---- pesan diteruskan 

Category:    Other


Ass.Wr .Wb.Ustadz, saya ingin sekali belajar bahasa Arab supaya lebih mudah 
dalam memahami al-Qur'an serta memudahkan dalam berda'wah. Sebaiknya tempatnya 
di mana ya? Mungkin ada referensi tempat. Saya sama sekali awam mengenai bahasa 
Arab dan ingin mulai dari awal. Wass. Wr. Wb.

Andri Sugara
andri
Jawaban
http://www.ustsarwat.com/
Assalamu 'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Urgensi Menguasai Bahasa Arab

Belajar bahasa Arab memang sebuah keharusan yang layak dikuasai oleh umat 
Islam. Sebab sejak awal mula diturunkan ajaran Islam sampai hari ini, bahasa 
yang digunakan adalah bahasa arab.

Beberapa Contoh

Beberapa pesantren di negeri kita boleh dibilang lumayan berhasil melahirkan 
santri yang lumayan bisa berbahasa Arab. Katakanlah pesantren Darussalam Gontor 
Ponorogo (http://gontor.ac.id), tempat dimana banyak tokoh nasional kita saat 
ini pernah belajar. Tapi keberhasilannya memang ditunjang dengan kebehasilan 
menciptakan komunitas berbahasa arab. Sebab semua santri tinggal di lingkungan 
pondok sehari 24 jam selama minimal 6 tahun. Yaitu sejak mereka lulus SD hingga 
mau masuk perguruan tinggi. Dengan resiko hukuman digunduli kalau ketahuan 
berbicara bahasa Indonesia.

Al-Quran sebagai kitab suci abadi yang menghapus semua kitab suci yang pernah 
ada, diturunkan dalam bahasa Arab. Rasulullah SAW sebagai nabi akhir zaman yang 
risalahnya berlaku untuk seluruh manusia di muka bumi sampai akhir zaman, juga 
berbahasa arab, tanpa pernah diriwayatkan mampu berbahasa selain arab.

Hadits-hadits nabawi diriwayatkan secara berantai hingga sampai kepada kita 
melewati masa berabad-abad, juga tertulis dalam bahasa Arab. Bahkan semua kitab 
yang menjelaskan materi Al-Quran, As-Sunnah serta syariah Islamiyah hasil karya 
para ulama muslim sedunia sepanjang masa, juga kita warisi dalam bahasa Arab.

Ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun 
kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu 
bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia 
pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal 
negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.

Bahkan ketika Islam masuk ke Mesir dan para penguasa dan rakyatnya masuk Islam, 
mereka tidak hanya sekedar memeluk Islam sebagai agama, tetapi mereka belajar 
bahasa Arab, berbicara dengan bahasa Arab dan melupakan bahasa asli peninggalan 
nenek moyang mereka. Hanya dalam tempo beberapa tahun saja, tidak satu pun 
bangsa Mesir yang paham bahasa asli mereka. Semua berbicara dengan bahasa Arab, 
bahkan hingga hari ini. Padahal Mesir itu bukan negeri Arab dan tidak terletak 
di jazirah Arab. Mesir terletak di benua Afrika, namun rakyat Mesir 
keseluruhannya berbicara dalam satu bahasa, yaitu bahasa Arab.

Bila kita amati secara seksama, memang ada kecenderungan bahwa di mana ada 
masuknya dakwah Islam ke suatu negeri hingga mampu mambangun peradaban besar, 
pastilah negeri itu berubah bahasanya menjadi bahasa Arab. Bahkan bahasa resmi 
negara sekaligus bahasa rakyat jelata.

Sebaliknya, negeri-negeri yang kurang sempurna proses Islamisasinya, bisa 
dengan mudah dikenali dari tidak adanya rakyat yang menggunakan bahasa Arab. 
Paling jauh hanya sekedar serapan-serapan bahasa saja, seperti bangsa kita ini. 
Bahasa Indonesia (termasuk Melayu) menyerap sangat banyak bahasa Arab ke dalam 
perbendaharaannya. Begitu banyak kata yang sumbernya dari bahasa Arab, bahkan 
bisa dikatakan bahwa unsur serapan dari bahasa arab termasuk paling dominan 
dalam bahasa Indonesia. Namun sayangnya, bangsa ini tidak sempat mampu 
berbahasa Arab dalam kesehariannya. Apalagi ditambah dengan penjajahan selama 
ratusan tahun, dimana para penjajah itu memang paham betul bahwa salah satu 
kekuatan agama Islam adalah pada bahasa Arabnya.

Bila suatu umat muslimin di muka bumi ini tidak bisa bahasa Arab, artinya 
mereka pasti tidak paham tiap ayat Al-Quran, tidak paham hadits nabi, tidak 
mengerti apa yang mereka baca dalam zikir, shalat dan doa. Tidak mengerti 
syariah Islam dan ajaran-ajarannya secara mendetail. Kecuali bila diterjemahkan 
terlebih dahulu dan dijelaskan satu persatu oleh kiayinya. Dan metode 
penerjemahan begini tentu saja sangat terbatas keberhasilannya, terlalu lemah 
dan justru sangat menghambat.

Karena itu, keinginan anda untuk belajar bahasa Arab dan menguasainya adalah 
sebuah keinginan yang teramat mulia, sehingga perlu didukung penuh. Jangan 
sampai keinginan itu berhenti hanya karena alasan teknis semata.

Empat Dimensi Penguasaan Bahasa Arab

Menguasai bahasa Arab itu minimal harus menguasai empat sisi.

1. Fahmul Masmu'
Maksudnya kita harus mampu memahami apa yang kita dengar. Jadi kalau ada orang 
Arab membacakan berita di TV atau sedang berdialog, kita mampu mengerti.

2. Fahmul Maqru'
Maksudnya kita harus mampu memahami teks yang kita baca. Sehingga buku, kitab, 
majalah, koran atau teks apapun yang tertulis dalam bahasa Arab, mampu kita 
pahami.

3. Ta'bir Syafahi
Maksudnya kitamampu menyampaikan isi pikiran kita dalam bahasa Arab secara 
lisan, dimana orang Arab mampu memahami apa yang kita ucapkan.

4. Ta'bir Tahriri
Maksudnya kita mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang Arab dengan bentuk 
tulisan, dimana orang Arab bisa dengan mudah memahami maksud kita.

Problematika Belajar Bahasa Arab

Sebelum anda menentukan pilihan pada lembaga mana anda akan percayakan program 
belajar bahasa arab anda, sebaiknya anda juga belajar dari beberapa pengalaman 
mereka yang pernah melakukannya sebelumnya. Juga tidak ada salahnya kalau anda 
juga mendengarkan pengalaman mereka, baik telah sukses maupun yang gagal.

Kenyataannya memang harus diakui bahwa tekad kuat untuk belajar bahasa Arab, 
terutama buat kalangan muda muslim yang tidak pernah mengecap pendidikan 
pesantren berbahasa Arab, seringkali kandas di tengah jalan.

Di Jakarta pernah berdiri puluhan ma'had dan lembaga kursus yang mengajarkan 
bahasa Arab. Sayangnya, kebanyakan keberhasilannya berjalan terseok-seok, kalau 
tidak mau dikatakan gagal total. Umumya kurang berhasil dalam mengantarkan para 
siswanya untuk menjadi orang yang mahir bahasa Arab.

Biasanya, alasan paling klasik adalah lamanya masa belajar dan rasa bosan yang 
dengan cepat menghantui para pelajar. Apalagi ditambah dengan padatnya 
aktiftitas peserta di luar jam kurus, sehingga biasanya lembaga kursus itu 
menyelenggarakan pengajaran bahasa dengan cara non-intensif. Kursus 
diselenggarakan seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Sekali pertemuan hanya 
2 atau 3 jam saja. Dilihat dari sisi keintensifannya saja, sudah terbayang 
kegagalannya.

Semua itu kemudian dipeRprah kualitas pengajar yang umumnya juga orang 
Indonesia, di mana secara teori mungkin menguasai dasar-dasar gramatika bahasa 
Arab, tetapi secara dzauq (taste), kemampuan mereka amat terbatas. Banyak 
sekali para pengajar yang mampu berbicara dalam bahasa Arab, namun dengan 
ta'bir (cara pengungkapan) yang bukan digunakan oleh orang Arab. Sehingga orang 
Arab sendiri pun kalau mendengarnya agak berkerut-kerut dahinya sampai 10 
lipatan.

Masalah kurikulum pengajaran pun seringkali malah menjadi faktor penghalang 
besar. Yaitu ketika para peserta dijejali dengan berbagai macam aturan, rumus, 
kaidah dan tetek bengeknya, tapi kurang praktek langsung. Bisa jadi secara 
teori mereka sangat paham, tapi giliran harus menggunakan bahasa itu baik 
secara lisan, tulisan atau pendengaran, semua jadi berantakan alias gagal 
total. Kasusnya mirip dengan orang yang belajar berenang secara teoritis, 
menguasai aturan gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya katak dan lainnya. Tapi 
giliran masuk kolam, tenggelam dan tidak timbul-timbul lagi. Sungguh 
menyedihkan memang.

Bahasa adalah Aplikasi

Tempat belajar suatu bahasa yang paling baik bukan di dalam sebuah lembaga 
kursus, juga bukan di dalam sebuah kelas. Tempat belajar yang paling baik 
adalah di tempat dimana semua orang berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa 
tersebut.

Kalau anda ingin pandai bahasa Jawa, sebaiknya anda tinggal selama beberapa 
tahun di Jogjakarta atau di Solo. Terutama di pedesaan dimana masyarakat dengan 
setia menggunakan bahasa Jawa. Di sana anda bukan hanya belajar kosa kata jawa, 
tetapi juga mendengar, melihat, memperhatikan, menirukan, serta beradaptasi 
secara langsung dengan cara komunikasi orang jawa. Sebab bahasa itu bukan 
sekedar kosa kata, tetapi termasuk juga tutur bahasa, cara mengungkapkan, cara 
melafalkan, bahkan termasuk bahasa tubuh, mimik dan intonasi. Dan semua bermula 
dari mendengar setiap saat ucapan. Pagi, siang, sore dan malam hari yang anda 
dengar hanya percakapan orang-orang dalam bahasa Jawa.

Ini adalah cara belajar bahasa yang paling alami, paling mudah dan paling 
berhasil. Cara ini telah melahirkan jutaan anak-anak berusia 1 tahun hingga 5 
tahun yang mahir berbahasa Jawa. Jangan kaget, kalau di Jogja dan Solo, 
rata-rata anak kecil mahir berbahasa Jawa (?)

Dan jangan kaget juga kalau di Mesir dan negeri Timur Tengah lainnya, anak-anak 
mahir berbahasa Arab. Kalau anak kecil saja mahir berbahasa Arab, mengapa anda 
yang sudah dewasa tidak bisa bahasa Arab?

Kesimpulannya adalah bahwa belajar bahasa itu membutuhkan sebuah komunitas 
orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa itu. Dimana kita ada di dalamnya 
dan ikut berinteraksi secara aktif.

Lembaga kursus bahasa Arab yang paling canggih sekalipun, kalau tidak mampu 
menghadirkan sebuah komunitas berbahasa arab, adalah lembaga yang tidak akan 
mampu melahirkan lulusan yang mahir berbahasa arab.

Beberapa Contoh

Beberapa pesantren di negeri kita boleh dibilang lumayan berhasil melahirkan 
santri yang lumayan bisa berbahasa Arab. Katakanlah pesantren Darussalam Gontor 
Ponorogo (http://gontor.ac.id), tempat dimana banyak tokoh nasional kita saat 
ini pernah belajar. Tapi keberhasilannya memang ditunjang dengan kebehasilan 
menciptakan komunitas berbahasa arab. Sebab semua santri tinggal di lingkungan 
pondok sehari 24 jam selama minimal 6 tahun. Yaitu sejak mereka lulus SD hingga 
mau masuk perguruan tinggi. Dengan resiko hukuman digunduli kalau ketahuan 
berbicara bahasa Indonesia.

Contoh lain yang boleh dibilang lumayan sukses adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan 
Islam dan Arab (LIPIA), yang merupakan sebuah ma'had pengajaran bahasa Arab di 
bawah naungan Universitas Islam Muhammad ibnu Suud Riyadh. LIPIA berlokasi di 
Jakarta, namun hampir semua pengajarnyaorang arab atau yang pernah 
bertahun-tahun kuliah di sana. Sehingga dari segi dzauq bahasa, ada kekuatan 
tersendiri. Setiap hari para mahasiswa ditenggelamkan dengan komunitas orang 
Arab betulan, sejak jam 7 pagi hingga jam 12 siang selama 7 tahun. Semua 
pelajaran disampaikan dengan bahasa Arab, meski tidak ada lagi hukuman gundul 
buat pelanggarnya.

Salah satu faktor keberhasilannya adalah karena setiap calon mahasiswa yang 
masuk diseleksi terlebih dahulu dengan sangat ketat. Hanya mereka yang lulus 
tes tertulis dan lisan (wawancara) dengan bahasa dan orang arab saja yang boleh 
kuliah disitu. Kalau sudah berhasil diwawancarai oleh orang Arab, bukankah 
sebenarnya sudah boleh dikatakan bisa berbahasa Arab?

Tapi LIPIA pun sempat merasakan kegagalan ketika membuka kelas non intensif 
yang hari kuliahnya hanya sore hari, itupun hanya 2 kali seminggu. Akhirnya, 
program ini dinilai kurang efektif dan tidak memenuhi target, lalu dibubarkan 
hingga sekarang ini. Keterangan lebih lanjur tentang LIPIA bisa anda buka di 
situsnya http://lipia.org

Kesimpulan

Menyimpulkan dari kisah sukses dua contoh lembaga pendidikan di atas, kuncinya 
adalah:

1. Adanya komunitas berbahasa arab yang tulen dan pekat

2. Masa pendidikan yang intensif, rutin dan padat

3. Waktu belajar yang cukup lama

4. Kemauan keras yang tidak pernah padam

Kunci yang terakhir itu menjadi faktor penentu terakhir, sebab tidak sedikit 
mereka yang sudah pernah masuk ke lembaga di atas, tetapi akhirnya tidak kuat 
di tengah jalan, kemudian jalan di tempat, berhenti dan mogok. Kalau keinginan 
yang dimiliki hanya sekedar semangat di awalnya saja, biasanya memang tidak 
akan bertahan lama.

Sedangkan kisah tidak sukses pengajaran bahasa asing di negeri kita adalah 
pelajaran bahasaInggris di SMP dan SMU. Bahkan sejak SD ditambah lagi di 
perguruan tinggi. Kalau dihitung-hitung, paling tidak setiap mahasiswa di 
negeri ini pernah belajar bahasa Inggris paling tidak selama 10 tahun. Tapi 
hasilnya? Sulit menemukan mahasiswa Indonesia yang mampu berbicara fasih dalam 
bahasa Inggris, bahkan sekedar memahami atau atau membaca teks berbahasa 
Inggris pun masih sangat lemah. Apalagi kalau diminta berkomunikasi langsung 
dengan orang yang berbahasa Inggris.

Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

http://www.eramuslim.com
Prev: Belajar di LIPIA Jakarta


----------------------------------
Baru sedang akan belajar ????

baru = mulai belajar
sedang = sudah dan masih belajar
akan = niat belajar

yang benar itu "sedang baru akan" jadi artinya sudah mulai niat ....?????

tambah bingung deh .... he..he..he
Bahasa gamblangnya baru mulai niat belajar dan insya Alloh akan terus istiqomah 
hehe...mohon doanya



      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke