Artikel: Menolong Perusahaan Keluar Dari Krisis

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita sering mengartikan sahabat sebagai orang yang bersedia menerima kita apa 
adanya. Dan memang benar, sahabat sejati selalu bersedia menerima kita, bahkan 
ketika kita sedang berada dalam kesulitan. Karenanya, peran sahabat bisa lebih 
dekat dibandingkan dengan kerabat. Hebatnya lagi, persahabatan tidak hanya bisa 
dibangun antar manusia. Sebab, begitu banyak kisah tentang persahabatan antara 
manusia dengan mahluk lain. Tetapi, pernahkah singgah dalam pikiran anda 
gagasan untuk bersahabat dengan perusahaan? 

Perusahaan memang bukanlah mahluk hidup. Namun, serangkaian kegiatan yang 
terjadi didalamnya menjadikan perusahaan seperti sebuah organisme hidup. 
Memiliki beragam ciri layaknya mahluk hidup. Itu sebabnya, perusahaan bisa 
tumbuh dari kecil hingga besar. Perusahaan bisa sangat sehat atau menderita 
sakit. Perusahaan bisa terus hidup atau mati. Sehingga kita bisa berkesimpulan 
bahwa perusahaan itu memiliki 'jiwa'. Jika demikian, rasanya menjadi masuk akal 
bagi kita untuk bersahabat dengan perusahaan tempat kita mencari nafkah ini. 
Sekarang, cobalah kita renungkan; apakah kita bersedia menjadi sahabat baginya? 

Jika sahabat kita sedang dilanda kesulitan, apa yang kita lakukan? Kita 
berusaha mencarikannya jalan keluar. Jika sahabat kita tengah dirundung 
kesedihan, kita memberinya penghiburan. Dan jika sahabat kita sedang 
membutuhkan bantuan, maka kita mengulurkan tangan. Jika perusahaan yang kini 
telah menjadi sahabat bagi kita ini sedang dilanda krisis, apa yang harus kita 
lakukan? 

Kita tidak akan pernah tega membiarkannya terus menerus menderita. Bukan karena 
kita merasa berkepentingan atas sejumlah penghasilan, atau takut terkena 
pemutusan hubungan kerja. Melainkan karena kita merasa bahwa perusahaan ini 
sudah menjadi sahabat yang menemani perjalanan hidup kita sehari-hari. Selama 
ini, dia sudah lama menjadi tempat yang bersedia menerima kedatangan kita 
setiap hari, tanpa ditanya; kamu siapa? Dia tidak pernah menghujat; ngapain 
kamu datang kesini? Dan dia, sahabat kita itu, tidak pernah mengusir kita. 
Bayangkan, bertahun-tahun sudah dia menerima kehadiran kita dengan tangan 
terbuka. Dan perusahaan kita – sang sahabat itu – telah menerima kita, seperti 
halnya sebuah rumah kedua bagi kita.

Sekarang coba tengok sekali lagi; apakah perusahaan kita ikut terimbas oleh 
krisis ekonomi ini atau tidak? Tanyakan kepadanya apakah kita bisa membantunya 
keluar dari krisis itu? Mengapa? Karena kita ini adalah sahabatnya kini. Kita 
tidak mungkin membiarkan sahabat terkasih ini berjibaku dengan kesulitan demi 
kesulitan yang tengah menghimpitnya.

Lantas, bagaimana caranya menolong sahabat kita ini? Bekerja dengan 
sungguh-sungguh adalah salah satu caranya. Menghemat kertas dikantor, juga 
sangat membantunya. Atau mematikan lampu kamar kerja ketika hendak makan siang, 
juga bisa meringankan beban. Dan lebih dari itu, kita perlu meningkatkan 
disiplin diri. Datang ke kantor tepat waktu. Melakukan makan siang sesuai 
dengan jatah waktu yang diberikan, serta mengurangi hal apapun yang tidak 
berdampak positif bagi perusahaan.

Mudah-mudahan, dengan kontribusi sekecil apapun yang kita berikan, kita bisa 
membantu sang sahabat sejati ini keluar dari krisis yang tengah menghimpitnya.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 
Business Administration & People Development 
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio 

Catatan Kaki: 
Kita sering khawatir perusahaan tidak bisa keluar dari krisis. Ironisnya, kita 
sering membiarkannya semakin terpuruk kedalam krisis dengan melakukan 
tindakan-tindakan  yang tidak berhubungan dengan pekerjaan disaat seharusnya 
kita kerja.  


Kirim email ke