Memahami Takdir

By: Prof. Dr Achmad Mubarok MA

Yang berbicara dan mempersoalkan “takdir” hanyalah manusia. Mengapa? Di antara 
sekian banyak makhluk yang mengisi alam raya ini, hanyalah manusia yang 
mempunyai kemampuan memikirkan perbuatannya dan kejadian-kejadian yang berlaku 
di sekitarnya. Pada tahap tertentu dalam kehidupannya, daya fikirnya bekerja 
penuh melakukan penalaran; yaitu ketika ia sudah mencapai titik pertumbuhan 
jasmani dan rohani yang dewasa atau akil baliq. Ketika itu manusia merasa 
dirinya kuat, cakap dan cerdas, dapat mengetahui dan dapat melakukan segalanya; 
kemam¬puannya meluap-luap menginginkan segalanya.

Bilamana manusia berada dalam keadaan sehat, kuat serba tahu dan serba mau, dia 
merasa dirinya mampu mandiri, dan tidak memerlukan siapa-siapa, maka pada 
gilirannya ia bisa menghina
 atau memperkosa orang lain, atau sekurang-kurangnya memandang remeh sesama 
orang lain. Kenyataan ini direkam dalam Alquran pada ayat 6 dan 7 Surah 
al-‘Alaq: Ketahuilah! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. 
Karena dia melihat dirinya serba cukup.

Namun bilamana sejenak ia mampu mengendalikan diri lalu bersedia mendengarkan 
suara hati nuraninya, maka dia akan diberi petunjuk untuk melihat dan mengamati 
sekelilingnya. Apa sesungguhnya yang terjadi? Manusia akan menemukan bahwa 
tidak semua apa yang dinginkannya (mau diperbuat) akan senantiasa terjadi 
sebagaimana ia kehendaki sendiri. Tidak sedikit hal-hal yang terjadi justeru di 
luar kemampuannya dan tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Ketika 
manusia berjumpa dengan kenyataan seperti itu, maka ia akan mulai merasakan 
keter¬batasan dirinya itu, dan pada gilirannya akan mengenal adanya batas-batas 
dalam kehidupan ini. Mujurlah manusia bilamana ia sempat menoleh sejenak ke
 belakang, melihat masa lalu yang telah dilewatinya dalam perjalanan hidup itu. 
Ia akan tahu bahwa kehadirannya di atas persada bumi ini, sama sekali di luar 
jangkauan kemampuannya, dia sama sekali tidak mempunyai pilihan tentang hal 
tersebut. Siapa yang menjadi ayahnya dan siapa ibu yang melahirkannya itu? 
Kapan ia lahir dan di mana terjadi kelahirannya? Kenapa dia lahir sebagai 
laki-laki atau sebagai perempuan? Semuanya harus ia terima menurut adanya, dan 
semua itu tidak terjangkau oleh keinginannya dan berada di luar kemampuannya 
sendiri: ia tidak bebas menentukan pilihan atas hal-hal tersebut. Bukankah ini 
semua, menjadi kenyataan hidup manusia yang sesungguhnya?

Barangsiapa yang memilih berangkat dari angka satu dalam menyusun bilangan 
ketika ia berhitung (dan memang itulah pilihan yang tepat dan logis) maka ia 
akan mencari jawaban teka-teki kehidupan itu, dari titik awal kehadirannya di 
bumi ini. Bukankah sebelumnya ia sendiri berada di
 angka nol, sebagaimana diungkapkan Alquran dalam Surah al-Insan: Bukankah 
telah berlalu atas manusia itu suatu kurun waktu dimana ia belum merupakan 
sesuatu yang dapat disebut?

Ketika ia belum hadir di dalam rahim ibunya, ia belum punya nama dan belum 
punya wujud yang nyata, bagaimana ia dapat disebut? Dan mau disebut apa ketika 
itu? Bukankah awal kehadirannya di bumi ini sesuatu yang sungguh misterius? Dan 
bukankah kehidupan itu sendiri adalah misteri yang tak kunjung terpecahkan oleh 
daya nalarnya sepanjang sejarah? Hal seperti ini merupakan bentuk lain dari 
keterbatasan manusia di dalam hal pengetahuannya. Sementara pengetahuan manusia 
ini (yang melahirkan ilmu dan teknologi) merupakan kebanggaan tertinggi bagi 
manusia itu.

Maka apabila kita menalar kenyataan-kenyataan yang ada di sekeliling kita 
sebagaimana diungkap di atas, kita akan melihat bahwa masalah takdir, nasib, 
suratan dan perwujudan yang nyata dalam soal ajal, rezki, jodoh,
 dan lain sebagainya, kuncinya adalah bagaimana kita memahami hubungan antara 
manusia dengan kehidupan itu sendiri.

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke