Halaqah dan Ilmu pengetahuan

By: agussyafii

Istilah halaqah bukanlah sesuatu yang asing. Dalam bahasa Arab, halaqah artinya 
lingkaran, tetapi sebagai istilah, halaqah  digunakan untuk menyebut  sebuah 
forum atau majlis. Pada zaman klassik Islam, majlis pengajian Imam Ghazali 
misalnya juga disebut halaqah Imam Ghazali, dinisbahkan kepada bentuk dimana 
guru duduk di tengah dan murid-muridnya duduk melingkar di sekelilingnya. 

Bentuk halaqah juga diberlakukan di pesantren-pesantren salafi Jawa sebelum 
dikenal sistem kelas pada pengajian bandungan, dimana kyai duduk di tengah dan 
para santri duduk melingkari guru. Dalam konsep pendidikan salafi, belajar itu 
bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi lebih merupakan proses 
mencari berkah guru (tabarrukan). Oleh karena itu masa belajar tidak dibatasi 
oleh jenjang-jenjang kelas hingga tammat, tetapi sepuas-puas murid hingga 
merasa memperoleh berkah ilmu dari sang guru.  tidaklah heran jika di pesantren 
ada murid yang menammatkan ngaji satu kitab hingga mengulang tiga kali, karena 
pada kali tammat pertama dan kedua rasanya belum memperoleh berkah kyai. 

Berkah itu sendiri artinya terdayagunanya anugerah Tuhan  secara optimal (al 
barakatu tajammu` al khair al ilahiy katajammu` al ma’ fi al birkati). Menurut 
paradigma pendidikan Islam klassik, ilmu itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi 
juga bermakna cahaya ketuhanan, oleh karena itu, cahaya ketuhanan (ilmu yang 
membawa berkah) tidak mungkin dicapai oleh orang yang durhaka kepada Tuhan, 
seperti yang tertulis dalam kitab Ta`lim al Muta`alim; wa akhbarani bi anna al 
`ilma nurun- wa nurullahi la yuhda li`ashi.  Selanjutnya bagi santri yang 
dipandang sudah layak mengajarkan ilmu dari guru, diberi ijazah atau diijazahi 
oleh kyai. Ijazahnya bukan berujud selembar kertas, tetapi berupa  akad dimana 
dengan bersalaman guru membolehkan murid untuk mengajar. Kata ijazah itu 
sendiri berasal dari kata ajaza-yujizu-ijazatan artinya membolehkan atau 
perkenan, sama seperti konsep magister (guru) dalam tradisi keilmuan Eropa. 

Sejalan dengan perkembangan zaman, forum halaqah juga berkembang, bukan saja 
lingkaran dalam satu ruang, tetapi juga lingkaran pembaca (koran), lingkaran 
pemirsa (TV), lingkaran pendengar (radio) dan lingkaran pengunjung (internet).

Al Qur’an banyak sekali mengingatkan manusia agar menggunakan akalnya untuk 
berfikir dan bertafakkur; afala tatafakkarun, afala ta`qilun, awala 
yatadabbarun. Manusia memang adalah hewan yang berfikir ( al insanu hayawanun 
nathiqun). Pada manusia, berfikir merupakan proses keempat setelah sensasi, 
persepsi dan memori yang mempengaruhi penafsiran terhadap suatu stimulus. Dalam 
berfikir orang melibatkan sensasi, persepsi dan memori sekaligus (istilah 
psikologi). Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah 
atau problem solving, (2) untuk mengambil keputusan, decision making, dan (3) 
untuk melahirkan sesuatu yang baru (creatifity).

Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin rumit cara berfikirnya. Ada orang 
yang hanya bisa melamun, ada yang berfikir tetapi tidak realistis, dan ada yang 
berfikir realistis, ada yang berfikir ngawur, ada yang berfikir nalar (dari 
kata Arab nadzara). Ada orang yang selalu berfikir (failasuf), ada orang yang 
hanya mau berfikir jika merasa perlu (tehnokrat), dan ada yang kadang-kadang 
saja berfikir (penganggur).

Orang pandai berfikir secara bersistem, misalnya berfikir deduktif (mengambil 
kesimpulan khusus dari pernyataan umum), atau sebaliknya berfikir induktip 
(mengambil kesimpulan  umum dari pernyataan khusus. Tetapi terkadang ada 
masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan berfikir, maka bagi orang yang sangat 
pintar ia memakai metode yang disebut berfikir kreatip (creatip thinking).

Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menggunakan metode baru, konsep baru, 
penemuan baru, paradigma baru dan seni yang baru pula. Urgensi pemikiran 
kreatip bukan pada kebaruannya tetapi pada relefansinya dengan pemecahan 
masalah. Karena kebaruan dan tidak konvensional, maka orang yang kreatip sering 
tidak difahami oleh orang kebanyakan, tak jarang dianggap aneh atau bahkan 
dianggap gila (berfikir gila). Orang besar sering mengemukakan ide-ide gila 
karena jarak orang besar dengan orang gila memang sangat tipis. Proses berfikir 
kreatip itu melalui lima tahapan : (1) orienstasi, yakni merumuskan dan 
mengidentifikasi masalah.(2) preparasi, yakni mengumpulkan sebanyak mungkin 
informasi, (3) inkubasi, yaitu berhenti dulu, tidur dulu, cooling dawn dulu.(4) 
iluminasi, yakni mencari ilham, dan (5) verifikasi, yakni menguji dan menilai 
secara kritis.

Wassalam,
agussyafii

-
Tulisan ini dibuat dalam rangka program kegiatan "Amalia Cinta Rasul" (ACR), 
Hari Kamis, tanggal 26 Maret 2009 di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 
Komplek Peruri, RT 001 RW 09, Sud-Tim, Ciledug. TNG. silahkan kirimkan dukungan 
dan komentar anda di 087 8777 12 431, [email protected] atau 
http://agussyafii.blogspot.com



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke