Prasangka Baik

„Wahai istriku, sesungguhnya di kota Madinah ini sedang tersebar berita tentang 
Ummul Mukminin Aisyah. Bagaimanakah pendapatmu tentang berita itu ? "
Berita Bohong 

Kalimat pertanyaan diatas adalah pertanyaan Abu Ayyub kepada istrinya tentang 
berita bohong yang sedang menghangat di kota Madinah tentang Ummul Mukminin 
Aisyah ra yang dituduh berbuat serong dengan Safwan bin Mu'atthal As-Silmi. 
Tuduhan tersebut dilontarkan oleh kaum munafiqin yang dikepalai oleh Abdullah 
bin Ubay bin Salul. Mereka adalah sebagian penduduk Madinah yang tidak suka 
akan kehadiran kaum Muslimin yang berhijrah ke kota Madinah. 

Peristiwa ini berawal saat Aisyah ra tertinggal dari rombongan Rasulullah 
ketika beliau kembali dari peperangan melawan bani Musthaliq. Aisyah yang 
tertinggal dari rombongan, ditemukan oleh Shafwan yang bertugas berjalan di 
belakang pasukan. Ketika Shafwan menemukan Aisyah yang sedang terbaring 
berselimutkan kainnya, Shafwan bertanya, 

„Mengapa Anda tertinggal ?" 

Shafwan segera mendekatkan untanya pada Aisyah dan mempersilahkan beliau untuk 
menaikinya. Shafwan kemudian menuntun onta yang ditunggangi Aisyah melanjutkan 
perjalanan menuju Madinah. Melihat peristiwa ini, kaum munafiqin tidak mau 
kehilangan kesempatan untuk menjatuhkan kehormatan keluarga Rasulullah dengan 
mengeksploitasi peristiwa itu dan melontarkan tuduhan yang sangat keji. 

Bagaimanakah sikap kaum muslimin ketika mereka mendengar berita yang belum 
diketahui kebenarannya tersebut, yang dilontarkan oleh kaum munafiqin terhadap 
Ummul Mukminin Aisyah dan Shofyan ? 

Sikap kaum muslimin 

Kaum muslimin pada waktu itu terbagi dua dalam menanggapi kasus tersebut. Ada 
yang yakin bahwa berita tersebut hanyalah fitnah orang-orang yang tidak suka 
kepada keluarga Rasulullah saw., ada pula yang secara langsung atau tidak 
langsung membenarkan berita tersebut lewat kata-kata dan sikap mereka. Keluarga 
sahabat Abu Ayyub termasuk kedalam kelompok kaum muslimin yang berprasangka 
baik kepada Aisyah dan Safwan. Berikut ini adalah petikan dialog antara Abu 
Ayyub dan istrinya tentang kasus diatas : 

„Wahai istriku, sesungguhnya di kota Madinah ini sedang tersebar berita tentang 
Ummul Mukminin Aisyah. Bagaimanakah pendapatmu tentang berita itu ? " 

Istri abu Ayyub berbalik bertanya, „Wahai suamiku, andaikan engkau menjadi 
Shafwan apakah engkau pernah berpikir untuk melakukan perbuatan serong dengan 
Ummul Mukminin Aisyah ?" 

„Tentu saja tidak !", jawab Abu Ayyub. 

„Wahai suamiku, jika aku menjadi Aisyah, aku pun tidak akan pernah berpikir 
untuk mengkhianati Rasulullah. Dan ketahuilah, bahwa Shafwan itu jauh lebih 
baik daripada engkau, dan Aisyah itu jauh lebih baik daripada aku. Jika 
terhadap kita saja hal itu tidak mungkin terjadi, bagaimana mungkin hal itu 
terjadi orang-orang yang lebih baik dari kita ? (yaitu Shafwan dan Aisyah)". 

Bagaimana seharusnya bersikap ? 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya 
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan 
orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah 
salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka 
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. 
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 49:12)
Allah menyebutkan bahwa sebagian dari prasangka adalah dosa. Memang benar, 
karena pada kenyataannya prasangka itu hampir selalu mengikuti keinginan hawa 
nafsu. Ketika seseorang mendapatkan sesuatu berita „negativ" (yang belum pasti 
kebenarannya), maka dengan sigapnya syaitan duduk disampingnya, menambahi 
berita itu dengan beribu macam dugaan dan menbisikannnya ke dalam hati manusia. 

Menyadari hal tersebut, hendaklah kita segera menepis segala lintasan pikiran, 
dugaan, prasangka (atau entah apa lagi namanya), sehingga kita tidak terjerumus 
ke dalam dosa dan segera beristighfar minta ampun kepada Allah. 

Selanjutnya Allah pun melarang kita kaum muslimin mencari-cari kesalahan orang 
lain (apalagi saudara sendiri) dan menggunjing mereka, hingga Allah memisalkan 
perbuatan tersebut seperti memakan daging saudara sendiri. Siapakah yang sudi 
memakan daging seperti itu ? 

Jika kita kebetulan mendengar sesuatu hal tentang saudara kita, yang belum 
teruji kebenarannya, maka wajiblah bagi kita untuk mendahulukan prasangka baik 
(husnudzon) sebelum prasangka buruk (su'udzon), seperti yang dicontohkan oleh 
keluarga Abu Ayyub diatas. Prasangka baik inilah yang akan menjadikan hubungan 
persaudaraan (ukhuwah) semakin erat dan melindungi kita dari penyakit hati iri 
dan dengki terhadap saudara seiman. 

Ikatan persaudaraan yang dilandasi oleh iman, yang terlindung dari gerogotan 
prasangka buruk dan kedengkian inilah yang akan mampu membangun bangunan Islam 
yang tahan menghadapi serangan panas, hujan dan badai. 

Nisaa 
Sumber : Al-Qur'an, Sunnah, Shiroh Nabi 
http://members.tripod.com/~NisaOnline/naskah/9605ut.htm


Kirim email ke