Gerhana, suatu Tanda Kekuasaan Allah swt
Mawlana Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqani ق
Sohbet, 28 Maret 2006
Bismillahi r-Rahmani r-Rahiim
Besok akan terjadi gerhana matahari. Orang Arab menggunakan kata yang berbeda
untuk menyebut Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan. Sedangkan orang Turki
menyebutnya 'tutulmasi' – baik untuk gerhana matahari maupun gerhana bulan,
demikian mudah...
Segala sesuatu yang wujud tak dapat melakukan apa pun dengan atau oleh dirinya
sendiri. Semua yang wujud berada di bawah Kerajaan Langit. (Kerajaan atau
Mulk lebih daripada Malakut. Allah adalah Muhaymin ‘ala l-Mulk wa-l Malakuut
). Karena itu, peristiwa gerhana adalah suatu kejadian besar di langit, di
ruang angkasa, bahwa matahari akan kehilangan cahayanya sebagian atau
keseluruhan dan orang-orang pun mengatakan berbagai hal tentangnya.
Dan Penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad Salallahu alayhi wasalam, beliau
memberikan sedikit informasi tentang gerhana matahari atau gerhana bulan,
tetapi beliau tidak akan memberikan ta’rif atau ta’bir, deskripsi atau definisi
lengkap tentang peristiwa tersebut, karena Nabi Muhammad saw – Sayyidina
Rasulullah saw – beliau tidaklah diperintah atau diizinkan oleh Allah swt untuk
menjelaskan segala sesuatunya yang akan terjadi secara detail, tidak. Beliau
tak pernah diberi izin untuk memberikan deskripsi lengkap atau pun informasi
tentang bagaimana peristiwa gerhana matahari atau gerhana bulan tersebut
terjadi.
Dan kepentingan beliau, kepentingan Nabi saw adalah untuk menyeru manusia
menuju pada penghambaan pada Tuhan mereka. Sebagaimana seseorang yang menjaga
dan mengurus Istana sang Sultan, Mudir Tashifaat wa t-ta’limaat, jika ia mesti
membawa seseorang ke suatu titik atau tempat penting di Istana tersebut, ia pun
hanya membawanya ke tempat tersebut sambil mengatakan, “Inilah kepentinganmu,”
ia tidak akan berdiri dan berkata menjelaskan, “Bangunan ini adalah seperti
ini, bangunan itu seperti itu,...” Tidak... tak pernah ia menjelaskan
detail-detail istana tersebut. Apa yang mesti dilakukan orang tersebut,
hanyalah memberikan detail akan tempat tertentu [yang penting] bagi orang yang
dibawanya, ia tak akan memberikan deskripsi lengkap tentang keseluruhan Istana,
tidak.
Kini, Nabi Muhammad saw -- beliau telah diperintahkan untuk menyeru manusia
pada penghambaan kepada Tuhan mereka, dan bagi seseorang yang telah diberikan
kepentingan tersebut, yang telah diminta untuk melakukan (sesuatu tersebut),
adalah tak benar untuk meninggalkan hal tersebut serta melihat-melihat ke hal
lain dan meminta pemahaman. Allah mengatakan: Tujuh Langit dan Tujuh Bumi.
Kita akan mengetahui hal ini, Timur dan Barat, Negara-negara Barat,
Negara-negara Timur. Dan Setan tengah membuat orang melupakan kepentingan
mereka – melupakan apa yang mereka telah diseru untuk melakukannya. Seperti
seorang pelayan yang tengah membersihkan lantai, kemudian ia melihat sesuatu di
lantai tersebut, maka kemudian ia melemparkan sapunya, dan ia pun terkesima
melihat barang itu sambil berkata, “Ohhh, lihat!” Tidak, tidaklah benar untuk
melakukan seperti ini!
Karena itu, Nabi saw mengetahui segala sesuatunya berkenaan dengan makhluk
ciptaan – lebih tahu dari siapa pun (ciptaan) yang lain; mungkin setiap makhluk
yang lain mengambil informasi yang sejati dari beliau. Hakikat segala sesuatu
dari ciptaan, beliau mengetahuinya.
Beliau saw bersabda, “Ada gerhana matahari dan ada gerhana untuk bulan”, tetapi
beliau tak pernah memberikan penjelasan lengkap tentangnya, karena hal itu
tidaklah diperlukan. Beliau hanya boleh mengatakan, “Hal itu adalah suatu
peristiwa yang hanya Allah mengetahui bagaimana ia terjadi, suatu gerhana
menimpa matahari atau suatu gerhana menimpa bulan.” Beliau tidaklah mengatakan
bahwa suatu bayangan dari bumi menimpa bulan atau bayangan dari bulan menimpa
matahari dan kemudian terjadilah peristiwa itu di ruang angkasa, (untuk
menjelaskan) suatu gerhana. Tidak, beliau tidak mengatakan detail
peristiwa-peristiwa tersebut.
Beliau saw hanya menginformasikan bahwa gerhana matahari maupun gerhana bulan
adalah di antara Tanda-tanda (Aayaat) Allah dari Atribut Kekuasaan-Nya, suatu
tanda besar bahwa hanya Diri-Nyalah yang mampu melakukan hal ini di seluruh
ruang angkasa: untuk menimpakan kegelapan atas cahaya selama beberapa saat dan
kemudian membawa pergi kegelapan itu, hingga cahaya pun tiba kembali.
Dan beliau mengatakan bahwa, “Saat kegelapan tiba, ke manakah perginya cahaya?”
Atau beliau mengatakan, “Saat cahaya tiba, ke manakah kegelapan pergi?” Hanya
Ia yang Mengetahuinya, Allah swt”, dan Ia memberikan pengetahuan khusus tentang
ciptaan pada hamba-Nya tercinta Sayyidina Muhammad saw – beliau hanya
mengatakan, “Ini ‘min aayaati-llah’, ini adalah tanda Kebesaran Allah serta
Sifat Keagungan-Nya yang tak seorang pun mampu menghentikannya atau tak seorang
pun mampu menggerakkannya.” Beliau hanya mengatakan hal ini dan ini sudah
lebih dari cukup bagi para hamba!
Kalian mesti mengetahui bahwa Dia Yang Menciptakan matahari atau bulan, hanya
Dia pula-lah Yang Mampu memberikan Perintah-Nya dengan bebas pada Matahari atau
Bulan, hanya Ia-lah yang dapat berkata, “Kegelapan datanglah pada matahari, dan
selimutilah dia, wahai kegelapan datanglah pada kecerahan!” Atau Ia pulalah
Satu-satunya yang mampu berkata, “Wahai Bulan, tutupilah kecerahan dan cahaya!”
Bukan siapa pun yang lain. Ini cukup bagi diri kita! Kita tak pernah
ditawari [atau diperintahkan, red.] untuk mengetahui secara mendalam, lebih
dalam dan lebih dalam, tidak. Tidak pula ditawari untuk menanyakan alasan ini,
alasan itu, mengapa ini berlaku seperti itu, seperti ini, tidak, hal ini
terlarang! Kalian mesti menggunakan pengetahuan surgawi untuk menempatkan
segala sesuatunya pada Penyebab Sejatinya, bukan pada hal lainnya! Namun, kini
mereka mengatakan berbagai hal dan melupakan hal yang terpenting: Bahwa tak
satu pun yang wujud dapat bergerak
oleh/dengan dirinya sendiri atau untuk melakukan sesuatu oleh dirinya sendiri.
Namun, pengajaran setani mengajarkan pada manusia: “Jangan mempertanyakan ilmu
pengetahuanmu; kalian mesti mengatakan bahwa bayang-bayang bulan jatuh ke bumi
dan bahwa bayang-bayang matahari jatuh pada bulan, hingga terjadilah gerhana
bulan atau gerhana matahari.” Mereka mengatakan begitu banyak hal, sebagaimana
begitulah pemahaman mereka, dan kemudian mereka memberikan keputusan terakhir
apakah akan terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, bahwa hal tersebut
adalah sesuatu yang berlangsung pada ciptaan belaka. Mereka tak mengatakan
bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang berlangsung dan terjadi karena adanya
pengaruh dari luar (ciptaan) dan bahwa (seseorang) membuatnya terjadi. Apa pun
tentang gerhana, mereka tak pernah mengatakan tentang hal ini. Mereka
menyebutkan begitu banyak alasan, seperti bahwa suatu hal ini terjadi kemudian
menjadi gerhana matahari atau gerhana bulan...
Dan kita pun melihat dan memandang sebagaimana Nabi saw bersabda, “Ada beberapa
tanda; itu bukanlah suatu kejadian yang kosong, tak mungkin. Pasti di balik
peristiwa itu ada alasan-alasan yang dengannya Allah berkehendak menunjukkan
Samudera-Samudera Kekuasaan-Nya yang tanpa batas, untuk membuat manusia
merunduk pada penghambaan kepada-Nya dan untuk menjaga diri mereka! Itulah
tujuan utama dari penunjukan tanda-tanda agung dari Samudera-Samudera Kekuasaan
tanpa batas milik Allah.”
Saat ini, orang-orang tengah menunggu bahwa esok [Rabu, 29 Maret 2006, red.]
akan terjadi peristiwa gerhana, dan esok juga merupakan hari Rabu terakhir di
bulan Shafar al-Khayr. Dan hal ini bukanlah suatu kebetulan, tidak, ini
terjadi pasti untuk alasan-alasan tertentu! “Kami mengirimkan Tanda-Tanda
Langit ini untuk membuat manusia kembali pada maqam penghambaan (‘ubudiyyah)”;
tidak mencoba untuk berada lebih dari penghambaan; (di atas penghambaan) hanya
ada Ketuhanan.
Maqam Ketuhanan hanyalah untuk Yang Esa, Yang Satu, dan penghambaan adalah bagi
siapa pun yang lainnya! Allah tengah menyuruh mereka untuk mengetahui bahwa
hanya Yang Satu itulah yang Maha Mampu melakukan hal ini dan bahwa, “Wahai
manusia, jika kalian melakukan suatu kesalahan, kalian mesti takut pada Tuhan
kalian Allah yang akan menimpakan suatu hukuman (bagi kalian) di sini atau di
Akhirat!” Harus ada suatu peringatan. Peristiwa ini (Rabu 29 Maret 2006-red)
adalah suatu peringatan, peringatan bagi manusia, bahwa jika mereka
meninggalkan jalan yang lurus dan benar, serta berpaling ke jalan yang bathil,
Allah I mengatakan pada mereka, “Aku akan menghukum hamba-hamba- Ku!” Peristiwa
ini adalah suatu tanda bahwa suatu hukuman tengah tiba pada manusia.
Dan saya mendengar hari ini dari putra menantu saya bahwa ia mengatakan, “Jika
gerhana matahari ini terjadi, gerhana matahari kedua mungkin tak akan pernah
terjadi lagi, kecuali setelah 60 tahun atau 55 tahun.” Itu berarti bahwa suatu
hukuman atau suatu tanda akan terjadinya hukuman/azab yang mendekati kelakuan
zalim manusia di muka bumi ini. (Hukuman) itu tengah datang! Kemudian, saat
mendekati 55 tahun, tak akan terjadi hal seperti ini, karena keseluruhan dari
mereka (manusia, red.) akan menjadi manusia sejati (shiddiqiin, red.) dan tak
perlu ada suatu peringatan bagi mereka bahwa “Kalian tengah berada di jalan
yang bathil” dan “Perbaiki langkah kalian!” Karena itu setelah gerhana esok,
selama 55 tahun atau 60 tahun ke depan tak akan terjadi suatu gerhana matahari
lainnya.
Dan saya tengah mendapatkan kabar baik bahwa masa Imam Zaman Mahdi Alayhi
salam, Shahibuz Zaman tengah tiba, karena peristiwa ini suatu tanda (pula) akan
Zuhur-nya, kemunculan Mahdi as. Ia akan datang! Perisitwa itu adalah suatu
tanda yang besar, gerhana matahari; (dan) juga akan terjadi suatu gerhana
bulan, namun, yang lebih penting dari alasan-alasan yang lain adalah bahwa
Allah I tengah membangunkan hamba-hamba- Nya untuk menjaga diri mereka
masing-masing, untuk mengatakan, “Apa yang tengah kita perbuat?” dan “Ke
manakah kita akan pergi?”, “Apa yang sedang kita lakukan?” Untuk membuat
mereka berpikir tentangnya, karena setelah gerhana matahari, akan terjadi suatu
Perintah Langit untuk munculnya suatu hukuman/azab – gempa bumi atau mungkin
Tsunami... dan gerhana itu memberikan tanda bahwa hukuman itu tengah mendekat.
Lakukanlah taubat kalian! Kita tidak bertanya tentang ‘garis halus yang
menjulur di bawah benua-benua’; semua itu hanyalah cerita-cerita, bukan
haqiqat! Semoga Allah mengampuni diri kita dan melindungi kalian dari
hukuman-hukuman di masa Akhir Zaman ini!
Kita tengah menunggu hari-hari cemerlang bersama Mahdi as, Imamu Zaman, dan
juga bagi tercerabutnya segala macam hal yang bathil dan buruk, serta tibanya
hari-hari mulia, pekerjaan mulia bagi manusia, hari-hari penuh cahaya dan
malam-malam penuh cahaya.
Semoga Allah mengampuni diri kita! Karena itu kita mengatakan: kini manusia
tengah ketakutan dan berlarian dari rumah-rumah mereka, mendirikan tenda-tenda,
tetapi, tak seorang pun mengetahui waktu terjadinya suatu gempa bumi. Mereka
boleh mengharapkannya terjadi pada hari terakhir Shafaru-l Khayr; jika tak
terjadi (pada hari itu), mungkin pada satu hari sesudahnya, jika tak terjadi,
pada satu minggu setelahnya, atau satu bulan setelahnya, satu tahun setelahnya.
Tiba-tiba hukuman itu akan muncul. Karena itu, kita memohon ampunan dan agar
Allah melindungi kalian dan menaungi diri kita di Dunya dan di Akhirat.
Demi kehormatan ia yang paling terhormat di Hadirat Ilahiah-Nya, Sayyidina
Muhammad Sallallahu alayhi wasalam – Faatihah!
Wa min Allah at tawfiq
wasalam, arief hamdani
www.rumicafe.blogspot.com
Note :
Gerhana adalah peristiwa penting yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada
kekuatan Yang Maha Agung di luar batas kemampuan manusia; manusia yang
paling merasa faham ilmu alam sekalipun. Mereka yang merasa rendah di hadapan
Sang Pencipta akan menadahkan muka, menghadap Allah, mengerjakan shalat gerhana
secara berjamaah. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan untuk solat gerhana
tersebut.
Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhn ya matahari dan rembulan adalah dua
tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka
berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan
bersedekahlah.” (HR Bukhari-Muslim)
Sayyidatuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa
Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri
dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek
dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama,
lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti
itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim,
Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan
dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas
penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan
dan sholat kusuf untuk gerhana matahari.
Imam Maliki dan Syafi’i berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna
A’isyah berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua roka'at dengan dua kali
ruku’, berbeda dengan sholat Id dan Jum’at. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas juga terdapat penjelasan serupa, yakni sholat gerhana dikerjakan dua
roka'at dengan dua kali ruku’, dan dijelaskan oleh Abu Umar bahwa hadits
tersebut dinilai paling shahih.
Maka dengan begitu keistimewaan shalat gernana dibanding dengan shalat sunnah
sunnah lainnya terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Apalagi
dalam setiap ruku’ disunnahkan membaca tasbih berulang-ulang dan berlama-lama.
Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu.
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, ”Ash-shalatu
jaami'ah.”
4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams) atau gerhana bulan
(khusufil-qamar) , menjadi imam atau ma’mum.
5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat
8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat
kedua. Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang
daripada surat kedua.
Wa min Allah at Tawfiq