Tujuan Akhir, Final Destination
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs
Dari buku Mercy Oceans
Bismillahir Rohmaanir Rohim
Grandsyeh kita berkata, "Allah Yang Maha Kuasa menciptakan semua umat manusia,
semua sifat manusia, dan Dia berfirman, 'Aku telah mengarahkan setiap orang
pada tujuannya.' Jadi bagi setiap orang, ada satu tujuan, yang mana ia akan
dituntun.
"Tuhan kita berkata kepada Rasulullah (saw), 'Wahai Muhammad! Untuk meraih
Kehadirat Illahiku, ada banyak jalan! Sebanyak semua nafas dari semua mahluk!'
Setiap hari satu orang mempunya dua puluh empat ribu nafas. Berapa banyak,
kalau begitu, untuk semua umat manusia, untuk semua mahluk? Sebanyak jumlah
tersebut ada banyak jalan guna mencapai kepada Allah.
"Ini merupakan kabar yang sangat baik, tapi apakah tandanya? Allah berfirman,
juga, tak seorangpun tahu dari jalan mana umatKu, hamba-hambaKu, datang
kepadaKu.' Semua jalan menuju kepadaNya. Di setiap arah yang dilalui oleh
seseorang, dia pasti tiba pada Kehadirat Illahiah. Dia Yang Maha Kuasa
berfirman, lagi, 'Tak seorangpun tahu kecuali Aku jalan mana yang oleh
hamba-hambaKu datang kepadaKu. Dengan sekilas, kamu mungkin melihat seorang
hamba melalui jalan yang lain. Tapi ia datang kepadaKu juga. Dia tidak bisa
menemukan apapun kecuali Aku, tidak peduli ke mana dia akan berjalan! Jalan
mana saja yang hambaKu ikuti, dia pasti datang kepadaKu!'
"Umat Budha, umat Kristen, umat Katolik, orang komunis, kaum Konfusius, kaum
Brahma, orang Negro; siapa yang menciptakan mereka? Dialah yang menciptakan
mereka, semuanya, dan masing-masing berkata, "Kita pergi melalui jalan yang
sampai pada Kehadirat Illahi. Sangat, amat banyak jalan; kamu tidak bisa tahu.
Oleh karena itu, Allah berfirman, 'Allay sa'llahu biya kaymi hajimn.' Ini
artinya, 'Tak seorangpun yang mengadili hamba-hambaKu, kecuali Aku! Akulah yang
akan mengadili hamba-hambaKu. Tak seorangpun dari kamu yang akan mengadili,
tidak Iblis, dan tidak pula para nabi! Mereka tidak punya wewenang untuk
mengadili hamba-hambaKu. Akulah Sang Hakim!' Inilah perintah Tuhan kita, Allah
Yang Maha Kuasa."
"Maulana?" tanya seorang murid, "bagaimana dengan jalan menuju ke Neraka?
Apakah akan sampai kepada Allah, juga?"
"Betul," jawab Syeh. "Jalan ke Neraka akan sampai kepadaNya juga, setelah
neraka. Neraka untuk membersihkan orang-orang, membersihkan mereka dari dosa
dan sifat-sifat buruk, dan kemudian menuntun mereka kepada Allah."
"Ya." Sang Syeh berhenti, dan kemudian melanjutkan, "Iman bersifat abadi, kufur
bersifat sementara. Pada semua orang, iman merupakan keadaan yang permanen.
Mungkin ada orang yang akan berada di Neraka selamanya, jika Dia memerintahkan
demikian, tapi setiap orang akan sampai pada Kehadirat IlahiNya. Dia tidak akan
meninggalkan hamba-hambaNya dalam genggaman Setan dan Setan tidak akan menjadi
hakim bagi hamba-hambaNya juga! Kamu pikir Setan akan menang? Setan tidak akan
pernah menang! Allah yang Maha Kuasa adalah Maha Agung! RahmatNya tidak
meninggalkan apa-apa dalam Neraka tiada batas.
"Saya tidak mengerti hal ini," ujar salah seorang saudara. Kemarin anda bilang
bahwa seseorang harus mempunyai pembimbing, yang berada di jalan Allah yang
harus dia ikuti. Sekarang, anda bilang bahwa semuanya berada di jalan Allah."
"Untuk memahami hal ini," jawab Maulana, "Kamu harus mengetahui bahwa ada dua
macam orang. Orang-orang biasa, orang-orang awam yang secara umum puas pada
tindakannya. Mereka tidak melihat kebutuhan untuk mengikuti seseorang. Tapi
siapapun yang memohon tingkatan yang lebih tinggi dalam Kehadirat Ilahi, dia
harus memiliki penuntun. Apakah semua orang punya gelar diploma? Tidak, hanya
beberapa orang. Orang-orang biasa tidak meminta gelar diploma.
"Namun demikian ada juga beberapa orang yang perlu mencapai kedudukan yang
lebih mulia, tingkatan yang paling tinggi di hadapan Kehadirat Ilahi. Tingkatan
pertama yaitu para nabi dan mereka yang berada di jalan para nabi. Kemudian
datang tingkatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Namun semua keagungan datang
pada tingkatan pertama. Merekalah yang akan memiliki keagungan paling banyak,
rahmat paling banyak, cahaya paling banyak. Tentu saja mereka mendekati
Kehadirat IlahiahNya.
"Oleh karena itu, Allah berfirman, 'Kamu harus mengikuti satu orang yang
mendekat kepadaKu agar berada dalam tingkat pertama.' Jika kamu tidak tertarik
pada tingkat pertama, kamu boleh mengambil yang kedua, atau ketiga...kamu
mengerti?"
"Tapi bagaimana dengan mereka yang membelakangi Ka'bah?"
"Beberapa mungkin kembali kepadaNya dengan keinginannya sendiri, tapi sebagian
besar membutuhkan dorongan dengan kekuatan. Bila mereka tidak menerima kekuatan
(memiliki bimbingan), maka kekuatan Ilahiah akan memaksa mereka untuk siap
kembali."
"Jadi, pada akhirnya, setelah Surga dan Neraka, hanya ada Allah?"
"Semua hal ada dalam samudra kekuatanNya. Kita sedang berenang dalam samudra
kekuatan. Kita hanya seperti bayang-bayang; kita tidak memiliki keberadaan yang
nyata bagi Allah yang Maha Kuasa. Dia berdiri sendiri. Dia Qayyum; tidak
memerlukan yang lain untuk membuatnya berdiri. Dia berdiri sendiri. Tapi, kita
sedang berdiri bersamaNya."
Mencoba memahami hal ini, murid yang lain bertanya, "Maka, Allah pada akhirnya
akan selesai dengan ciptaan? Akankah nantinya hanya Dia semata?"
Sang Syeh berbicara, "Tidak akan habis bagi ciptaan. Ciptaan selalu berlanjut,
dan kita merupakan mahluk."
"Jadi apakah maknanya ketika Quran berfirman bahwa, "Semuanya akan musnah,
kecuali wajahNya?"
"Ya," jawab Syeh Nazim, "dunia ini akan musnah. Tapi semua yang milik Allah
yang Maha Kuasa, ruh kita, tidak habis, tidak musnah. Jasmani kita akan musnah,
tapi ruh kita akan bersamaNya selalu. Kita katakan bahwa jasmani kita berasal
dari Alam-al Kahlq,' dan ruh kita (arwah) berasal dari 'Alam al-amr.'"
Saudara yang lain melanjutkan, "Kadang-kadang kelihatannya seperti semua adalah
Allah, dan tidak ada 'saya.'"
Maulana berkata kepadanya, "Kamu menanyakan apakah sang Pencipta dan apakah
mahluk?"
"Ya," jawab sang murid. "Saat kita pergi dari dunia ini apakah kita tetap
sebagai individu? Apakah kita akan duduk, insya Allah, di Surga bersama Nazim
Effendi?"
"Betul, ada kehidupan individu," jawab Syeh.
"Dan apakah kita akan mempunyai ilmu sendiri juga?"
Sang Syeh tersenyum, "Kita akan punya ilmu mutlak."
"Dan keberadaan individu?" salah seorang saudara melanjutkan.
"Dan keberadaan individu!" balas Syeh.
"Betul?"
"Betul!" ucap Maulana. "Kalian mengerti?"
Salah seorang murid menggeleng kepalanya. "Siapa yang bisa menuliskan itu!"
Syeh Nazim tetap sabar. "Kita semua memiliki pribadi individu dalam Kehadirat
Ilahi."
"Saya pernah membaca hal-hal seperti ini, "ucap murid yang lain, "tapi saya
tidak tahu bagaimana untuk benar-benar memahaminya. "
Maulana tersenyum lagi, "Ya," beliau menjelaskan, "karena sekarang, kita masih
di permulaan. Kamu tidak bisa melukiskan kepada seseorang bagaimana caranya
bekerja." Beliau berhenti sejenak, dan menggerakkan alat rekam yang kita sedang
gunakan untuk merekam kuliah beliau. "Ini adalah alat rekam," ujar beliau.
"Dapatkah kamu menjelaskan pada orang awam bagaimana caranya bekerja? Kamu
tidak bisa menjelaskan. Dia bisa mengamatinya dan melihat bahwa alat tersebut
bekerja. Hanya beberapa orang yang bisa mengetahui ini. Setiap waktu kita
meningkatkan derajat ilmu kita, kita semakin memahami. Kamu meminta hal-hal
yang kita belum siap untuk pahami."
"Kita mengetahui bahwa kita mahluk," sang Syeh melanjutkan, "dan bahwa kita
diciptakan oleh sang Pencipta. Bagaimana kita diciptakan, berada di mana, dan
ke mana kita melangkah, kita tidak bisa tahu hingga realitas tersebut dibuka
kepada kita. Setiap waktu kita melangkah maju, melangkah maju, datang...
Tidak mungkin berbicara mengenai warna kepada orang buta. Kamu tidak bisa
melukiskan wajah yang baik dari wajah yang buruk, atau malam dari siang, hijau
dari merah, putih dari hitam, apakah hijau? Apakah biru? Apakah merah? Apakah
cantik? Apakah buruk? Dapatkah kamu melukiskan ini pada orang buta? Tidak
mungkin. Sekarang mata hati kita tertutup. Masih harus dibuka, guna melihat
realitas tersebut. Sekarang, kita sedang meyakini saja. Kita harus meyakini,
maka hal ini akan tumbuh; akan terbuka."
"Maulana? Mohon, apakah yang orang-orang lakukan di Surga? Apa pekerjaan
mereka?"
Syeh Nazim menjawab, "Sebagaimana Allah berfirman, 'pekerjaan yang amat
menyenangkan! '"
"Namun apakah Allah menyebutkan di Quran apa yang dikerjakan para penghuni
Surga?"
"Pekerjaan yang sangat menyenangkan, " ulang Maulana. "Mereka menatap WajahNya
dan menatap Cahaya IlahiahNya datang di Surga; berenang dalam samudra
keindahan, berenang dalam samudra kebahagiaan. Mereka mabuk! Mabuk dengan
kenikmatan atas Wajah Ilahiahnya dan samudra keindahan! Pekerjaan apa yang kamu
minta! Kamu gila!"
Pada saat ini semua orang mengalami keadaan yang menggelikan, tertawa dan
tersenyum, seperti dalam keadaan setengah mabuk. Saudara yang terus bertanya
pada Syeh Nazim tentang penghuni Surga mencoba melanjutkan pendapatnya:
"Tapi," ujarnya, "bukankan mereka tetap berhubungan dengan bumi?"
"Bumi!" jawab sang Syeh, dengan keheranan, "Phtt!" beliau membuat isyarat yang
tidak menyenangkan.
Sang murid melanjutkan, "Tapi para wali - mereka bekerja di atas bumi bukan?
Bukankah Grandsyeh berada dalam hubungan dengan anda, walaupun beliau berada di
Surga?"
"Setelah kiamat, kita berada di Surga," jawab Maulana.
"Tapi bukankah beberapa orang sudah berada di Surga?" tanya sang murid.
"Surga?" ulang sang Syeh, "Ini adalah Surga Barzakh! Ketika semua pengadilan
selesai, maka orang akan berada di Surga!"
Lagi-lagi, sang murid bertanya, "Apakah Awliya hidup di Barzakh?"
"Ya."
"Mereka senang di sana juga?"
"Ya," sang Syeh kini tertawa, "bersenang-senang. ..melihat kamu; terlalu banyak
tertawa sekarang!"
Sekarang, setiap orang tertawa. Lebih banyak pertanyaan muncul:
"Apakah Rasulullah (saw) juga berada dalam eksistensi Barzakh?"
"Ya."
"Tapi beribadah di bumi?"
"Beribadah apa!"
"Para wali beribadah di bumi dari Barzakh juga bukan?"
Pada saat ini, saudara yang lain mengajukan pertanyaan lain: "Saya ingat
pertama kali saya di London." dia memulai, "anda menggambarkan kubur. Anda
menceritakan dua kisah malam itu. Satu tentang Mi'raj; di mana Rasulullah (saw)
melihat samudra rahmat dan kasih sayang yang tiada batas. Pintu terbuka bagi
beliau dan beliau melihat sebuah pohon."
"Oh ya!" ingat Maulana.
Saudara tersebut melanjutkan, "Dan, dalam pohon itu ada seekor burung, dengan
segumpal kotoran dalam mulutnya. Muhammad (saw) berkata pada burung tersebut,
'Apa benda yang kamu pegang?' dan burung tersebut menjawab, 'Wahai Rasul,
inilah dosa-dosa umat manusia; segumpal kecil kotoran ini! Apa jadinya ketika
jatuh ke dalam samudra yang amat luas yang engkau lihat di hadapanmu? Tak ada!'"
Sang murid melanjutkan, "Lalu anda menceritakan kisah tentang seperti apa di
dalam kubur. Anda berkata, 'ketika kamu mati dan malaikat menunjukkan kamu
sebuah nama Ilahiah. Maka ruh kamu keluar dan kemudian habis."
"Ya, saya ingat," ujar Syeh.
"Lalu," ujar saudara kami, "anda menceritakan kepada kami bahwa orang mati akan
melihat benda yang mengerikan di hadapannya. Orang mati tersebut akan mencoba
melarikan diri darinya, tapi benda tersebut akan datang mengejarnya dan
berkata, 'Oh betapa engkau senang ketika bersamaku saat engkau masih hidup!
Mengapa kau lari dariku sekarang? Bukankah engkau mengenali aku? Akulah
perbuatan-perbuatan burukmu!' Yang saya tanyakan adalah: apakah kita terbatas
setelah mati di dalam kubur? Apakah kita betul-betul berada dalam tanah?"
Syeh Nazim menjawab seperti ini: "Betul, ada jasmani dan rohani dalam kubur.
Itu berasal dari RahmatNya; untuk membersihkan hambaNya sebanyak hamba tersebut
membuat kotor dirinya di kehidupan ini. Dia harus bersih, maka Allah membuatnya
bersih di dalam kubur. Dia membersihkan hamba tersebut hingga Hari Kiamat.
Maka, hamba tersebut akan datang dalam keadaan suci.
Seorang murid berkomentar, "Anda memberikan pelajaran yang baik, Maulana ketika
anda menceritakan kepada kita bahwa tidak ada raja tanpa kerajaan, tidak ada
nabi tanpa umat, tidak ada Pencipta tanpa ciptaan. Allah tidak tercipta dan
para hamba juga tidak tercipta. Tapi saat kita datang ke dalam kehidupan ini,
kita lupa."
"Ya," jawab Syeh. "Sudah cukup. Kalian tidak bisa masuk lebih dalam lagi tanpa
tenggelam!"
Illahi anta maqsudi wa ridhaka mathlubi
you are my goal and your pleasure is my desire
wasalam, arief hamdani
www.rumicafe.blogspot.com