Artikel: Benarkah Kita Hidup Dalam Serba Kekurangan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Banyak sekali kekurangan dalam diri kita. Kurang mancung. Kurang putih. Kurang 
kaya. Kurang pintar. Dan beragam macam kurang-kurang lainnya. Oleh karena itu, 
kita tidak pernah kekurangan alasan untuk bersembunyi dibalik serba kekurangan 
yang kita miliki. Sampai-sampai, alasan yang kita kemukakan itu tidak lagi bisa 
diterima akal karena sama sekali tidak bermutu. Herannya, semakin hari kita 
semakin nyaman dengan beragam alasan itu. Seolah-olah kita sudah menjadi 
sahabat terbaik bagi para alasan dan enggan beranjak barang sedikit saja dari 
tempat persembunyian itu. Padahal, kita percaya bahwa tidak ada manusia yang 
sempurna. Dan kita juga percaya bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu; ada 
orang-orang yang bisa menghasilkan pencapaian tinggi. Tapi, mengapa bersembunyi 
dibalik kekurangan diri ini kok terasa begitu nikmat?

Akhir tahun lalu, saya mengikuti bowling fun game. Dengan modal keterampilan 
main bowling yang nol besar ini, saya berhasil memenangkan hadiah berupa 3 
lembar voucher masing-masing bernilai seratus ribu rupiah. Jadi, pasti 
kemenangan itu  merupakan 'keberuntungan seorang pemula'. Beberapa hari yang 
lalu, voucher itu 'ditemukan' kembali terselip dibuku catatan saya. Lalu, saya 
menggunakannya untuk mampir disebuah cafeshop. Sekedar nongkrong sejenak 
selepas mengikuti kelas fitness. Sekarang Anda sudah tahu bahwa saya berani 
masuk kesana gara-gara memiliki voucher itu; sehingga saya cukup mengeluarkan 
uang 15 ribu rupiah saja untuk makan berdua rada gaya. Kalau tidak ada voucher 
itu; saya tidak makan disitu, haha.

Ketika tengah menikmati ice blended vanilla dan smoked beef cake itu mata saya 
tertuju kepada sebuah meja dimana disana tengah bersantap siang sebuah keluarga 
terdiri dari Ayah, Ibu, dan dua anak yang lucu-lucu. Anak-anak sibuk bermain. 
Sang Ibu sibuk menyuapi mereka. Sedangkan sang Ayah terlihat asyik melayani 
pertanyaan-pertanyaan anak-anak sambil terus bekerja dengan lap-topnya.  
Sungguh, saya terkesan dengan lelaki seumuran saya itu. Entah mengapa, saya 
merasa ada 'aura' kuat yang terpancar dari dalam dirinya. Ketika itu saya 
merasa seolah tengah memandang seorang bintang  dengan segenap profesionalisme 
dan kompetensi. Padahal, saya tidak mengenalnya. 

Saya tidak berhenti mencuri pandang kearahnya. Seperti ketika remaja dulu 
mencuri pandang kearah gadis pujaan hati. Bedanya, dulu saya melakukan itu 
karena perasaan suka kepada kecantikan yang memukau. Sekarang, karena sebuah 
kekaguman. Diam-diam, dalam hati saya berbisik; ingin rasanya meniru orang itu.

Saya mengira bahwa kekaguman itu akan berhenti sampai disitu. Tetapi saya 
keliru seratus persen. Saya termangu ketika menyaksikan pemandangan lain sesaat 
setelah itu. Yaitu, ketika orang itu berubah posisi duduk dan serta merta saya 
menyadari bahwa ternyata orang itu memiliki keistimewaan lain yang tidak 
dimiliki kebanyakan orang. Tahukah anda apa keistimewaan itu? Beliau memiliki 
satu kaki.

Sekarang saya jadi malu kepada diri sendiri. Dengan kesempurnaan fisik ini pun 
saya masih saja bersembunyi dibalik seribu satu alasan untuk membesar-besarkan 
kekurangan diri. Sehingga saya bisa dengan mudahnya menyerah. Lalu, memilih 
untuk bersikap pasif. Lalu menjadi orang yang tidak berbuat apa-apa secara 
produktif.

Betapa banyak orang yang diberi kesempurnaan penciptaan seperti kita, namun 
mempunyai mental yang lembek. Betapa banyak orang yang memiliki kelengkapan 
fisik seperti kita, namun setiap hari berkubang dengan keluh kesah. Padahal, 
betapa Tuhan telah memberi lebih banyak dari yang kita butuhkan; tapi, kita 
masih saja memenjarakan diri didalam kotak berlabel 'kurang'. 

Saat ini, rasanya kok saya masih duduk dihadapan orang hebat di cafe itu. Dan 
saya masih merasakan semangatnya berputar-putar diatas kepala saya. Seolah dia 
berubah menjadi malaikat bersayap indah, lalu berkata; "Keluarlah dari tempat 
persembunyianmu. Karena, Tuhan telah memberimu segala yang engkau butuhkan, 
untuk menjalani hidupmu....."

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Menyadari kekurangan diri bisa menghindarkan kita dari sifat sombong. Namun, 
terlampau membesar-besarkannya bisa melupakan kita akan betapa banyak nikmat 
yang sudah kita dapat. 

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk  Mading kantor silakan 
hubungi kami japri dengan subjek "Artikel Mading" ke [email protected] 


Kirim email ke