*) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York.
Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di
www.hidayatullah.com


Sekitar awal September 2006 lalu, kelas Islamic Forum for non Muslims
kedatangan seorang gadis bule bermata biru. Duduk di salah satu sudut
ruang dengan mata yang tajam, hampir tidak kerkedip dan bahkan
memperlihatkan pandangan yang tajam. Beberapa kali lolucen yang saya
sampaikan dalam kelas itu, tidak juga menjadikannya tersenyum.



Ketika sesi tanya jawab dimulai, sang gadis itu mengangkat tangan, dan
tanpa tersenyum menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan
sebagian peserta ternganga, dan bahkan sebagian menyangka kalau saya
akan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan itu. 



“If Muhammad is a true prophet, then why he robbed and killed?”,
tanyanya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Why he forced the Jews
to leave their homes, while they have been settled in Madinah a long
time before Muhammad was born?”, lanjutnya.



Sambil tersenyum saya balik bertanya, “Where did you get this
information? I mean, which book did you read”. Dia kemudian
memperlihatkan beberapa buku yang dibawanya, termasuk beberapa
tulisan/artikel yang diambil dari berbagai sumber di internet. Saya
meminta sebagian buku dan artikel tersebut, tapi justru saya tidak
menanggapi pertanyaan-pertanyaannya.



Saya balik bertanya, “Where are you from and where do you live?”.
Ternyata dia adalah gadis IOWA yang sekarang ini tinggal di
Connecticut. 



Sambil memperkenalkan diri lebih jauh saya memperhatikan “kejujuran”
dan “inteligensia” gadis tersebut. Walaupun masih belum bisa
memperlihatkan wajah persahabatan, tapi nampaknya dia adalah gadis apa
adanya. 



Dia seorang “saintis” yang bekerja di salah satu lembaga penelitian di
New York. Tapi menurutnya lagi, dan sinilah baru nampak sedikit senyum,
“I am an IOWAN girl”. Ketika saya tanya apa maksudnya, dia menjawab: “a
very country girl”.



Oleh karena memang situasi tidak memungkin bagi saya untuk langsung
berdebat dengannya perihal pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan, saya
mengusulkan agar pertanyaan-pertanyaannya dikirimkan ke saya melalui
email, untuk selanjuntnya bisa berdiskusi lewat email dan juga pada
pertemuan berikutnya. Kelas sore itupun bubar, tapi
pertanyaan-pertanyaan gadis IOWA ini terus menggelitik benak saya.



Di malam hari, saya buka email sebelum tidur sebagaimana biasa. Gadis
IOWA ini pun memenuhi permintaan saya. Ia memperkenalkan diri sebagai
Amanda. Ia mengirimkan email dengan lampiran 4 halaman penuh dengan
pertanyaan-pertanyaan –khususunya-- mengenai Rasulullah SAW. Saya
sekali lagi tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tapi
mengajak untuk datang ke kelas Islamic Forum pada Sabtu berikutnya.



Ternyata, mungkin dia sadari sendiri bahwa beberapa peserta Forum pada
Sabtu tadi kurang sreg dengan pertanyaan-pertanyaannya yang dianggap
terlalu “polos dan tajam”. Maka dia mengusulkan kalau saya bisa
menyediakan waktu khusus baginya untuk diskusi. Sayapun menerima usulan
itu untuk berdiskusi dengannya setiap Kamis sore setelah jam kerja di
Islamic Center. 



Kita pun sepakat bertemu setiap jam 5:30 hingga 7:00 pm. Satu setengah jam 
menurut saya cukup untuk berdiskusi dengannnya.



Tanpa diduga, ternyata bulan Ramadhan juga telah tiba. Maka
kedatangannya yang pertama untuk berdialog dengan saya terjadi pada
Kamis ketiga bulan September 2006, di saat kita sedang bersiap-siap
untuk berbuka puasa. 



Dia datang, seperti biasa dengan berkerudung seadanya, tapi kali ini
dengan sangat sopan, walau tetap dengan pandangan yang sepertinya
curiga.



Kita memulai diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikirimkan
lewat email itu. Ternyata, baru satu masalah yang didiskusikan,
sesekali diselingi sedikit perdebatan yang emosional. Adzan buka puasa
telah dikumandangkan. Maka dengan sopan saya minta izin Amanda untuk
berbuka puasa, tapi tidak lupa menawarkan jika ingin bergabung dengan
saya. Ternyata, Amanda senang untuk ikut makan sore (ikut buka) dan
nampak menikmati hidangan itu.



Setelah berbuka puasa, karena harus mengisi ceramah, saya sampaikan ke
Amanda bahwa diskusi kita akan dilanjutkan Kamis selanjutnya. Tapi jika
masih berkenan hadir, saya mempesilahkan datang ke Forum hari Sabtu.
Dia berjanji untuk datang.



Sabtu berikutnya, dia datang dengan wajah yang lebih ramah. Duduk
nampak lebih tenang, tapi seolah masih berat untuk tersenyum. Padahal,
diskusi saya itu terkadang penuh dengan candaan. Maklumlah, selain
memang dimaksudkan untuk tidak menampilkan Islam dengan penuh “kaku”
saya ingin menyampaikan ke mereka bahwa Muslim itu juga sama dengan
manusia lain, bisa bercanda (yang baik), tersenyum, dan seterusnya.



Amanda nampak serius memperhatikan semua poin-poin yang saya jelaskan
hari itu. Kebetulan kita membahas mengenai penciptaan Hawa dalam
konteks Al-Qur’an. Intinya menjelaskan bagaimana proses penciptaan Hawa
dalam prospektif sejarah, dan juga bagaimana Al-Qur’an mendudukkan Hawa
dalam konteks “gender” yang ramai diperdebatkan saat ini. Keseriusan
Amanda ini hampir menjadikan saya curiga bahwa dia sedang mencari-cari
celah untuk menyampaikan pertanyaan yang menyerang.



Ternyata sangkaan saya itu salah. Kini Amanda sebelum menyampaikan
pertanyaan justeru bertanya dulu, “Is it ok to ask this question?”.
Biasanya dengan tegas saya sampaikan, “Nothing is to be hesitant to ask
on any thing or any issue in Islam. You may ask any issue range from
theological issues up to social ones”.



Amanda pun menanyakan beberapa pertanyaan mengenai wanita, tapi kali
ini dengan sopan. Hijab, poligami, konsep “kekuasaan” (yang dia
maksudkan adalah qawwamah), dll. Saya hampir tidak percaya, bagaimana
Amanda paham semua itu. Dan terkadang dalam menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan itu disertai bukti-bukti yang didapatkan dari
buku-buku --yang justeru-- ditulis oleh para ulama terdahulu.



Saya berusaha menjawab semua itu dengan argumentasi-argumentasi
“aqliyah”, karena memang saya melihat Amanda adalah seseorang yang
sangat rasional. Alhamdulillah, saya tidak tahu, apakah dia memang puas
atau tidak, tapi yang pasti nampak Amanda mengangguk-anggukkan kepala.



Demikian beberapa kali pertemuan. Hingga tibalah hari Idul Fitri.
Amanda ketika itu saya ajak untuk mengikuti “Open House” di rumah
beberapa pejabat RI di kota New York. 



Karena dia masih kerja, dia hanya sempat datang ke kediaman Wakil Dubes
RI untuk PBB. Di sanalah, sambil menikmati makanan Indonesia, Amanda
kembali menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tajam. “If Islam respects
religious freedom, why Ahmadiyah in Indonesia is banned? Why Lia
Aminuddin is arrested?”.



Saya justeru terkejut dengan informasi yang Amanda sampaikan. Saya
pribadi tidak banyak membaca hal ini, dan tidak terlalu mempedulikan.
Maka saya jelaskan, dalam semua Negara tentu ada peraturan-peraturan
yang perlu dipatuhi. Ahmadiyah dan Lia Aminuddian, jelas saya, bukan
mendirikan agama baru tapi mendistorsi agama Islam. Oleh karena mereka
merusak agama yang diyakini oleh masyarakat Muslim banyak, pemerintah
perlu menertibkan ini. Kelihatannya penjelasan saya kurang memuaskan,
tapi diskusi kekudian berubah haluan kepada makanan dan tradisi halal
bihalal.



Singat cerita, beberapa Minggu kemudian Amanda mengirimkan email dengan
bunyi sebagai berikut, “I think I start having my faith in Islam”. Saya
hanya mengatakan, “All is in God’s hands and yours. I am here to assist
you to find the truth that you are looking for”. Cuma, Amanda
mengatakan bahwa perjalanannya untuk belajar Islam ini akan mengambil
masa yang panjang. 



“When I do some thing, I do it with a commitment. And I truly want to
know Islam”. Saya hanya menjawabnya, “Take you time, Amanda”.



Alhamdulillah, setelah mempelajari Islam hampir tujuh bulan, dan
setelah membaca berbagai referensi, termasuk tafsir Fii Zilalil Qur’an
(Inggris version) dan Tafhimul Qur’an (English), dan beberapa buku
hadits, Amanda mulai serius mempelajari Islam.



Minggu lalu, ia mengirimkan email ke saya. Isinya begini, “I have
decided a very big decision..and I think you know what I mean. I am
very scared now. Do you have some words of wisdoms?”.



Saya menjawab, “Amanda, you have searched it, and now you found it. Why
you have to be scared?. You believe in God, and God is there to take
your hands. Be confident in what you believe in”.



Tiga hari lalu, Amanda mengirimkan kembali emailnya dan mengatakan
bahwa dia berniat untuk secara formal mengucapkan “syahahat” pada hari
Senin mendatang (tanggal 5 Maret 2007 kemarin). Saya bertanya, kenapa
bukan hari Sabtu atau Ahad agar banyak teman-teman yang bisa mengikuti?
Dia menjawab bahwa beberapa teman dekatnya hanya punya waktu hari Senin.



Alhamdulillah, disaksikan sekitar 10 teman-teman dekat Amanda (termasuk
non Muslim), persis setelah adzan Magrib saya tuntun ia melafazkan
“Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah-wa asyhadu anna Muhammadan Rasul
Allah”, diiringi pekik takbir dan tetesan airmata beberapa temannya
yang ikut hadir. Amandapun melakukan shalat pertama sebagai Muslim sore
itu diikuti dengan doa bersama semoga Allah menguatkan jalannya menuju
ridho Ilahi.



Amanda, selamat dan semoga Allah SWT selalu menjagamu dan menjadikanmu 
“pejuang” kebenaran! [www.hidayatullah.com]



New York, 6 Maret 2007

Kategori :
                      Hidayah & Kisah Mualaf



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Usaha Berubah, Selalu Kalah ?

Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda 
ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru 
semakin frustrasi ? 

Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, 
Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak 
terkendali ? 

No Problem ! Di SERVO Aja !

S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional, menemukan 
potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda 
seperti milik para BINTANG. 

Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
 
- Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis 
seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia 

- Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, 
panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual 

- Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk 
seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi 

- Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, 
bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan 

- Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati 
diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik 
dibidangnya 

- Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda 
untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial 
Anda.  

Kesaksian !

Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi 
setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang 
tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... 

Hubungi : http://klinikservo.com/
 
(021) 5574 5555, 554 6009

---

TERAPI GRATIS !

FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, 
Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke