Merenung dan Berfikir pada gelap malam, apa yang saya cari ketika saya
bekerja...? apakah saya melakukan semua pengorbanan untuk bekerja hanya
karena mencari uang, atau ada faktor lain yang saya tuju. mungkin pertanyaan
yang pernah saya alami waktu lalu masih juga terdapat pada diri beberapa
sahabat. Memang tidak bisa dipungkiri jutaan orang bekerja karena
berorientasi uang, karena uang yang bisa menjadi dan meyokong kehidupan kita
bukan.

Beberapa rekan HRD yang pernah berdiskusi dengan saya mengatakan bahwa
Pekerja yang berorientasi bekerja hanya karena uang memiliki perbedaan
motivasi kerja dan kreativitas  dibanding pekerja yang berorientasi pada
prestasi, tapi terkadang banyak pekerja yang mengeluh bahwa Perusahaan tidak
memperhatikan prestasi yang dibuat oleh karyawanya, sehingga membuat jatuh
mental pekerja atau karyawan untuk berprestasi.

Berfikir nakal sedikit, mungkih kah saya bekerja tanpa niat mendapat uang
atau gaji, kebanyak kita pasti menjawab tidak bisa, karena bekerja tanpa
mengharapkan gaji/uang itu adalah irasional, mungkin kita semua menyadari
bahwa Gaji atau mendapat uang adalah suatu hal yang sangat penting, manusia
sangat manusiawi ketika bekerja menginginkan imbalan Gaji atau uang. tapi
apakah kita bekerja hanya mengejar gaji?

Banyak juga sahabat saya yang memilih keluar dari kantor yang menawarkan
gaji atau uang yang besar dan mereka bergabung disuatu tempat yang memberi
kenyawaman, atau kesempatan karyawannya untuk berprestasi. jadi hal ini juga
membuat pertanyaan di dalam diri saya, apakah benar bahwa bekerja hanya
karena uang? ternyata Pekerja memiliki Sedikitnya ada dua sikap yang biasa
kita gunakan dalam menyikapi pekerjaan kita. Pertama, sikap menjadikan uang
sebagai sasaran tunggal (Hanya Uang) dan kedua, sikap menempatkan uang
sebagai salah satu dari sasaran aktivitas (Selain Uang). Hal yang harus kita
sadari bersama bahwa perbedaan pilihan, akan membawa dampak mental yang
berbeda.

Jika uang dikatakan sebagai sasaran, berarti posisi uang adalah Akibat dari
sebuah Sebab. Uang dengan kata lain adalah hasil pencapaian usaha tertentu
yang kita niatkan untuk mendapatkan uang. Kalau posisinya untuk menduduki
posisi atau jabatan atau mencari prestasi Akibat, berarti uang tidak punya
kekuasan sebagai faktor penentu. Usahalah yang menjadi penentunya.Jika usaha
yang menjadi penentu maka semua usaha itu punya konsekuensi yang tidak bisa
kita pilih, yaitu antara meleset dan tepat sasaran. Berdasarkan tabiat hukum
alam, meskipun semua usaha itu sudah dijamin pasti mendapatkan balasan
tetapi balasan itu variatif: ada yang langsung, diundur, diberikan sebagian,
dan diberikan keseluruhan. Balasan yang variatif inilah yang memiliki
hubungan korelatif dengan pola penyikapan yang kita pilih.

Ketika kita tidak memilih uang, maka secara langsung kita melatih diri kita
untuk berfikir dan berusaha, beberpa teori ilmiah menyatakan ternyata alam
fikiran manusia itu memiliki kemampuan yang lebih dahsyat dari yang paling
optimal sanggup kita bayangkan.Menurut yang sebenarnya pikiran ini malah
lebih senang kalau diberi tugas mencapai sasaran yang banyak. Pikiran ini
menurut penjelasan pakar pendidikan - kalau dinyalakan tidak berarti bahan
bakarnya akan habis tetapi malah makin bertambah, atau ada istilah pikiran
itu seperti pisau makin diasah makin tajam bukan. tapi kita seringkali tidak
meberi makan yang cukup kepada fikiran kita, karena tanpa disadari ketika
kita memilih orientasi bekerja hanya karena uang, Pikiran tidak kita beri
tugas untuk memikirkan sasaran hidup atau kita beri "makanan" berupa
tantangan dan pelajaran hidup yang sedikit sekali, terbatas, dan hanya
terpusat pada uang.

Adapun persoalan imbalan dalam konteks hubungan kita dengan manusia, tentu
tergantung kesepakatan yang telah kita buat. Namun, kita tetap bisa
mengajarkan diri kita untuk ikhlas baik dengan imbalan atau tanpa imbalan.
Sebab, pokok utamanya adalah sikap mental dalam menjalankan tanggung jawab
hidup. Karena keikhlasan ini merupakan elemen hidup, maka semua orang
sebetulnya punya kapasitas untuk belajar mempraktekkan ajaran keikhlasan ke
tingkat yang lebih tinggi untuk membangun sikap positif terhadap kerja,
selain uang semata. keihklasan, adalah melakukan sesuatu dengan sasaran tak
terbatas pada satu objek sasaran saja. Pakar pengetahuan seperti Abraham
Maslow dan lain-lain, menamakan sasaran tak terbatas itu dengan prestasi,
aktualisasi-diri, atau optimalisasi potensi yang tak mengenal batas.

Pertanyaannya, bagaimana supaya motivasi kerja kita tetap tinggi dan
kreativitas kita tetap hidup, pada saat gaji di rasa kurang memadai, jarak
ke kantor jauh dan macet, fasilitas kurang memadai, dsb. Di sinilah kita
perlu mencari kebahagiaan yang dapat ditemukan, melalui keikhlasan diri
dalam berkarya dan berkreasi. Dengan cara itu, setiap pekerjaan dan kreasi
akan menjadi sebuah oase yang memberikan kesegaran, dan pertumbuhan bagi
setiap orang dalam karya dan usahanya. Jadi, jika kita memusatkan pikiran
pada "bagaimana mengembangkan diri dari dalam", maka kita akan terpacu dan
termotivasi untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dan bernilai
pada diri kita, karena hasil (uang) bukan lagi menjadi sebuah tujuan, namun
suatu proses  penciptaan, penguasaan, penaklukkan dari setiap tantangan,
itulah yang jauh lebih bermakna dan memberikan kepuasan dalam bekerja.

Semoga ulasan ini bisa berguna bagi diri sendiri dan sahabat lainya untuk
bisa bekerja tidak selalu berfokus pada uang, ingat asalah diri anda terus
menerut, tuangkan prestasi tertinggi anda, Berbuatlah yang terbaik, dan
berbagi dengan sesama, maka secara tidak langsung Uang akan datang tanpa
kita jadikan sebuah tujuan dalam bekerja, karena ada satu hal yang bisa
menjadi tujuan kita dalam bekerja disamping uang, yaitu Kebahagian hidup dan
Aktualisasi diri anda. Jadi selamat bekerja untuk mencapai kebahagian
hidup.Bagaimana pendapat anda....?(EA)

" Bekerja Bukan semata Karena Duit, tapi Do IT"

6 Mei 2009

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY
----------------------------------
Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita
yang telah dilabuhkan sampai kebelakang tabir.

- Terus mengharapkan yang terbaik, maka kita akan menghasilkan yang terbaik.
- Jangan bersungut-sungut tetapi mengucap syukurlah  senantiasa.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke