Tingkah laku yang Terkendali

By: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Surat al-Ra'd / 13:11 mengisyaratkan bahwa perbuatan manusia berhubungan erat 
dengan apa yang ada dalam nafs mereka. Di balik perbuatan seseorang atau suatu 
kaum ada sesuatu yang bersifat psikologis yang menentukan keberhasilan atau 
kegagalannya. Kualitas nilai dari perbuatan itu, apakah bernilai positif atau 
bernilai negatif juga ditentukan oleh sesuatu itu. Hadits Nabi juga menyatakan 
bahwa nilai suatu perbuatan bergantung kepada niatnya.  Dengan demikian maka 
sesungguhnya manusia dapat menentukan sendiri apa harus diperbuatnya dan apa 
yang harus ditolaknya. Hati manusia dapat menolak sesuatu, seperti yang disebut 
dalam surat al-Tawbah / 9:8  atau secara sengaja melakukan sesuatu seperti yang 
diisyaratkan surat al-Ahzab / 33:5.

Manusia memiliki kesadaran, akal budi dan kemampuan berkhayal. Dengan kesadaran 
diri manusia mampu mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya, untuk selanjutnya 
menggunakan kekuatannya unruk menutupi kelemahannya. Dengan akal budi manusia 
mampu memahami dan menguasai alam serta mengembangkan ilmu dan teknologi yang 
berguna bagi kemudahan-kemudahan hidupnya. Dengan khayalannya manusia mampu 
membebaskan diri dari ikatan waktu dan tempat untuk memikirkan masa depan atau 
membanyangkan hal-hal yang tidak terjangkau oleh panca inderanya. Dengan 
kemampuan-kemampuan yang dimilikinya itulah manusia dapat menempatkan dirinya 
subyek dan obyek sekaligus, satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh hewan.

Perwujudan dari kemampuan dan watak individu yang dimiliki oleh manusia dalam 
proses adaptasinya dengan lingkungan itulah yang disebut kepribadian 
(personality).  Dalam perspektif al-Qur'an tingkah laku manusia yang merupakan 
wujud dari kepribadiannya sebenarnya merupakan sinergi dari kualitas-kualitas 
nafs, qalb, 'aql dan bashirah dalam sistem nafs-nya. Jika tingkah laku manusia 
secara umum dapat disebut sebagai perwujudan dari kepribadiannya, maka 
sebaliknya perbuatan yang dilakukan secara terus menerus oleh seseorang juga 
mempengaruhi pembentukan kepribadiannya. Kualitas kepribadian manusia tidak 
terbentuk sekaligus, tetapi terbentuk melalui proses yang panjang, bermodal 
sifat bawaan sejak lahir yang diwarisi dari agenetika orang tuanya, kemudian 
terbangun melalui proses penyesuaian diri dengan penglaman hidupnya. 
Kepribadian setiap orang mengandung keunikan yang membedakannya dari orang lain.

Untuk menilai kualitas tingkah laku manusia, harus dibedakan apakah tingkah 
laku itu  bersifat temperamental atau bersumber dari karakter kepribadiannya. 
Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangkasan yang 
datang dari lingkungan dan dari dalam dirinya sendiri. Temperamental 
berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, sehingga sulit untuk 
berubah. Temperamen bersifat netral terhadap penilaian baik buruk.

Adapun karakter, ia berkaitan erat dengan penilaian baik buruknya tingkah laku 
seseorang, yang didasari oleh bermacam-macam tolok ukur yang dianut 
masyarakatnya. Karakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang, oleh 
karena itu ia dapat berubah, sejalan dengan bagaimana ia menilai pengalaman 
itu. Jika temperamen tidak mengandung implikasi etis, maka karakter justru 
selalu menjadi obyek penilaian etis. Seseorang boleh jadi memiliki temperamen 
yang berbeda dengan karakternya. Ada orang yang temperamennya buruk (negatif) 
tetapi karakternya baik, sebaliknya ada orang yang karakternya buruk, tetapi 
temperamennya baik. Seseorang yang karakternya buruk akan semakin buruk jika ia 
juga memiliki temperamen buruk. Sedangkan orang yang karakternya baik tetapi  
temperamennya buruk biasanya ia segera menyesali dan merasa malu atas tingkah 
laku buruknya, meskipun hal itu selalu terulang kembali.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian tingkah laku 
hanya dimungkinkan pada tingkah laku yang bersumber dari karakter, sedangkan 
tingakh laku yang bersumer dari temperamen pengendaliannya terbatas hanya pada 
meminimalkan, bukan pada perubahan. Tetapi yang pasti, manusia mempunyai 
kebebasan untuk memutuskan apakah ia beriman atau ingkar seperti dijelaskan 
dalam surat al-Kahfi / 18:29.

Ukuran kualitas tingkah laku mausia juga bisa dilihat dari apakah perbuatannya 
itu bersumber dari fitrahnya atau perbuatan yang sifatnya diusahakan 
(al-muktasab). Tingkah laku fitrah adalah perbuatan yang sumbernya dari naluri 
fitrahny, yakni yang berhubungan dengan sistem biopsikologi dan sifat-sifat 
hereditas dan bawaan sejak lahir. Contoh tingkah laku fitrah adalah cara 
mengisap susu ibu yang dilakukan oleh bayi, cara bernafas manusia, gerakan 
refleks seseorang dan tingkah laku lainnya yang sejenis itu. 

Dalam hal tingkah laku fitrah, manusia berbuat secara spontan tanpa 
mempertimbangkan untung rugi maupun tujuan. Meskipun manusia dilahirkan di 
tempat-tempat yang berjauhan dan berbeda zaman, tetapi tingkah laku fitrahnya 
sama karena fitrah itu berasal dari Allah SWT dan bersifat baku. Menurut 
al-Qur'an fitrah manusia itu bersifat menetap, seperti yang tertera dalam surat 
al-Rum / 30:30. Sedangkan tingkah laku yang diusahakan, al-muktasab, adalah 
perbuatan yang bersumber dari gabungan pengetahuan dan pengalaman yang 
dipenjara manusia sejak lahir dan kemudian dijadikan kebiasaan. Dalam melakukan 
perbuatan ini manusia memperhitungkan untung rugi, baik untung rugi yang 
bersifat dekat, duniawi, maupun untung rugi yang bersifat jauh ke belakang, 
ukhrawi, pahala dan dosa.

sumber, http://mubarok-isntitute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke