Artikel: Sebenarnya Apa Sih Bakat Kita Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Adakah orang yang meragukan keampuhan bakat sebagai modal dasar bagi seseorang 
untuk meraih kesuksesan? Kelihatannya tidak ada. Karena, kita percaya bahwa 
jika bisa mengoptimalkan bakat alias talenta kita, maka pastilah kita akan 
menjadi orang  yang sukses. Persoalannya kemudian adalah, bagaimana kita 
mengidentifikasi dan mengenali apa sesungguhnya talenta kita ini? Bahkan, 
meskipun umur kita sudah tergolong dewasa, kita tidak benar-benar yakin bahwa 
kita sudah bekerja pada bidang yang sesuai dengan bakat yang kita miliki. 
Apakah anda juga merasakan hal sedemikian?

Salah satu hal menarik yang bisa kita saksikan dari kontes-kontes dijaman 
modern seperti American atau Indonesian Idol, Britain Got Talents, dan kontes 
serupa lainnya adalah; kita sering dikejutkan oleh orang-orang yang menyimpan 
bakat tersembunyi didalam dirinya selama berpuluh-puluh tahun. Selama itu, 
bakat mereka terkubur dalam balutan tubuh masing-masing. Dan tak sesaatpun 
terbangunkan hingga mereka mengikuti kontes itu.

Dalam salah satu tayangan kontes itu saya menyaksikan seorang lelaki berusia 
tiga puluhan. Dia mengatakan bahwa cita-citanya adalah untuk melakukan sesuatu 
yang menjadi alasan terbesar mengapa dia dilahirkan, yaitu; menyanyi. Namun 
selama ini dia tidak pernah melakukannya karena menurutnya; "saya selalu 
mempunyai masalah besar dengan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa saya bisa 
tampil dengan baik". Dari wajah dan tatapan matanya, kita bisa segera tahu 
bahwa orang ini memang sangat malu dan minder. 

Ketika naik keatas panggung menghadapi audiens dan Pak Simon Cowell beserta dua 
juri lainnya, dia kelihatan benar-benar gugup. "Apa yang akan kamu lakukan 
disini?" kata salah seorang juri. "Saya akan menyanyikan lagu opera...." 
katanya dengan nada getar. Semua penonton terdiam, besiap untuk memberikan 
simpati dan belas kasihan. Sedangkan semua juri mengernyitkan dahi, dan 
mempersilakan orang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya dengan nada 
enggan. 

Sesaat kemudian, musik opera mulai diputar membuat pengunjung semakin 
mengkhawatirkan nasib sang kontestan saat dikritik oleh juri nanti. Namun, 
ketika 'bunyi' pertama keluar dari suara vokal lelaki itu, semua pendengar 
terperangah. Bahkan, sang juri paling sangar sedunia itupun terkejut dan mulai 
menatap kearahnya dengan tatapan mata kekaguman. Mendengar suaranya yang tidak 
kalah dengan Luciano Pavarotti itu, pendengar yang terbius mulai menitikkan air 
mata. Lalu, mereka berdiri dan bertepuk tangan  ketika nyanyian itu berakhir. 
Hingga acara selesaipun penampilannya masih menjadi pembicaraan dimana para 
juri merumpikannya sebagai salah satu penampilan paling mengejutkan dari 
kontestan yang sempat disepelekan.
Pada kesempatan lain, saya bertemu dengan salah seorang sahabat yang berpofesi 
sebagai pengelola radio. Orang ini telah sukses membawa banyak radio yang 
ditanganinya hingga menjadi bisnis yang menguntungkan dan bergengsi. Ketika 
saya bertanya; tantangan terberat apa yang pernah dihadapinya? Dia menyebutkan; 
'pandangan masyarakat'. Maksudnya, orang-orang disekitarnya yang menganggap 
bahwa bekerja diradio bukanlah 'bekerja'. Sebab, masyarakat kita sering 
menganggap bekerja itu identik dengan dasi atau seragam bagus. Atau, memiliki 
kartu nama bertuliskan perusahaan semacam bank atau perusahaan lain yang 
memiliki nama besar. Diluar itu; nilai 'bekerja' menjadi berkurang.

Sampai disini, kita sudah mendiskusikan 2 rintangan terbesar yang sering kita 
hadapi ketika ingin mengoptimalkan bakat yang kita miliki. Pertama adalah 
rintangan dari dalam diri ketika kita dihambat oleh rasa percaya diri. Kita 
ragu jika apa yang bisa kita lakukan itu benar-benar bernilai. Dan kedua adalah 
hambatan dari luar diri kita, ketika kita harus berhadapan dengan stigma yang 
berlaku dimasyarakat. Mereka menilai rendah orang-orang yang memiliki profesi 
'aneh' dan tidak sesuai dengan gambaran profesi yang kebanyakan orang 
definisikan. 

Dan ternyata memang benar bahwa kedua hal itu sangat efektif dalam menggagalkan 
kita untuk sampai kepada pencapaian tertinggi yang sesunguhnya bisa kita raih. 
Faktanya, betapa seringnya kita merasa ragu apakah kita akan mendapatkan 
penghasilan yang memadai jika memilih untuk melakukan apa yang kita yakini 
sebagai bakat sesungguhnya yang kita miliki. Dan keraguan itu telah membuat 
kita memilih untuk bekerja pada suatu profesi yang sesungguhnya bisa dikerjakan 
tanpa bakat khusus. Maka jadilah kita orang yang bekerja pada bidang yang tidak 
benar-benar kita sukai. Dan kita membiarkan bakat itu terkubur sia-sia.

Betapa seringnya kita merasa takut masyarakat tidak akan bersedia menerima apa 
yang kita lakukan sesuai dengan bakat kita itu. Padahal, kita semuanya yakin 
bahwa ketika kita bisa memberi manfaat kepada lingkungan dan masyarakat, maka 
akan selalu ada tempat yang bersedia menerima kita dengan tangan terbuka. 
Mungkin, yang perlu kita lakukan adalah menemukan tempat yang tepat itu. Sebab, 
kita semuanya yakin bahwa setiap manusia dilahirkan dengan sebuah misi yang 
Tuhan berikan; yaitu berkontribusi kepada dunianya. Dan ketika setiap orang 
memahami itu, maka mestinya tidak ada lagi kehawatiran yang menghambat 
seseorang untuk berfokus kepada bakat yang dimilikinya. Dan mendalami kegiatan 
dan pekerjaan sesuai dengan bakat itu. Sebab, ketika seseorang bekerja sesuai 
dengan bakatnya; bukan hanya akan melakukannya dengan gembira dan suka cita. 
Dia juga juga akan menghasilkan karya yang mengesankan. Sebab, salah satu 
alasan Tuhan memberi kita bakat yang unik dan berbeda-beda adalah; untuk saling 
memberi manfaat dengan sesama. Satu sama lain.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Menemukan apa bakat kita memang tidaklah mudah. Namun, ketika kita menemukan  
dan memanfaatkannya; kita memiliki peluang untuk berkontribusi lebih maksimal 
bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang-orang disekitar kita.

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk  Mading kantor silakan 
hubungi kami japri dengan subjek "Artikel Mading" ke [email protected] 


Kirim email ke