Artikel: Mari Berbagi Semangat!

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah Anda merasa sedemikian malasnya untuk melakukan sesuatu? Seolah-olah 
kita kehilangan gairah. Seluruh otot tubuh kita seakan enggan untuk digerakan. 
Apalagi jika ditambah dengan hati yang gundah. Rasa lemas ini menjadi semakin 
bertambah parah. Kemanakah perginya semangat itu?  

Pagi itu music media player saya tengah memutar salah satu lagu pavorit. 
Rupanya, visual modenya diset pada tampilan skin mode view. Hasilnya, dilayar 
komputer saya muncul sebuah window berisi indikator gelombang suara berupa 
bar-bar yang bergerak naik dan turun. Ketika frekuensi nada sedang tinggi, maka 
ketinggian bar itu bertambah. Sedangkan ketika alunan nada itu turun maka bar 
itupun ikut turun. Dan karena gelombang suara pada musik itu terus berubah, 
maka tinggi dan rendah setiap bar yang mewakili setiap gelombang suara yang 
dihasilkannya juga berubah naik dan turun.

Saya jadi teringat dengan sang semangat itu. Rupanya, seperti bar-bar indikator 
nada itu; semangat memang tidak statis. Dia bersifat dinamis. Dia bergerak naik 
dan turun. Sehingga, kalau semangat kita sedang turun, itu tidak selalu 
merupakan indikasi buruk. Sebab, selama kita masih bisa menaikkannya kembali; 
maka itu tidak akan menjadi masalah serius. Bayangkan seandainya musik yang 
Anda dengar tidak memiliki nada-nada rendah. Maka semua bar nada akan diam, 
atau terus meninggi. Sehingga musik itu terdengar monoton, dan semakin lama 
semakin memekakan telinga. Keindahan musik itu, justru timbul dari naik dan 
turunnya irama dan nada untuk membentuk sebuah komposisi musik yang anggun. 
Bukankah hidup juga demikian? Naik dan turunnya semangat adalah gambaran 
dinamika hidup. Kita tidak perlu terlampau mengkhawatirkannya, selama 
senantiasa bersedia untuk menaikkannya kembali.

Tetapi, bukakah bagus jika semangat kita tetap tinggi? Mungkin memang bagus. 
Tetapi, apakah itu 'mungkin' bagi ukuran manusia seperti kita? Semangat 
merupakan gambaran rasa hati. Jika kita sedang berduka, atau bersuka cita; maka 
itu akan tercermin dalam semangat kita. Jika kita memiliki semangat yang 
terus-menerus tinggi, layak dipertanyakan; apakah kita menjalani kehidupan ini 
secara normal? Misalnya, dalam keadaan berduka, bar indikator semangat manusia 
secara normal akan bergerak kebawah. Sedangkan ketika kita sedang bersukacita, 
bar itu naik kembali. Jika kita tidak pernah berduka, ada dua kemungkinan; kita 
tidak pernah kehilangan. Apakah berupa kehilangan orang yang kita cintai, 
benda-benda yang kita sukai, atau harapan kita yang kandas. Kemungkinan kedua, 
kita bukan manusia yang berperasaan, sehingga semua yang terjadi tidak 
mempengaruhi jiwa kita. Bukankah kedua kemungkinan itu bukan untuk manusia 
normal? Bahkan seorang motivator paling hebat sekalipun tidak dapat lari dari 
fitrah ini. 

Jadi, bagaimana seandainya kita tengah memasuki periode berkurangnya semangat 
itu? Diri sendiri memang merupakan sumber paling ampuh untuk mengembalikan 
semangat itu. Itulah sebabnya, mengapa ada orang-orang yang bisa segera 
menaikkan kembali semangatnya tanpa bantuan orang lain. Dan hal itu bisa 
dilakukan dengan beberapa langkah berikut ini:

Pertama, menerima fakta bahwa naik dan turunnya semangat merupakan hal yang 
normal sebagai bagian dari dinamika hidup. Dengan demikian, kita tidak 
menyalahkan diri sendiri ketika kehilangan semangat. Sebab menghukum diri tidak 
pada tempatnya hanya akan semakin membenamkan kita kepada keterpurukkan yang 
semakin dalam.

Kedua, memahami penyebab menurunnya semangat kita. Pemahaman terhadap akar 
masalah membantu kita untuk menyelesaikan sumber utamanya, sehingga kita bisa 
melakukan langkah yang tepat untuk mengurangi efek negaitfnya. 

Ketiga, memfokuskan diri kepada tujuan atau sesuatu yang ingin kita raih. 
Mengharapkan segala sesuatu yang kita inginkan agar tercapai dengan mudah 
tidaklah cukup bijaksana. Bahkan orang paling berpengaruh dan paling kaya 
seduniapun tidak mungkin bisa mendapatkan 'semua' keinginannya. Sehingga untuk 
itu, kita mesti berjuang. Dan perjuangan bukanlah perjuangan jika bisa kita 
lakukan dengan cara yang mudah. Jika itu terlalu mudah, mungkin karena tujuan 
kita kurang menantang. Sedangkan kesulitan yang kita hadapai mengindikasikan 
bahwa tujuan kita itu cukup berbobot.

Keempat, bergaul dengan orang-orang yang bersedia untuk berbagi semangat. Itu 
berarti bahwa ada kalanya Anda berkesempatan untuk menerima tambahan semangat 
dari orang lain. Dan pada saat lain, Anda bersedia untuk untuk berbagi semangat 
kepada mereka. Sebab, didunia ini; tidak ada satu manusiapun yang benar-benar 
bisa berdiri sendiri. Jika Anda bisa berdiri sendiri, misalnya; mengapa Anda 
masih mengharapkan orang lain membeli produk Anda? Keinginan kita untuk 
berbisnis pun menunjukkan kebutuhan kita kepada orang lain. Selama kita belum 
memutuskan untuk melepaskan segala hal duniawi dan memilih untuk bersemedi, 
maka kita masih membutuhkan orang lain. 

Kita tahu bahwa musik hanya bisa dihasilkan dari kombinasi beragam nada yang 
naik dan turun silih berganti; sehingga nada-nada itu bisa saling mengisi dan 
melengkapi. Kehidupan kita juga hanya bisa dibangun dari kesediaan untuk meramu 
naik dan turunnya semangat yang kita miliki. Dan itu merupakan panggilan bagi 
kita, untuk saling berbagi semangat satu sama lain.  

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman 
Managing Partner & Learning Facilitator of IFSHA Strategic
Cell: 0812-19899-737 or visit http://www.dadangkadarusman.com/  

Catatan Kaki: 
Persahabatan adalah tentang orang yang selalu bersedia memberi kita semangat 
ketika kita membutuhkannya. Dan dengan lapang dada menerima semangat yang kita 
berikan, ketika dia membutuhkannya.

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk  Mading kantor silakan  hubungi kami 
japri dengan subjek "Artikel Mading" ke [email protected]  


Kirim email ke