------- Forwarded message ---------- From: Taufik Dwidjowinarto <[email protected]> Date: 2009/5/23 Subject: [Apa itu Neoliberalisme ?. (01) To: "Milis : ekonomi nasional" <[email protected]>, "milis : eramuslim" <[email protected]>, "Milis : Syiar Islam" < [email protected]>, "milis : Tarekat" <[email protected]>
Perkenankan saya mulai dengan pertanyaan sederhana : Apa yang ekstrem dari tata ekonomi pasar-bebas seperti di Chile pada masa rezim Pinochet sehingga disebut Neo-Liberal ? . [email protected], itu membawa kita mundur sejenak ke masa sekitar 75 tahun lalu. Kisahnya tidak berawal di Chile atau Amerika Latin, tetapi di Jerman pada dasawarsa 1930-an, ketika istilah Neo-Liberal muncul. Seperti setiap peristiwa sejarah, kisahnya tentu tidak semiskin ringkasan berikut ini. Di awal dasawarsa 1930-an, Jerman mulai diburu hantu Fascisme yang membawa suasana ganjil campuran antara totalitarianisme dan kolektivisme. Dalam suasana itulah, sekawanan ahli ekonomi dan hukum yang terkait dengan Universitas Freiburg mulai mengembangkan suatu gagasan ekonomi-politik liberal yang kemudian disebut Mazhab Freiburg. Para anggota mazhab ini berkumpul di sekitar pemikir Walter Eucken (1891-1950) dan Franz Böhm (1895-1977). Penyebaran gagasan mereka dilakukan melalui jurnal Ordo (kurang lebih berarti tatanan), yang diterbitkan dari kota Düsseldorf. Itulah mengapa gagasan mereka kemudian disebut Mazhab Ordo-Liberal. Ordo-Liberal sering kali juga disebut Neo-Liberal, tetapi dalam pengertian sangat berbeda dari arti neo-liberal dewasa ini. Awalan neo (baru) dipakai untuk membedakan diri dari liberalisme abad ke-18 dan ke-19, dengan memasukkan kritik dari gagasan sosialisme. Pemikiran Mazhab Ordo-Liberal menjadi cikal-bakal desain ekonomi pasar-sosial (soziale Marktwirtschaft) yang kemudian melandasi pembangunan ekonomi Jerman Barat setelah Perang Dunia II. Gagasan Ordo-Liberal dipandu oleh pertanyaan konkret begini : apabila persoalan kaum liberal di abad ke-18 dan ke-19 adalah bagaimana menciptakan kebebasan ekonomi dalam tata-negara yang tidak bebas, masalah kaum liberal di paroh pertama abad ke-20 adalah bagaimana mendirikan tata-negara dalam suasana kebebasan ekonomi yang sudah ada. Cukup pasti persoalan ini mencerminkan kegelisahan para pemikir Ordo-Liberal atas kekosongan bangunan tata-negara di Jerman yang luluh-lantak setelah kekalahan Nazi dan kejatuhan Hitler. Singkat cerita, hasilnya adalah filsafat ekonomi pasar sosial. Pertama, di jantung filsafat Ordo-Liberal adalah gagasan anti-naturalistik tentang ekonomi pasar. Artinya, pasar (market) bukan peristiwa alami seperti musim semi atau tsunami, tetapi satu dari beragam relasi yang diciptakan manusia. Karena itu, pasar dapat dibentuk, dihancurkan, dan diubah menurut desain kita. Masalah sentral bukan apakah pasar bebas atau tidak-bebas pasar yang tidak-bebas adalah contradictio in terminis tetapi bahwa kinerja pasar selalu butuh Vitalpolitik, yaitu tindakan politik membentuk nilai-nilai moral dan kultural bagi pengadaan barang/jasa ekonomi, dan sekaligus untuk mencegah kolonisasi prinsip ekonomi pasar atas bidang-bidang moral dan kultural. Tujuan Vitalpolitik adalah menciptakan sederetan kondisi bagi kinerja pasar secara adil. Namun, itu juga berarti pemisahan tegas antara ekonomi dan politik merupakan ilusi. Kedua, karena pasar merupakan salah satu relasi yang diciptakan untuk membantu pengadaan kebutuhan barang/jasa bagi hidup-bersama, dinamika perubahan sosial tidak dapat diserahkan kepada kinerja pasar tanpa kerangka tata-sosial. Itulah mengapa Ordo-Liberal menolak determinisme perubahan menurut dalil ekonomi ala laissez-faire dan juga Marxisme ortodoks. Bagi Ordo-Liberal, fokus perdebatan tentang perubahan bukan terletak dalam pertanyaan sejauh mana bidang/relasi sosial-politik-kultural digerakkan oleh ekonomi pasar (seperti dalam neo-liberalisme sekarang), tetapi sejauh mana kinerja pasar membantu terjadinya kontrak sosial. Dalam arti ini, premis Ordo-Liberal tentang manusia bukanlah homo oeconomicus, tetapi homo socialis. Ketiga, berdasarkan premis itu, agenda transformasi ekonomi terletak dalam upaya mengubah kapitalisme secara terus-menerus menurut visi kontrak sosial. Gagasan Ordo-Liberal berjalan dalam tegangan antara individualitas kebebasan dan sosialitas tatanan. Tugas tata-pemerintahan melalui berbagai kebijakan adalah menjaga tegangan itu, dan bukan menghapus salah satu kutub dengan menerapkan komando sentral ataupun menyerahkan pembentukan tatanan sosial kepada kinerja pasar. Sentralisme ala Soviet bukanlah akibat alami dari utopia sosialitas tatanan, dan gejala konsentrasi kekuasaan bisnis di tangan perusahaan-perusahaan raksasa juga bukan nasib alami kinerja pasar.9 Keduanya adalah produk strategi ekonomi-politik yang gagal. Pokok-pokok itu mungkin terasa membosankan. Dan gerutu kita berisi pertanyaan : Apa kaitan semua itu dengan soal neo-liberalisme dalam pengertian dewasa ini ?.. Begini ringkasnya. Sebagaimana setiap mazhab tidak berisi keseragaman gagasan, begitu pula di dalam jaringan Ordo-Liberal terdapat beberapa sekte pemikiran. Jaringan Ordo-Liberal dihuni oleh banyak pemikir yang terutama terkait dengan Mazhab Freiburg (Jerman) dan Universitas Chicago (Amerika Serikat).10 Dalam perkembangan selanjutnya, keragaman pemikiran mereka terbelah ke dalam sekurangnya tiga aliran ekonomi. Sekte pertama biasanya disebut kaum Liberal Sosial (Social Liberals), berkumpul di sekitar pemikir Karl Schiller. Mereka percaya bahwa ekonomi pasar harus dijalankan untuk pengadaan berbagai barang/jasa, meskipun tidak semua. Tetapi mereka juga punya kecurigaan mendalam terhadap kecenderungan perluasan prinsip pasar ke bidang-bidang lain. Maka mereka menggagas, kompetisi ekonomi harus dijalankan sejauh mungkin, tetapi bila kompetisi membawa konsentrasi kekuasaan dan marginalisasi, intervensi harus dilakukan melalui regulasi. Bagi anggota kelompok ini, sistem ekonomi yang baik adalah ekonomi-pasar yang dikawal regulasi (regulated market economy). Sekte kedua terdiri dari para pemikir inti Ordo-Liberal seperti Eucken dan Böhm. Mereka menaruh kecurigaan ganda baik terhadap intervensi lewat regulasi, maupun pada ciri alami kompetisi pasar. Antara pendulum intervensi-regulasi dan kompetisi-alami, mazhab ini menggagas ekonomi pasar bukan sebagai relasi yang terpisah dari semesta relasi politik, kultural dan sosial, melainkan tertanam dalam semesta relasi-relasi itu. Kunci pendekatan ekonomi bukan terletak dalam regulasi, dan juga bukan pada tangan tak kelihatan pasar, tetapi dalam kerangka institusional yang membuat relasi-relasi ekonomi, kultural, politik, hukum serta moral terjalin erat satu sama lain sebagai tatanan sosial. Ekonomi yang baik adalah ekonomi pasar sosial (social market economy). Sekte ketiga terdiri dari para pemikir ekonomi Mazhab Austria (seperti Friedrich von Hayek) dan Mazhab Chicago (seperti Milton Friedman) yang berjaring dengan Mazhab Freiburg. Inilah mazhab yang kemudian disebut kaum libertarian. Mereka mulai dari premis bahwa semua bentuk tatanan yang baik terbentuk secara spontan dari prinsip kebebasan, dan kebebasan itu hanya terlaksana dalam tatanan yang terbentuk dari relasi-relasi spontan. Ekonomi pasar-bebas adalah locus dan model spontanitas serta kebebasan itu, dan semua bentuk ekonomi planning adalah jalan menuju perbudakan. Oleh karena itu, segala batasan politik, kultural, sosial, dan hukum serta regulasi pemerintah harus se-minimal mungkin. Andaipun dilakukan, aturan hanya boleh bersifat negatif. Artinya, jangan campur tangan. Hak atas hidup, misalnya, diartikan sebagai hak untuk tidak dibunuh, dan bukan hak atas pangan. Sistem ekonomi yang baik adalah ekonomi pasar bebas (free market economy). Dari gagasan mazhab Libertarian inilah kemudian berkembang arti Neo-Liberalisme dalam pengertian seperti sekarang. Penggerak utamanya adalah para ekonom yang terkait dengan Universitas Chicago setelah Perang Dunia II, seperti Milton Friedman, Friedrich von Hayek, Gary Becker, George Stigler. Keterkaitan awal mereka dengan para pemikir Ordo-Liberal yang juga sering diberi nama Neo-Liberal membuat mereka kemudian disebut kaum Neo-Liberal mazhab Chicago. Syahdan, para mandarin kebijakan ekonomi rezim Augusto Pinochet adalah sekelompok ekonom Chile murid para libertarian di Universitas Chicago ini. Itulah yang rupanya membuat para pejuang demokrasi di Amerika Latin lalu menyebut para Chicago boys ini sebagai kaum neo-liberal. Begitulah metamorfosis istilah dalam kekusutan kisah sejarah. Penyulut kontroversi tentulah bukan soal peristilahan, tetapi gagasan mazhab ini yang kemudian menyusup ke dalam berbagai kebijakan. Dengan itu kita sampai pada inti dari apa yang dimaksud Neo-Liberalisme dewasa ini. Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan. B. Herry-Priyono. http://www.unisosdem.org/kumtul_detail.php?aid=6953&coid=1&caid=24&p=2&auid=3 ***** Meskipun bantahan demi bantahan diluncurkan oleh Boediono maupun pihak SBY sebagai pasangannya yang akan maju dalam pemilu presiden mendatang, sejumlah pengamat ekonomi keukeuh menilai Boediono memang menganut paham ekonomi neoliberalisme. Apa saja argumen yang mendasari klaim tersebut ?. Mantan Menneg PPN/ Kepala Bappenas zaman Megawati, Kwik Kian Gie, mengatakan punya banyak catatan dalam rekam jejak Boediono sebagai pejabat publik. Sebagian besar langkahnya adalah 'menjual' sumber daya dan fasilitas publik kepada para investor. " Tanya pada Pak Boediono, dia berpendapat atau tidak ketika jalan raya yang mulus bebas hambatan itu harus dikenakan tarif tol, diserahkan kepada investor swasta, domestik maupun internasional. Oleh karena itu, investornya buat laba dan rakyat yang harus bayar tol !? ", seru Kwik seusai diskusi bertajuk "JK-Win untuk Indonesia Adil dan Sejahtera : Ekonomi Kemandirian vs Ekonomi Neoliberal" di Jakarta, Jumat (22/5). Padahal, menurut Kwik, di negara-negara besar di Amerika dan Eropa, seluruh fasilitas dan sumber daya publik dapat dinikmati rakyat secara gratis. Lalu apa lagi ?. Kwik kemudian menyebutkan beberapa pertanyaan yang patut dilontarkan kepada Boediono untuk membuktikan pria asal Blitar tersebut memiliki mazhab neoliberal. " Betul atau tidak bahwa Boediono pro penjualan bahan bakar minyak (BBM) suatu waktu ketika Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan meski harganya tinggi ?. Betul atau tidak bahwa Boediono pro semua jalan bebas hambatan harus dikenakan biaya ?. Betul atau tidak bahwa Boediono menganggap barang-barang publik yang penting-penting menjadi ajang cari laba untuk investor asing ? ", tanya Kwik panjang lebar. Pengamat ekonomi Hendri Saparini dari ECONIT memiliki pendapat serupa. Tiga pilar Neoliberal, yaitu stabilitas makro, agenda liberalisasi, dan agenda privatisasi, yang dicetuskan dalam Washington Consensus menjiwai tindakan-tindakan Boediono. Menurut Hendri, seorang penganut neoliberal tak akan meninggalkannya sedikit pun. Dalam pilar pertama, seorang neoliberal akan membuat kebijakan hanya demi stabilitas makro. Hendri menilai pernyataan-pernyataan SBY menunjukkan ciri ini.. Pilihan kebijakannya pun demikian. Mazhab ini mengharuskan pengambilan kebijakan pengurangan atau pemotongan subsidi. " Tidak salah jika dalam pidato, SBY mengatakan akan menekan inflasi dan ukuran stabilitas makro. Itu hanya akan menguntungkan kelompok kapital ," tutur Hendri. Belum lagi agenda liberalisasi dan privatisasi yang dilakukan oleh Boediono ketika menjabat sebagai Menkeu dalam masa pemerintahan Megawati dan Menko Ekuin dalam pemerintahan SBY. Misalnya, dalam penyusunan UU Migas. Hendri menilai pemerintahan SBY juga marak melakukan privatisasi. Bahkan, saat ini 40 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah didata untuk diprivatisasi, antara lain PT Krakatau Steel dan PT Kereta Api Indonesia. Boediono Memang Penganut Neoliberal ?. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/05/22/13581432/Boediono.Memang.Penganut.Neoliberal Boediono Memang Penganut Neoliberal. http://www.forumbebas.com/showthread.php?tid=58893 ***** Koaliasi Anti Utang (KAU) menilai pasangan capres-cawapres SBY-Boediono merupakan paket dari ''Poros Washington" yang berhaluan Neoliberal. Sedangkan partai-partai pendukung yang masuk dalam dukungan koaliasi ini dinilai sebagai kelompok oportunis. KAU khawatir jika pasangan ini terpilih, maka ekonomi Indonesia akan semakin didikte pihak Amerika Serikat (AS) beserta negara-negara sekutunya. '' Boediono adalah murid IMF dan Bank Dunia. Tidak ada yang bisa diharapkan dari pasangan ini kecuali Indonesia akan semakin diintervensi lembaga internasional asing dan semakin dalam terjerumus utang ,'' ujar Dani Setiawan, Koordinator KAU, dalam pesan pendeknya kepada Republika, di Jakarta, Jumat malam (15/5). KAU lantas mengingatkan kepada masyarakat supaya mengingat memori peran Boediono yang sejak tahun 1998 hingga tahun 2009 merupakan salah satu arsitek ekonomi kelompok neoliberal. '' Kelompok ini selalu menfasilitasi praktek penjajahan gaya baru di Indonesia. Publik harus mewaspadai, jangan sampai ekonomi negeri ini dijerat lebih kuat oleh mazhab neoliberal yang semakin menjerumuskan ekonomi Indonesia, yakni jeratan utang '', tutur Dani mengingatkan. Laporan KAU menyebutkan, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan tren yang meningkat. Sejak awal masa pemerintahan presiden SBY di tahun 2005 sampai dengan September 2008 total pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp277 triliun. Sedangkan total penarikan pinjaman luar negeri baru dari tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp101,9 triliun. Outstanding Utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 2009 juga terus meningkat dari Rp1275 triliun menjadi Rp1667 triliun (sumber: www.dmo.or.id). Ditambah dengan peningkatan secara signifikan total utang dalam negeri dari Rp662 triliun (2004) menjadi Rp920 triliun (2009). '' Artinya Pemerintah berhasil membawa Indonesia kembali menjadi negara pengutang dengan kenaikan 392 triliun dalam kurun waktu kurang 5 tahun. Atau peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per tahun. Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang di era Soeharto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun ,'' katanya. SBY-Boediono Dituding Antek Neoliberal http://www.republika.co.id/berita/50617/SBY_Boediono_Dituding_Antek_Neoliberal A -- ********************************************* Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya http://reportermilist.multiply.com/ ********************************************** Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/ 5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh reportermilist, bayangkan peluang yang murah dangan prospect yang besar.. Berminat Hubungi [email protected] ============================= (Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com ============================= Search Engine Terpopuler Anak Bangsa http://djitu.com ============================= Space Iklan ============================= [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Usaha Berubah, Selalu Kalah ? Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru semakin frustrasi ? Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak terkendali ? No Problem ! Di SERVO Aja ! S.E.R.V.O membebaskan Anda dari "jerat atau penjara" emosional, menemukan potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda seperti milik para BINTANG. Dengan Terapi S.E.R.V.O : - Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia - Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual - Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi - Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan - Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik dibidangnya - Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda untuk membuat cetak biru kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial Anda. Kesaksian ! Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... Hubungi : http://klinikservo.com/ (021) 5574 5555, 554 6009 --- TERAPI GRATIS ! FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
