Saya sebenarnya punya sebuah impian besar, yaitu: "Merealisasikan
kebahagiaan material dan spiritual bagi seluruh pegawai dan seluruh
manusia, serta memimpin usaha perdamaian di seluruh dunia." Ini
sepertinya menjadi sebuah obsesi saya, yang saya sendiri pun tidak tahu
apakah impian besar itu benar-benar bisa saya wujudkan kelak. Ataukah
hanya sebatas berupa cita-cita mulia yang terlintas di pemikiran saya.

Tujuan utama saya adalah menolong sesama untuk hidup layak, dan
berbahagia dalam arti sebenarnya. Jika impian besar saya ini bisa
diwujudkan secara nyata, maka itu akan dapat meneguhkan dasar kehidupan
manusia secara luas, dan menentukan apakah kehidupan kita sudah sesuai
atau tidak, dalam mewujudkan manusia yang berkepribadian unggul bagi
diri sendiri, maupun untuk orang lain.

Saya sering mengemukakan tema berbeda-beda dalam menjelaskan
"lorong-lorong kehidupan" yang harus dan semestinya dilalui untuk
membangun kehidupan manusia. Oleh karenanya, saya berharap pada akhirnya
dapat memberikan kesadaran pada mereka yang salah jalan, menunjukkan
kesalahannya, menemukan kebenarannya, sehingga membuat mereka ini mampu
beradaptasi terhadap kebenaran ataupun kenyataan di kehidupan ini.

Melalui pengalaman dan pengetahuan yang saya sadari juga masih terbatas
ini, maka impian besar saya ini, saya anggap sebagai landasan prinsip
saya untuk berusaha membimbing dan menyadarkan mereka yang membutuhkan
dukungan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan sejati.

Oleh karena itu, untuk bisa mewujudkan impian besar saya tersebut, hal
pertama yang harus saya lakukan adalah, selain memikirkan kehidupan saya
sendiri beserta keluarga besar saya, maka saya sedapat mungkin, sedikit
demi sedikit berusaha untuk memahami kebenaran hidup. Jika tidak
demikian, saya merasa tidaklah mungkin dapat hidup secara sempurna
sebagai manusia. Singkat kata, maksud saya tentang memahami kebenaran
hidup adalah sama dengan seperti saat kita mengusir orang-orang jahat
yang menganiaya orang lemah.

Seandainya saya sebagai orang awam, yang hanya hidup dan bekerja untuk
uang saja, maka saya akan selalu berkata: "Jual lebih banyak…dan
semakin banyak lagi. Tingkatkan penjualan!", "Kurangi biaya pengeluaran.
Sedapat mungkin undurkan pembayaran jatuh tempo, kalau perlu jangan
dibayar!", "Tingkatkan efisiensi di setiap sektor usaha!"

Dan, saya tidak perlu bersusah payah memikirkan hal-hal yang rumit
tentang orang lain. Jika saya hanya melakukan itu, memberikan perintah
"ini" dan "itu" saja, maka saya yakin, pasti akan memiliki sejumlah
perusahaan yang memiliki uang kontan terbanyak di negeri ini. Akan
tetapi, saya tidak mau berbuat demikian, dan selalu menghindarinya,
karena bagi saya kehidupan ini tidak sama dengan uang.

Impian manusia bukanlah harta dan nama besar saja. Menurut saya, impian
manusia yang sebenarnya, dan merupakan tujuan serta misi hidup adalah:
"Mempersembahkan diri dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk
kebaikan manusia dan dunia."

Dalam menjalankan bisnis sebenarnya juga harus demikian. Namun,
bagaimanakah kenyataannya? Jika kita amati secara kasat mata, para
pengusaha dewasa ini, kalau mendapat "cek kosong" walaupun jumlahnya
sedikit, mereka bersikap seperti siput yang disiram garam, "megap-megap"
kehabisan nafas. Dan, ketika mendapat kerugian sedikit saja, mereka
mengeluh: "Waduh… Habislah saya. Saya tidak dapat menanggungnya!",
lalu melarikan diri.

Para pengusaha semacam itu ada dimana-mana, bagaikan jamur yang tumbuh
dan berkembang, dimana perekonomian sedang berkembang dan menggelembung.
Mereka ini hanya memiliki ambisi yang dibanggakan pada permukaan luarnya
saja, tetapi tidak memiliki keyakinan yang cukup di dalam dirinya untuk
bisa benar-benar meraih sukses.

Marilah kita merenungkan diri sejenak.

Dapatkah Anda menyangkal, bahwa banyak pikiran atau ide-ide buruk yang
berkecamuk di dalam hati dan pikiran kita, tanpa dapat dicegah? Dan,
walaupun pikiran-pikiran buruk tidak ada di dalam hati Anda, tetapi
perasaan-perasaan yang menyuramkan hati kadang juga meluap tanpa dapat
dicegah dan banyak memonopoli pikiran Anda, seperti: kesedihan,
kemarahan, ketakutan, ataupun rasa pesimis. Dan ini seringkali membuat
Anda "mati langkah", tidak tahu harus bertindak bagaimana.

Cobalah untuk benar-benar memahami apa yang telah kita dengar, dan
menghapuskan perasaan-perasaan buruk dari dalam hati, maka kita
membangun kesehatan dan nasib secara benar, agar kita dapat hidup di
dalam kehidupan yang layak.

Tidak peduli dengan apa yang telah Anda pelajari, Anda baca, seberapa
banyak Anda mendatangi seminar, workshop, ataupun seberapa banyak
pengalaman yang Anda miliki; saya sangat yakin, bahwa jika apa yang
telah Anda peroleh itu tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari,
pastilah kebahagiaan sejati tidak akan Anda peroleh secara nyata.

Pada saat Anda membaca kenyataan yang saya utarakan dalam tulisan saya
ini, mungkin Anda akan berterima kasih sambil berpikir di dalam hati:
"Ya, memang benar begitu, Pak Wuryanano
<http://wuryanano.wordpress.com/about/> . Saya juga merasakan hal yang
sama." Akan tetapi pernyataan Anda itu seringkali segera terlupakan,
setelah Anda tidur dan bangun pada keesokan harinya.

Atau bisa saja Anda dapat memahami kenyataan ini, tetapi karena suatu
sebab Anda menjadi sakit, mengalami musibah dalam pekerjaan atau bisnis,
atau Anda sedang menerima nasib buruk; maka kejadian negatif itu bisa
membuat Anda melupakan pernyataan Anda sebelumnya, yang membenarkan
uraian saya tentang kenyataan kebenaran hidup tersebut di atas.

Dalam hal ini, tidak dapat dikatakan bahwa mereka sudah menyadari
kebenaran hidup, melainkan mereka hanya mengerti saja. Mengerti dan
menyadari adalah dua hal yang sangat berbeda! "Mengerti" adalah hanya
mengetahui saja, sedangkan yang dimaksud dengan "Menyadari" adalah
benar-benar menerimanya dengan segenap hati dan jiwa. Umumnya Anda hanya
tiba pada arti mengerti saja, berterima kasih ataupun merasakan
kegembiraan yang amat sangat secara berlebihan, dan Anda menganggapnya
sebagai kebahagiaan.

Menyadari adalah tindakan membuang pikiran-pikiran duniawi, dan
keyakinan-keyakinan "membuta" tersebut, kemudian Anda menyimpannya
sebagai bagian dalam pengetahuan Anda. Sehingga dengan kekuatan hati,
maka Anda tidak akan pernah merasa lemah, meski Anda menghadapi nasib
yang bagaimanapun juga.

Namun, jika hanya mengerti di permukaan saja, pikiran-pikiran duniawi
dan keyakinan-keyakinan "membuta" masih tetap ada di dalam pikiran Anda.
Sehingga sampai kapan pun Anda hanya sampai pada tahap mengerti saja,
dan tidak dapat mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Hasilnya?
Kehidupan Anda akan berakhir tanpa arti, dan pada saatnya Anda akan
merasa: "Saya hanya makan, minum, dan buang air saja. Sepertinya hidup
ini tidak berguna."

Misalnya, pada suatu malam Anda tidak bisa tidur tanpa alasan jelas,
maka timbul pikiran, "Wah…susah nih, tidak dapat tidur. Saya
menderita insomnia." Anda hanya mengerti dan berpikir, bahwa jika
tidak cukup tidur akan membawa pengaruh buruk, dan kerugian kesehatan
dan nyawa. Anda mulai berpikir, "Jika tidak bisa tidur, rasa lelah pada
badan akan semakin meningkat, sehingga terjadi kelebihan zat urea, yang
dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit sirosis hati atau penyakit
ginjal." Pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan ini semakin lama tambah
menyiksa diri.

Akan tetapi pada saat sama, orang yang benar-benar memiliki kesadaran
diri, yakni yang telah berhasil membuang pikiran duniawi dan menghapus
keyakinan "membuta", maka perasaan hatinya penuh dengan optimisme.

Pada orang dengan kesadaran hidup, maka jika ada masalah, akan
diselesaikan dengan segala pertimbangan. Sehingga, meskipun timbul
pemikiran akan penyakit yang membahayakan jiwa atau mengalami nasib
buruk; maka dalam hatinya ada kemampuan untuk menyembuhkannya sendiri.
Ini merupakan hal amat penting dan tidak bisa diabaikan. Namun, banyak
orang yang tidak mempedulikannya, akibatnya mereka jadi sembrono, mudah
marah, sedih, takut, menderita, bingung, benci, kesakitan, dan
penderitaan-penderitaan lainnya.

Sekali menyadari kebenaran hidup, maka Anda tidak akan mengalami
ketidakharmonisan atau perasaan-perasaan negatif yang menghancurkan.
Oleh karena itu, kesadaran akan kebenaran hidup sejati, dapat dikatakan
sebagai "perisai baja" untuk mencegah "tangan jahat" yang bisa membuat
kehidupan menjadi tidak harmonis, dan menghalangi nasib buruk yang bisa
menghancurkan kehidupan.

Menyadari tentang kehidupan, adalah sama seperti menyediakan wadah untuk
menerima dan menampung ketidakterbatasan kekuatan hidup dan
keberlimpahan hidup. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan,
terutama bagi mereka yang ingin hidup dalam kesempurnaan kebahagiaan
sejati. Tetapi ini merupakan hal terpenting di atas segalanya dalam
hidup, dan harus dipikirkan dengan serius.


Salam Luar Biasa Prima!
Wuryanano
http://wuryanano.wordpress.com/ <http://wuryanano.wordpress.com/> 
http://www.wuryanano.com/ <http://www.wuryanano.com/>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke