Artikel: Menjadi Yang Terbaik Itu Urusan Pribadi

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

'Be the best!' begitu kata para pakar pemberi semangat. Jadilah yang terbaik.  
Kita meyakini bahwa dengan menjadi yang terbaik, kita akan berhasil meraih 
kesuksesan.  Kemudian, kita menengok ke kiri dan ke kanan. Menyaksikan betapa 
teman-teman kita telah berprestasi tinggi sehingga semangat untuk menjadi yang 
terbaik mendorong kita untuk melampaui pencapaian-pencapaian mereka. Dengan 
begitu, kita menjadi manusia yang sangat kompetitif. Permasalahan yang muncul 
kemudian adalah; kita sering lupa bahwa untuk melampaui kinerja orang lain, 
kita perlu mengindahkan etika. Bahwa dalam berkompetisi ada rambu-rambu yang 
perlu kita ikuti. Jika tidak, maka kita akan melakukan 'cara apa saja' demi 
meraih gelar manusia terbaik itu. Mengapa manusia seperti kita sering terjebak 
pada situasi seperti itu?

Itu karena kita cenderung menganggap konsepsi menjadi yang terbaik itu sebagai 
sebuah gagasan untuk membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita 
merasa berkewajiban untuk menjadi 'lebih' dari orang lain. Jika teman-teman 
kita di kantor pada rajin, maka 'be the best' secara salah kaprah berarti; 
'lebih rajin daripada orang lain'. Jika orang lain pintar, maka kita mesti 
'lebih' pintar dari orang itu. Jika orang lain hebat, maka kita harus 'lebih' 
hebat darinya. Maka, akhirnya kita terjebak pada proses pengejaran orang lain, 
atau berlari meninggalkan mereka dibelakang. Tetapi, apakah salah jika kita 
mempunyai sifat kompetitif seperti itu? Mungkin tidak salah. Namun, kita sering 
menjadi tidak sadar bahwa hidup kita menjadi sekedar berkutat pada perlombaan 
tak berkesudahan itu. 

Memangnya apa pasal jika demikian? Kelihatannya memang tidak ada persoalan. 
Namun, jika kita tilik lebih dekat, semangat kompetitif itu merupakan salah 
satu sumber kecemasan manusia modern. Orang bisa tidak tidur nyenyak hanya 
gara-gara temannya dikantor mendapatkan rating appraisal lebih baik dari 
dirinya. Orang bisa gelisah hanya gara-gara orang lain hampir menyaingi dirinya 
dalam suatu tugas tertentu. Pendek kata, para mediocre berpusing ria untuk bisa 
melampaui orang-orang hebat. Sedangkan orang-orang hebat berdebar jantung 
karena tiba-tiba saja mereka mendapati para pendatang baru menunjukkan potensi 
untuk menjadi pesaing handal dimasa depan.  

Itulah sebabnya, dijaman ini kita sering menemukan orang yang berusaha 
mati-matian menghambat pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Ada pula yang 
begitu protektif kepada kedudukannya. Atau, mereka yang begitu pelit untuk 
sekedar berbagi ilmu kepada koleganya. Karena, mereka tahu bahwa orang-orang 
disekitarnya mempelajari sesuatu  untuk menjadi ancaman dikemudian hari. Dan 
kita tahu bahwa semua itu dibahanbakari oleh sebuah konsepsi yang keliru 
tentang 'being the best'. Mengapa saya harus menolong orang lain untuk menjadi 
'the best'? Bukankah jika dia menjadi 'the best' maka itu berarti bahwa mungkin 
saya sudah tidak the best lagi?

Sesungguhnya menjadi 'the best' itu adalah sebuah perjalanan pribadi. Bukan 
perjalanan yang melibatkan orang lain. Dan itu berarti bahwa sama sekali tidak 
ada hubungan antara 'menjadi yang terbaik' dengan melampaui orang lain. Lho, 
kok begitu? Ya memang begitu. Sebab, menjadi yang terbaik itu seharusnya 
diletakkan pada konteks 'menjadi manusia terbaik sesuai dengan kapasitas diri 
sesungguhnya'. Dengan begitu, kita tidak akan terlampau pusing apakah orang 
lain lebih baik dari kita atau tidak. Sebab, jika kita sudah menjadi yang 
terbaik sesuai dengan kapasitas diri kita, maka kekhawatiran itu mesti tidak 
ada lagi.

Teman anda mengatakan bahwa dia bisa melakukan ini dan itu, sedangkan anda 
tidak. Jika anda menempatkan konsep 'be the best' secara keliru, maka Anda akan 
panas mendengarnya. Lalu anda mati-matian berusaha agar bisa melakukan hal yang 
sama, atau mungkin juga anda melakukan sesuatu agar saingan anda tidak lagi 
bisa melakukan hal itu. Sebaliknya, dengan konsepsi yang benar; anda akan 
menerima kenyataan bahwa memang orang itu bisa melakukan ini dan itu. Tetapi, 
anda sendiripun sadar bahwa ada banyak hal lain yang anda bisa lakukan tetapi 
orang itu tidak. Benarkah? Tentu benar. Karena, kita percaya bahwa tidak ada 
manusia yang sempurna. Dan itu berarti, kita mengakui kalau orang lain memiliki 
kelebihan dari kita. Jadi, kita tidak akan panas hati ketika ada orang 
mengkalim diri lebih baik dari kita. Dan itu juga berarti kita menyadari bahwa 
kita memiliki kelebihan dari orang lain. Jadi, meskipun mereka lebih dalam 
hal-hal tertentu, kita juga pasti lebih dalam hal lain. Juga berarti bahwa 
meskipun anda hebat dalam hal-hal tertentu, anda bersedia menerima kenyataan 
bahwa orang lain lebih baik dari anda dalam hal lain.

Dengan konsepsi itu juga, kita bisa membebaskan diri dari sebuah persaingan 
penuh kecemasan seperti itu. Persaingan yang sering menjebak kita untuk 
melakukan tindakan-tindakan tidak sportif, atau memaksakan diri melakukan 
sesuatu yang sesungguhnya diluar kemampuan kita. Sebaliknya, konsepsi itulah 
yang bisa membawa kita kepada dua hal, yaitu; (1) ikut senang atas kehebatan 
dan keunggulan orang lain, dan (2) bersemangat untuk menemukan 'hal terbaik' 
apa yang bisa kita temukan dalam hidup kita. Sehingga, kita berkesempatan untuk 
mengakui fitrah Tuhan tentang kenyataan bahwa; setiap manusia itu dilahirkan 
dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan kita bisa mengikuti apa 
yang Tuhan inginkan, yaitu; saling melengkapi satu sama lain.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 
Business Administration & People Development 
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio 

Catatan Kaki: 
Jika kita semua bisa saling berkontribusi satu sama lain; kita tidak perlu lagi 
saling mengklaim diri sebagai yang terbaik, apalagi saling mengalahkan untuk 
sekedar menguatkan eksistensi diri.


Kirim email ke