bismillahirohmaanirrohim
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakahtuh,




............................
..............................................
< oleh: Jamil Azzaini >


Bila
ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran Anda? Mungkin berbagi
dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako, susu, atau berbagi makanan.
Ya, semua jawaban biasanya dalam bentuk materi. Itu mungkin karena di
kepala kita telah tertancap ide-ide materialistik yang sudah
mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat
material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin
bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.

Setiap
tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti
asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali.
Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah
survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim.
Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Ketika berkunjung ke salah
satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah manis
dan lucu. Dia masih sekolah kelas nol besar. ”Siapa namamu nak?” sapa
ayah saya. ”Nama saya Nina Om”, jawabnya manja. ”Nina sudah punya
sepatu baru?” tanya ayah saya. ”Sudah om, dikasih Abah (pemimpin
panti-red). Nina juga sudah punya baju baru” urai Nina.

“Kalau
begitu Nina mau apa?” tanya ayah saya. “Nggak ah… ntar Om marah” jawab
Nina. “Nggak sayang, Om nggak akan marah,” ayah saya menimpali. ”Nggak
ah… ntar Om marah” Nina mengulang jawabannya. Ayah saya berpikir, pasti
yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan ayah
saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.

”Ayo Nak
katakan apa yang kamu minta sayang”, pinta ayah saya. ”Tapi janji ya Om
tidak marah?” jawab Nina manja. ”Om janji tidak akan marah sayang,”
tegas ayah saya. ”Bener Om nggak akan marah?” sahut Nina agak ragu.
Ayah saya menganggukkan kepala.

Nina
menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, ‘Seberapa
mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa
saya tidak akan marah’. Sambil tersenyum Ayah mengatakan “ayo Nak,
katakan, jangan takut, Om tidak akan marah Nak.””Bener ya Om nggak
marah?,” ujar Nina sambil terus menatap wajah ayah saya. Sekali lagi
ayah saya menganggukkan kepala.

Dengan wajah berharap-harap
cemas, Nina mengajukan permintaanya ”Mmmm, boleh gak mulai malam ini
saya memanggil Om..dengan paggilan Ayah?. Nina sedih gak punya ayah”

Mendengar
jawaban itu, Ayah saya tak kuasa membendung air matanya. Segera dia
peluk Nina, ”tentu Anakku.. tentu Anakku…mulai hari ini Nina boleh
memanggil Ayah, bukan Om”. Sambil memeluk erat ayah saya, dengan
terisak Nina berkata ”terima kasih ayah… terima kasih ayah..”.

Hari itu, adalah hari yang takkan terlupakan buat
ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan
bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu
berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang Ayah bertanya lagi
pada Nina, ”anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari
bersama ibu dan kakak-kakakmu, apa yang kamu minta nak?” ”Kan udah
tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah,” jawab Nina.

”Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau 
yang lain, pasti akan Ayah kasih.” jelas Ayah saya.

”Nanti
kalau ayah datang sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto bareng
yang ada Ayah, Ibu dan kakak-kakak NIna, boleh kan Ayah?” Nina memohon
sambil memegang tangan Ayah.

Tiba-tiba kaki Ayah lunglai. Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina 
sambil bertanya, ”buat apa foto itu Nak?”

“Nina
ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina,
ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin
erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru
kehidupannya di hari itu.

Terima
kasih Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami
tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih
bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta,
maka kehidupan kita akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang
lain merasakan keberadaan kita di dunia.



(Cerita ini
saya kutip dari buku kedua saya:
 Menyemai Impian Meraih SuksesMulia,
terbitan Gramedia. 
Merupakan pengalaman nyata orang tua angkat saya.

Salam SuksesMulia.- Jamil Azzaini - )





         
        
        








        


        
        


      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke