Sebuah fenomena yang amat menyedihkan, melihat sekian banyak anak
bangsa semakin dibodohi dan diperbudak hanya untuk kepentingan
segelintir kelompok yang tidak bertanggung jawab. Sebuah proyek
penyesatan, baik dalam hal kesesatan penafsiran Al-Quran maupun
keilmiahan yang mengakibatkan pembodohan dikalangan aktifis NII KW9.
Mereka memanfaatkan orang yang memiliki semangat perjuangan menegakan
syariat Islam. Hingga kemasannya pun dapat mengelabui, para aktifisnya
tak merasa bersalah terhadap apa yang mereka lakukan, bahkan
menganggap apa yang dilakukan adalah bagian dari ibadah dan perjuangan
penegakan syari'at Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.

Premis umum dikalangan NII KW9 yang terdoktrin lewat Mabadi Tsalasah
yaitu diluar kelompoknya adalah kafir. Tidak bernegara Islam, kafir.
Berpartai berarti kafir dan demokrasi adalah produk kafirin. Pokoknya
yang ada urusan dengan Republik Indonesia dan segala sistem yang
mendukungnya diluar NII KW9 adalah kafir.

Konon katanya, Visi and misi NII KW9 adalah memberantas kekafiran
(tanpa jadi kafir ya) dan menggantikan sistem di Negara ini jadi
Negara Islam. Proses akhir itu, Futuh dalam bahasa mereka, di program
selama 15 tahun. Dan tahun depan, 2009, program tersebut sudah
mencapai deadline dan harus mencapai hasil.

Semakin mendekati angka keramat itu, semakin pusing juga para pimpinan
NII KW9 mengambil langkah. Pasalnya, perangkat untuk mencapai futuh
belum ada. Logistik, infiltrasi personil ke pemerintahan, senjata
untuk kudeta, umat yang militan atau "penaklukan" militer hanya
awang-awang belaka. Boro-boro memiliki itu semua, mempertahankan para
jamaahnya saja keteteran. Lalu, pertanyaan besarnya kini adalah,
bagaimana caranya futuh?.

Inilah hebatnya Panji Gumilang. Otaknya berputar seperti gansing,
kadang miring ke kiri, kadang miring ke kanan. Kali ini, miringnya
tidak tanggung-tanggung, menjadi tim sukses pemilu legislatif dan
eksekutif untuk partai Republikan. Dikutip dari hasil Ijtima Wilayah
NII KW9 pada awal bulan Dzulhijah 1429 H, sekitar seminggu lalu,
Syaikh menyatakan, "hai orang-orang yang beriman responlah ajakan
ALLAH dan Rasul yang hari ini di rindukan masyarakat Indonesia. Kita
diharapkan mensukseskan hajat Indonesia ini (pemilu). Ini bukan
sukarela, tapi kewajiban.kalau tidak dijalankan ada sanksi. Jihad hari
ini kita memasuki dinamika politik sesuai konstitusi, mengutip surat
48/27. kebetulan kita lagi cari kendaraan, sekarang ada yang
menawarkan kendaraan itu secara gratis, kenapa tidak kita manfaatkan
saja. Yang penting bagi kita bukan kendaraannya, tapi sampai ke tujuan
(proklamasi NII). Kita sekarang ibarat sang bayi, kalau sudah waktunya
lahir maka pasti akan lahir juga. Yang tidak sesuai dengan konstitusi
saja, kita mampu memobilisasi musyahadutul hijrah, apalagi yang legal.
Kalau kita mau, pasti sangat mudah. Allah kuasa menyusun tulang-tulang
yang berserakan (2/259). Makanya ini tugas berat territorial dan ini
mutlak harus berhasil.Lihat perang Badar yang menang walau Umat Islam
hanya sedikit (3:103)."

Pernyataan sang Syaikh, lucunya, di respon bak perintah nabi dan rasul
beneran oleh jamaahnya. Kontan, sekarang sudah dibentuk tim sukses di
lima wilayah daerah pemilihan. Bukan itu saja, mereka juga sudah
menyiapkan kadernya untuk menjadi caleg serta menyiapkan kantor dengan
semuanya dibiayai atas dana umat. Weleh..weleh, ini berjuang gaya
Islam atau solusi dalam kondisi kepepet. Kalau kita kembalikan ke
doktrin mereka, sebenarnya yang kafir siapa ya?.

Terakhir Syaikh menutup pidatonya, "Dukung Caleg jalan, Hujumah
Tafsiriah jalan, Maliyah jalan, Bersepeda jalan, jadi kita harus
pintar membagi waktu. Hujumah Tafsiriyah harus sampai pada angka
Tertinggi . Kita harus bisa jadi Manager maupun sebagai Katalisator.
Pandai-pandai dalam menghadapi masalah yang menimpa kita karena
perjuangan kita sudah hampir menuju kemenangan, FUTUH NII DAN RI
SEGERA HANCUR."

Subhanallah, sudah miring nyeleneh pula. Mengaku iman tapi kelakuannya
seperti kafirin. Mengaku berjuang tapi dibawah bendera demokrasi yang
dianggap kafir oleh mereka sendiri. Dimana letak perjuangan
sebenarnya?. Di hati atau di kantong?. Dimana letak iman dalam diri
mereka? Di qalbu atau saku?.

---

Kirim email ke