yang ada, sebagaimana Waktu adalah 
Dia.  Waspadalah mengenai hal ini.  Dia mengawasi di dalam setiap untaian 
waktu, siang dan malam hari.  Pada kondisi biasa-biasa saja, tingkatan 
kewaspadaan tersebut tidak melekat pada diri kita.  Mengapa?  Karena kita 
terlalu sibuk dengan kehidupan yang serba materialistik—yang kita anggap lebih 
bernilai.  Kita sudah sedemikian tenggelamnya dalam atribut yang mendunia.  

Dunia memang diciptakan untuk ‘merayu’ kita.  Namun demikian, melalui dunia 
pula kita dapat mengambil hikmah untuk selalu mencari-Nya.  Kita pun tak pantas 
berkata bahwa kita akan lebih baik jika tidak berada di dunia; karena kalau 
bukan karena “dunia”, bagaimana kita mengenal Dia?  Sekarang permasalahannya 
adalah, kita berada dalam situasi sedemikian rupa, dan tidak ‘bersama’ Dia.  

Ibnu Ata`illah qsberkata, “Subhanallah!  Segala Puji bagi Allah swt Yang 
Menciptakan segala yang tak berawal.”  Dia menciptakan suatu lapisan selubung, 
dan hal tersebut ghaib.  Hanya dengan usaha mendekati ‘selubung’ tersebut, kita 
akan mengerti ‘apa’ di balik semua ini.  Segala format ritual yang kita 
laksanakan bukanlah untuk menyingkirkan atau menyingkir dari dunia, tetapi 
mencoba memahami untuk apa dunia ini diciptakan.  Kita harus mengerti hal itu.  

Muraqaba adalah usaha untuk menjadi sadar, dan lebih sadar lagi.  Kita harus 
memulai dengan hal-hal yang sederhana dulu, sebelum melangkah kepada hal yang 
lebih besar.  Walaupun, pada kenyataannya apa yang kita sebut ‘kecil’ pun 
sebenarnya tidak kecil; tetapi sangat besar.  Apa saja ‘perbekalan’ kita untuk 
‘melihat’ Allah ?  Kita hanya punya daya imajinasi saja.  Maulana Syaikh 
membacakan suatu ayat yang menyatakan bahwa Allah bersama kita, di mana pun 
kita berada.  Cobalah berimajinasi bahwa Dia bersama kalian.  Oleh karena itu, 
cobalah melakukan satu langkah lebih awal, yaitu membayangkan bahwa Rasulullah 
sawselalu bersama kalian.  Beberapa dari kita bisa diberikan karunia untuk 
dapat merasakan/melihat itu, tetapi pada umumnya jarang sekali.  

Jadi, apa yang kita lakukan adalah ‘membayangkan’ seseorang yang memang sudah 
berada di jalur Rasulullah saw.  Dengan metode ini, tentunya akan sangat mudah 
bagi kita.  Kita bisa melakukannya setiap saat.  Ketika kita ingin melakukan 
muraqaba, kita akan menemukan kemudahan.  Orang akan selalu bertanya mengenai 
bagaimana caranya, khusunya orang-orang Barat atau orang-orang yang bersikap 
serba rasional.  Bahkan mereka pernah bertanya kepada Maulana Syaikh, bagaimana 
caranya mengungkapkan cinta.  Yang terpenting di sini sebagai jawaban adalah, 
bagaimana kita membuat sesuatu menjadi sederhana atau mudah.  

Apa yang kita laksanakan dalam muraqaba adalah: berpakaian serba putih dan 
duduk dengan khusuk.  Hikmah yang dapat diperoleh adalah kita dapat memperoleh 
kekuatan spiritual yang dahsyat.  Kalian bisa melakukannya kapan saja, 
khususnya di malam hari.  Harus dicapai kondisi ghusl, yaitu mandi terlebih 
dahulu (suci hadats besar), segala sesuatu harus dibersihkan, karena hal 
tersebut sangat penting.  Muraqaba ini merupakan sebuah langkah dalam penyucian 
kalbu (tazkiya tun-nafs).  Lahir dan batin harus suci.  Kemudian duduk dengan 
khusuk lalu berkatalah dalam kalbu, di dalam kehadiran Maulana Syaikh, 
Rasulullah saw, dan Allah swt, “Engkau bersamaku sepanjang hari, tetapi akulah 
yang tidak bersama-Mu.  

Sekarang aku mencoba meninggalkan segalanya demi kesungguhanku untuk 
bersama-Mu.  Diriku tidak mampu untuk bersama-Mu dalam keadaan aku bersama 
atribut keduniaan.”  Inilah kiranya suatu cara untuk membersihkan batin.  “Aku 
duduk bersama-Mu dalam kehadiran waktu, aku selalu berusaha untuk bersama-Mu.”  
Untuk itu kita harus duduk dalam kesunyian dan kegelapan.  Kita harus seksama 
mengosongkan diri kita dari berbagai keburukan.  Mengapa keburukan-keburukan 
itu tidak condong untuk menginggalkan kita?  Karena kita menyukainya.  Malah 
seringkali kita ini ‘gemar’ dengan penderitaan dan kesedihan yang kita buat 
sendiri.  

Ada sebuah cerita dari sebuah negeri di timur, di mana terdapat sekelompok 
orang yang berkonsentrasi pada meditasi ala Jepang.  Di sebuah kuil Zen, 
pengunjung diantar berkeliling kuil oleh pembimbingnya langsung.  Pengunjung 
tersebut mengatakan bahwa tempat ini pastilah tempat yang suci, karena 
banyaknya orang yang duduk dalam posisi yang khas dan meditatif.  Lalu 
timbullah pertanyaan, “Mereka sedang bermeditasi apa?”  Pembimbing menjawab, 
“Orang ini bermeditasi mengenai film yang dia tonton semalam; yang ini mengenai 
tempat tidur, dan lain-lain.”  

Setiap orang sedang melakukan ‘muraqaba’ dengan versinya masing-masing.  Mereka 
melakukannya untuk hal-hal yang salah!  Kalian harus mengerti kepada ‘Siapa’ 
ber-muraqaba harus diarahkan!  Suatu ketika seorang anak muda datang kepada 
Syaikh, “Maulana, Saya bingung—berilah saya rasa damai.  Beberapa waktu yang 
lalu, saya jatuh cinta kepada seorang gadis, dan kami sempat memutuskan untuk 
menikah.  Tetapi di lain pihak, dia menemukan pria lain yang dia suka dan malah 
akhirnya merekalah yang menikah!  Saya sangat menderita akibat hal ini, tak 
tahan rasa sakitnya.”  Lalu Syaikh menjawab, “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. 
 Temui gadis lain dan nikahi dia.”  Si anak muda menjawab, “Usul yang baik, 
Syaikh!  

Tetapi pikiran saya selalu terbersit oleh kenangan akan gadis itu dan jikalau 
saya mencoba jutaan kali, Saya tidak bisa melupakannya.”  Syaikh bertanya, 
“Mengapa kamu sampai mengingatnya seperti demikian?”  Anak muda itu menjawab, 
“Sebenarnya bukan saya sengaja melakukannya, tetapi selalu saja hal itu datang 
ke ingatanku Syaikh.  Selalu saja bayangannya melewati nuansa pikiran ini.  

Nah bukankah hal ini sangat luar biasa?  Si anak muda tidaklah sampai menyembah 
gadis itu; tidak pernah menerima formulasi wirid dari gadis itu yang memuat 
nama-nama atribut sang gadis.  Inilah konsekuensi dari kebersamaan.  Ketika 
meletakkan seseorang di kalbu dengan rasa cinta (mahabbah), kita tidak akan 
mampu untuk menghilangkannya.  Inilah buahnya muraqaba.  Lalu mengapa kita 
tidak melakukan hal tersebut terhadap Syaikh atau guru kita?  Sang Syaikh hanya 
memerlukan satu kali untuk memasuki kalbu dan pikiran kita—lalu akan terus 
bersemayam di dalamnya terutama setelah mahabbah, kita pun berkonjugasi dengan 
itu.  

Para jamaah seringkali mengatakan, “Ya Maulana, kami sudah mencoba muraqaba, 
tetapi sesaat pada saat dimulai, semua hal yang bersifat keduniaan malah 
menghampiri kami.  Suasana kantor, pekerjaan, anak-anak.  Lantas kami harus 
apa?  Syaikh menjawab, “Kalian telah membuat suatu muraqaba.  Kalian harus puas 
dengan hasil tersebut.  Memiliki suasana pekerjaan, kantor, dan anak-anak dalam 
pikiran dan kalbu, itu pun muraqaba namanya.  Setiap hal yang kalian cintai, 
sudah diusahakan, cita-citakan atau tercapai sepanjang hidup kalian selama ini, 
akan membuah dengan sendirinya di dalam diri kalian.  

Saya pun berada dalam situasi yang sama.  Saya ber-muraqaba kepada Syaikh saya. 
 Saya memeluk dan mencium tangan dan kakinya.  Sekarang hal-hal kecintaan 
tersebut secara terus-menerus membuah di dalam kalbu saya.  Dalam kalbu ini 
terus berkata, “Ya Maulana, ya Maulana,”  walaupun pikiran kita tidak 
memerintahkannya.  Ketika sebuah objek yang menimbulkan mahabbah itu sudah 
bervibrasi di dalam kalbu, pada saat itu kalian sudah dalam kondisi muraqaba.  
Ketika semua vibrasi ini berulang, dan berulang lagi, maka objek itu sendiri 
akan hilang.  Inilah tingkatan tertinggi dalam muraqaba.  Hal ini bergantung 
kepada siapa yang kalian cintai.  

Seorang jamaah yang melakukannya dalam kondisi bising mengalami kesulitan, 
karena dia tidak dapat mendengar ‘suara dari dalam dirinya.’  Sebenarnya hal 
itu mudah saja, asal kita mau berusaha setenang mungkin.  Salah satu cara yang 
paling efektif adalah jangan bergerak sama sekali.  Duduk dengan rileks dan 
jangan tegang.  Biarkan tubuh kalian jatuh, ini bagian dari usaha pengosongan 
atribut keduniaan tersebut.  Lepaskan.  Ingat akan Syaikh atau guru-guru kita, 
ingat bahwa Syaikh mampu untuk melihat hal itu.  Ketika kalian bernafas dengan 
tenang, ucapkan di setiap nafas itu, ALLAH, ALLAH, ALLAH, ALLAH!  Demikian 
selanjutnya—tak perlu metode lain.

Wa min Allah at Tawfiq

KAJIAN MEDITASI SUFI, ANGKATAN KE IV, HAQQANI SUFI INSTITUTE & MEDITATION 
CENTER AT RUMI CAFÉ, JL. ISKANDARSYAH RAYA KAV 12-14 NO.3B (RUMAH ASIH), 
KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN. Tel. 0816830748, 08881335003 (Terminal Blok M 
ke Mabua Harley Davidson – sebelum Masjid Syarif Hidayatullah)

SESION PERTAMA :

Hari/ tgl : Jumat, 14 November 2009, Jam 19.00-21.00
Tempat : Rumi Café, Lt. II, Jl. Iskandarsyah Raya Kav 12-14, No 3B

Sesi Pertama - Materi Kajian :
- Pengenalan Apakah Tasawuf dan Mengapa Perlu Guru
- Five Level of The Heart, Lathaif dan Lima Maqam Hati
- Menaklukan Ego dengan Meditasi Sufi
- Penyembuhan dengan Meditasi Sufi

Setiap Peserta mendapat 1 buah Buku Meditasi Sufi. Infak untuk Kajian Meditasi 
sufi hanya Rp. 100.000 (Termasuk Buku Meditasi Sufi, Makalah & Snack/Minuman 
Ringan)

SESSION KEDUA :

Hari / tgl : Sabtu, 15 November 2009, Jam 13.30-15.30
Tempat : Rumi Café, Lt. II, Jl. Iskandarsyah Raya Kav 12-14, No 3B

Sesi Kedua - Materi Kajian :
- Praktek Meditasi Sufi, Langkah Demi Langkah
- Meditasi Sufi dengan Dzikr Sufi Khatam Kawajaga
- Meditasi Sufi dengan Salawat Nabi (Hadrah, Dzikir dengan Gerakan berdiri, 
Sufi Dance dan Whirling Dervishes Rumi)

Setiap Peserta mendapat 1 buah CD Salawat Dalail Khairat untuk Meditasi. Infak 
untuk Kajian Meditasi Sufi hanya Rp. 100.000 ( Termasuk CD Senandung Salawat 
Meditasi, Makalah & Snack/Minuman Ringan)

Pendaftaran melalui email [EMAIL PROTECTED] com atau SMS ke 0816 830 748, 0888 
133 5003 atau Fax ke 021-7255508. Pendaftaran ditutup Jumat 14 November 2008, 
Jam 13.00

Salam, arief hamdani
www.rumicafe. blogspot. com
HP. 0816 830 748




      

Kirim email ke