dikopi-paste dari www.pmii.or.id
M Khusen Yusuf 

Budi Syahbudin. Alumni satu ini memang tidak cukup dikenal kader 
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di daerah. Tetapi, bagi 
siapapun yang pernah aktif sebagai pengurus besar (PB) PMII, Kang Budi
—begitu ia biasa dipanggil—pasti mengenal dia, setidaknya mendengar 
kiprahnya. Rumahnya, tak jarang menjadi jujukan sementara bagi kader 
PMII yang kehabisan 'amunisi'

Tidak seperti alumni PMII lainnya yang memiliki berkarier sebagai 
politisi ataupun pekerja politik, Kang Budi justru memilih jalan 
hidupnya sendiri. Ia membuka jalan usaha katering, pilihan yang 
sangat jarang diambil oleh aktivis PMII, terutama mereka yang sudah 
menekuni karier berorganisasi sampai level pengurus besar. "Saya 
merasa lebih enjoy seperti ini. Santai dan jauh dari saling menyakiti 
hati sesama teman sendiri," kata dia.

Bagi Kang Budi, dunia politik bukanlah orientasi utamanya. Ia justru 
merasa tak nyaman di sana. Kendati demikian, bukan berarti dirinya 
sama sekali tidak mengenal politik. Momen perubahan politik reformasi 
1998 malahan menjadi inspirasi bagi dia dalam memberi nama unit usaha 
kateringnya. 

Revind Katering. Revind adalah kependekan dari Revolusi Indonesia. 
Revolusi adalah jargon yang sering dilontarkan oleh para demonstran 
angkatan 98 ketika turun ke jalan. "Tahun 1998 adalah awal Reformasi 
Indonesia. Tapi saat itu, anak-anak biasa meneriakkan revolusi 
Indonesia. Akhirnya, jadilah nama itu saya pilih," bebernya. 

Start awal usaha katering Kang Bung pun dari jalanan. Ketika ribuan 
mahasiswa menggelar aksi, ia melihat perlu ada orang yang menyiapkan 
konsumsi. "Karena saya bisa masak, ya saya ambil peran itu. Akhirnya 
keterusan." 

*** 

Persinggungan Kang Budi dengan aktivis pergerakan berada dalam 
rentang fase cukup panjang. Ia aktif pertama kali sebagai kader PMII 
Bandung pada tahun 1986. Namanya sudah tercatat dalam struktur PB 
PMII era Ali Masykur Musa. "Saat Ali Masykur jadi Ketua Umum, saya 
tercatat sebagai pengurus besar, tetapi berdomisili di daerah." 

Setelah itu, tercatat atau tidak sebagai pengurus, ia selalu terlihat 
dalam setiap kegiatan PB PMII. Dari kongres ke kongres, ia berada di 
tengah-tengah peserta dan ikut berbaur. Tetapi—lagi-lagi—berbeda 
dengan yang lain, kehadiran Kang Budi di kongres bukan sebagai tim 
sukses kandidat calon ketua umum. "Menjalin silaturahim saja," 
imbuhnya. 

Bangunan silaturahim Kang Budi cukup kuat dengan beberapa kader PMII 
di daerah. Berulang kali ia keliling ke daerah-daerah untuk menyapa. 
"Sambil nanya-nanya resep makanan," katanya sambil tertawa renyah.

Dari proses itu, ia banyak mengenal resep makanan nusantara. "Kalau 
dihitung mungkin lebih dari 1.000 resep makanan saya tahu," kata dia. 

Kelak, ketekunannya mempelajari resep masakan nusantara menjadi modal 
utama Kang Budi saat membuka Revind Catering. Rasanya yang khas, menu 
variatif, dan harga super murah—apalagi jika yang pesan adalah aktivis
—menjadi daya tarik untuk menambah pelanggan. Terbukti, selama 10 
tahun menjalaninya, usaha Kang Budi berkembang pesat. Terakhir, Sabtu 
(14/2) malam lalu, Kang Budi melebarkan sayap bisnis ke warung makan 
di Jl Pramuka N0.404A Jakarta Pusat. Namanya cukup unik,"Warung 
Sambel Sembilan Cobek." 

Sembilan adalah bilangan khas di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). 
Kang Budi memilih nama 'Warung Sambel 9 Cobek' karena ia adalah 
bagian dari warga Nahdliyyin. "Angka sembilan juga termasuk angka 
yang disayang Tuhan. Buktinya asmaul husna itu ada 99," tambah Kang 
Budi. 

Sukses, Kang. Anda layak dapat sembilan bintang. (m khusen yusuf)

Kirim email ke