penulis :
Umarul Faruq Abubakar


Sesungguhnya saat ini adalah waktu yang sangat tepat bagi kita,
orang-orang 'Ajam (non-Arab) di Timur, untuk membuktikan bahwa kita
pun mampu memberi. Kita buktikan bahwa kita masih merasakan kesatuan
sebagai saudara sesama muslim. Bahwa persaudaraan keislaman lebih
tinggi dibanding dengan Nasionalisme Arab yang digembar-gemborkan
begitu kuat. Bahwa kita adalah bagian dari Gaza dan Gaza adalah bagian
dari kita.

Saat dimana bangsa arab mempertontonkan lelucon yang tidak lucu kepada
dunia. Lelucon yang bayarannya adalah lepasnya nyawa dan hilang harta
benda yang tidak sedikit. Bagi para pemimpin Arab, Palestina seakan
adalah negeri yang berasal dari planet lain dan bukan bagian dari
Arab, walau garis teritorialnya begitu dekat.

Ditengah serangan yang tak henti dari pasukan Zionis tentu adalah lucu
bila hasil pertemuan para petinggi Liga Arab di Kairo (31/12/08) itu
hanya menghasilkan keputusan agar Hamas mau menarik senjata dan
menahan serangannya ke Selatan Israel agar warga Yahudi disana dapat
tidur tenang, sementara Israel dibiarkan meluncurkan senjata
pemusnahnya untuk warga muslim di Palestina dan membiarkan mereka
menanti kematian dalam malam-malam yang dingin..

Lelucon yang kedua adalah, keputusan Liga Arab yang meminta bantuan
kepada Dewan Keamanan PBB untuk menyelesaikan masalah ini. Padahal,
PBB dalam hal ini sama sekali tidak berpihak kepada kemanusiaan yang
terjadi di dunia Islam. Sejarah sudah cukup menjadi bukti. Pada
Perjanjian Biltmore 04 Mei 1942 antara Amerika Serikat (AS) dan Bangsa
Yahudi, AS berjanji membantu Yahudi untuk merampas tanah Palestina.
Tahun 1947, Inggris, AS, dan Rusia menaikkan masalah Palestina ke PBB.
Dan, PBB kemudian mengeluarkan resolusi No.181, 29 Nopember 1947 yang
menetapkan pembagian wilayah Palestina menjadi tiga bagian: 54% untuk
Yahudi, 45% untuk Arab, dan 1% untuk wilayah internasional. Sore hari
tanggal 14 Mei 1948, David Ben-Gurion, Pemimpin Zionis,
mendeklarasikan negara ilegal Israel di bumi milik rakyat Palestina.

Terbukti kini, bahwa PBB memang enggan untuk membantu. Hingga hari
kesebelas penyerangan Israel ini, Dewan Keamanan yang terhormat itu
belum melakukan apa-apa. Pemerintah AS menolak serangan ini dihentikan
(Tv Aljazeera, 6/1/09) dan PBB mendengar dengan patuh aspirasi Uncle
Sam itu. Suara Bush, Syarkozi dan Blair masih lebih berharga dari
suara dunia.

Lelucon lain yang masih juga dilakukan adalah berdebat tentang siapa
yang bertanggungjawab atas penyerangan Gaza ini dan apa sebabnya. Itu
sama halnya dengan rumah yang kebakaran, ketika api tersulut dan mulai
membesar, para penghuninya hanya duduk sambil sibuk memperbincangkan
siapa yang menyebabkan kebakaran. Mestinya mereka bangkit dulu untuk
memadamkan apinya, baru kemudian mencari tahu penyebab kebakaran itu
untuk diwaspadai di hari hari selanjutnya.

Seandainya para pemimpin Arab ingin bisa berbuat banyak. Paling tidak,
seperti kata analis Mesir Fahmy Howeidy di surat kabar harian Mesir,
Ad-Dustur (2/1/09), ada tiga hal penting yang bisa mereka lakukan:

Pertama, menghentikan serangan Israel terhadap Gaza. Dunia Arab sangat
bisa melakukan hal ini. Blokade Israel terhadap pasukan Hizbullah
Lebanon dapat diluluhlantakkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Perang Israel-Mesir yang dibantu oleh negara Suriah dan negara arab
lainnya tanggal 6 Oktober 1973 telah membuktikan akan keperkasaan
Mesir, dan menjadi kisah kepatriotan yang membanggakan bagi warga
Mesir hingga saat ini.

Kedua, menghentikan blokade Gaza dan membukan gerbang Rafah. Hal ini
bisa dilakukan dengan mendesak PBB untuk menghentikan blokade ini.
Atau bisa dilakukan sendiri dengan ikut bersama pasukan HAMAS
menghadapi kekuatan Israel.

Korban di Gaza telah menggunung. Seharusnya Mesir tidak perlu menuruti
permintaan Zionis untuk tidak membukan Gerbang Rafah. Di gerbang
inilah adanya harapan setitik kehidupan kini. Namun masih saja
presiden Husni Mubarak enggan melakukan hal itu sebelum mendapat izin
dari Olmert.

Ketiga, setelah menyelesaikan dua permasalahan diatas, pimpinan Arab
bisa memediasi pertemuan HAMAS dan FATAH serta gerakan perlawan
lainnya untuk duduk bersama membicarakan penataan Palestina dan
penyelamatan keping-keping nyawa yang masih tersisa disana.

Tapi mereka tidak mau. Dan inilah hasilnya. Hingga saat ini (6/1), 550
nyawa telah melayang dan 2550 lainnya luka-luka (www.islammemo.c)
Belum terhitung bangunan rumah yang luluh lantak, sekolah-sekolah yang
roboh dan gedung perkantoran serta instansi yang tidak bisa digunakan
lagi. 

Benarlah pepatah arab yang menyatakan bahwa 'Indasy Syada'idi tu'raful
Ikhwan', ketika kesusahan baru dapat diketahui mana saudara sesungguhnya.

Kirim email ke