Menatap putri kecil tercinta yang baru lahir, kembali melihat sesosok bayi
kecil yang bahagia dengan ketidak berdayaan yang dimilikinya, pasrah dengan
apa yang terjadi, karena mereka tidak memiliki daya dan upaya dalam
melakukan apa yang mereka inginkan. dalam sosok kecil bayi kita melihat
adanya sebuah ketenangan jiwa yang menyebabkan kebahagian bagi dirinya
sendiri dan orang disekitarnya.

Ketenangan jiwa adalah sumber bagi kebahagiaan. Seseorang individu tidak
akan mengalami perasaan yang bahagia ketika jiwanya tidak tenang atau
gelisah. Hakikat perjalanan hidup yang kita jalani, Semakin kita
melangkahkan kaki dalam kehidupan semakin banyak masalah yang datang dan
pergi.Karena banyaknya persoalan kehidupan yang menyebabkan manusia merasa
bimbang, resah dan gundah.

Secara logikanya, apabila berhadapan dengan banyak persoalan dan
tanggungjawab yang perlu diselesaikan tentulah menyebabkan seseorang  sukar
untuk mempunyai jiwa yang tenang. Bagaimanakah kita bisa memiliki ketenangan
jiwa membawa kebahagian, banyak orang kesulitan merasa bahagia, meskipun
badannya sehat, secara meteri berkecukupan, dan keluarganya lengkap. bahagia
atau sengsara sebetulnya berasal dari diri sendiri. Pada dasarnya semua
kejadian di dunia (termasuk perilaku orang lain dan peristiwa yang tak
terduga) adalah netral. Manusia yang dikaruniai pikiran punya kebebasan
untuk menilai apakah suatu kejadian itu negatif atau positif. Ketidak
bahagiaan terjadi karena kita belum bisa mengambil hikmah dari suatu
kejadian, akibatnya diri kita sendiri yang menderita, meskipun kejadian yang
memicunya sudah berlalu.

Ketenangan jiwa melahirkan sebuah kebahagian yang murni, seseorang yang
memiliki ketenangan jiwa mereka tegar dan mantap menghadapi segala
permasalahan hidup yang ada. Ketenangan jiwa tidak akan bisa kita miliki
jika kita memiliki prasangka buruk, atau selalu berfikiran negatif. Diantara
emosi negatif yang sering menjadi penyebab sulitnya merasa bahagia atau
jiwanya tidak tenang adalah

* Rasa dendam, marah, benci, sakit hati kepada seseorang.
* Merasa ingin "protes" kepada Tuhan
* Tidak bisa menerima takdir / kejadian pahit di masa lalu.
* Tidak bisa memaafkan seseorang secara penuh.
* Ingin dilahirkan sebagai (ingin menjadi) orang lain.
* Selalu merasa kekurangan
* Sudah berkecukupan, tapi selalu takut jatuh miskin, takut bangkrut /
dipecat
* Dan fikiran negatif lainya

Ketenangan jiwa yang melahirkan kebahagian berawal dari kepasrahan total
manusia terhadap sang pencipta, menerima apapun yang telah dimilikinya, dan
semangat untuk memperbaikinya bukan merubah seseuatu yang tidak mungking.
kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki tidak menghampiri manusia yang tidak
mengenal dirinya dan tidak mengenal Tuhannya. betapun kaya orang itu,
betapapun berkuasa orang itu. kita harus yakin bahwa kehadiran kita di dunia
bukanlah suatu yang sia-sia. Ketenangan jiwa  tidak sejalan dengan
ketakutan. Selama kita khawatir, kita tidak akan bisa melihat Ketenangan
jiwa yang ada di sekitar kita. Ketakutan cenderung membuat kita melakukan
hal yang justru menjauhkan kita dari Ketenangan jiwa itu sendiri.

Belakangan ini banyak sekali orang yang berada dalam ketakutan. Ketakutan
muncul ketika kita tidak mau melepaskan kontrol akan apa yang akan terjadi.
Hal ini dapat mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang justru akan
menjatuhkan kita ke hal yang kita takuti tersebut. Maka bila anda tertimpa
musibah yang perlu anda lakukan pertama adalah menemukan ketenanga jiwa
anda, lalu kemudian kemungkinan pemecahan masalah akan keluar secara
otomatis dalam benak anda, jika tidak ada ketengan dalam jiwa anda, maka
yang terjadi mungkin anda akan menambah masalah anda sendiri.

Dalam hal ini anda bisa mencoba beberapa cara untuk mendapat ketenangan
jiwa;
1. Selalu Teguh dan Percaya Kepada TUhan YME
2. Tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan.
3. Ringan tangan, suka menolong, dan dermawan . Tidak melihat diri. Tidak
melihat apa yang telah dia keluarkan bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang
banyak.
4. Lapang dada, Jauhkan Hati dari dengki, iri hati, dendam, takabur,
prasangka buruk, dan semacamnya.
5. Berlaku santun dan tidak tergesa-gesa. Terburu-buru dan reaktif terhadap
situasi yang mengelilinginya merupakan tanda ketidaktenangan jiwa. Dengan
berfikir jernih, terencana, dan tidak gegabah, jiwa menjadi tenang.
6. Menambah ilmu. Wawasan menjadi luas, tidak berpikiran sempit.
7. Menerima  terhadap pembagian yang diterimanya.
8. Sabar dan tegar menerima ujian.
9. Meyakini di balik ujian ada pelajaran dan setelah kesusahan pasti ada
kegembiraan.
10. Hidup Bersosialisai dengan masyaratkat sekitar. Penelitian menyatakan
hidup mengisolir diri atau individual adalah sumber berbagai penyakit
kejiwaan
11. Memperbanyak teman, melenyapkan permusuhan.
12. ulet, tekun, konsisten, teguh memegang prinsip, dan bersungguh-sungguh.
Tangguh.
13. Tidak mengemis kepada orang lain
14. Menjauhi Utang
15. Optimis & Selalu berpikir positf. Percaya diri. Tidak berputus asa.
Pantang menyerah. Ibarat dian yang tak kunjung padam. Betapapun rintangan
menghadang. Sebab, optimisme tanpa kerja keras tak ubahnya mimpi.

Dalam mencari ketenangan jiwa kita juga harus bisa menyeimbangangkan antara
Hati dan Akal, Adapun hati, ia melampaui dimensi ruang dan waktu, seringkali
hati bersikap irasional, namun kerapkali pula ia terbukti benar jika kita
melakukannya. Kebanyakan kita saat ini cenderung menafikan hati karena
mereka beranggapan kebenarannya tidak dapat diverifikasi. Persoalan yang
kita hadapi (Termaksud saya) terkadang rasio masih mendominasi hati. Kita
sangat rasional, sehingga pertimbangan-pertimbangan faktual yang kita tengah
pikirkan mengkhawatirkan kemampuankita sendiri. Rasio kita yang
rasional-logis tidak yakin bahwa kamu dapat bertahan di tengah persaingan
atau kerasnya kehidupan.

Hanya saja, ketika rasio dengan pertimbangan-pertimangan rasional dan
logisnya―menyimpulkan bahwa kita TIDAK MUNGKIN bertahan, atau MUSTAHIL
mencapai apa yang kita inginkan, bisa jadi itu akan membuat jiwa kita lelah,
lemas, putus asa, dan menyesali hidup. Kita mungkin menyesali dilahirkan
sebagai kita. 'Seandainya aku terlahir kembali, aku ingin menjadi ….,'
khayal kita sambil mengingat-ingat seorang tokoh idola, atau orang yang kita
anggap sukses secara sosial, ekonomis, atau genetis―menurut ukuran
positivisme. Meskipun, tentu saja, kalau kita terlahir kembali dengan 'aku'
yang kita inginkan, kita akan mempunyai ribuan persoalan baru yang berbeda
dengan 'aku' yang dulu, yang juga akan membuat kita gelisah.

Di sinilah peran hati mengisi ketidakberdayaan rasio. ketika kita
menyeimbangkan hati agar kita bersedia, rela, ikhlas, dan mampu
mengembalikan kekuatan maksimum rasio yang pada akhirnya tak berdaya kepada
Tuhan, karena hanya hatilah yang mampu melihat hal-hal yang tidak dapat
dibaca rasio.  Cara hati bekerja adalah MEMPERCAYAI, dan MEYAKINI, sedangkan
rasio bekerja dengan MEMBUKTIKAN. Kepercayaan dan keyakinan diasah melalui
apa yang telah sudah kamu kerjakan. Hati yang terasah dengan baik akan
menghasilkan kepasrahan dan keyakinan ntinya adalah pasrah, tawakal,  jangan
berhenti berharap.

Demikian pemaparan yang saya dapatkan ketika melihat ke pasrahan bayi, yang
membuat ketenangan pada jiwanya, yang akan membawa kita menuju suatu
kebahagian hidup, bukan pada melimpahnya harta, kekuasaan, Jabatan, Tapi
kita tidak pungkiri banyak jiwa-jiwa manusia yang resah dan tidak tenang,
dan berujung kepada ketidak bahagiaan hidup. bagaimanapun juga ini adalah
sebuah pemaparan pribadi bukan pembentukan opini publik, karena saya hanya
mempelajari dari gerak dan keberadaan putri saya yang baru lahir, dan
bagaimanapun semua kembali berpulang kepada kebebasan anda untuk berfikir
sesuai dengan tuntunan rasio dan hati anda, semoga tulisan ini dapat sedikit
membawa inspirasi bagi kehidupan kita yang lebih baik.

Sebuah puisi yang bagus dari seorang sahabat menuk budianti:

Aku minta pada Tuhan setangkai bunga segar
Dia memberi aku kaktus jelek dan berduri

Aku minta pada Tuhan setangkai kupu-kupu
Dia memberi aku ulat jelek dan berbulu

Aku sedih dan kecewa
Namun kemudian.....

Kaktus itu berbunga indah sekali
Dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang cantik

Itulah jalan Tuhan
Indah pada waktunya

Tuhan TIDAK memberi apa yang kita HARAPKAN
Tapi dia MEMBERI apa yang kita PERLUKAN

Kadang kita menjadi sedih, kecewa, dan terluka
Tapi jauh diatas segalanya.....

Dia sedang merajut yang terbaik dalam kehidupan kita

Wasalamualaikum Wr. Wb
Depok, 11 Febuary 2009

Hanya Orang Biasa
-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke