Betekuk Dibawah Boneka Amerika

Meski diiringi pro-kontra, parpol-parpol berbasis massa Islam akhirnya
berkoalisi dengan Partai Demokrat untuk mendukung duet SBYBoediono. Ancaman
neoliberal di depan mata.

ImageMINGGU (10/5) malam, melalui juru bicara kepresidenan Andi
Mallarangeng, PKS mendapat kabar jika SBY akan mengambil Gubernur Bank
Indonesia (BI) Boediono sebagai cawapresnya. Kabar tersebut spontan membuat
elite-elite partai yang bermarkas di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan itu
tersentak.

Sekjen PKS Anis Matta pun mengontak beberapa koleganya. "Kami belum diajak
untuk bicara. Kita terganggu masalah ini (penetapan cawapres), karena yang
ada pemberitahuan, bukan pembicaraan," ujar Anis Matta.

Tak menunggu lama, Senin (11/5) malam, elite-elite parpol berlambang bulan
sabit kembar itu pun langsung menggelar rapat. Pertemuan yang diikuti
jajaran dewan pimpinan pusat dan majelis syuro itu berlangsung panas. Ketua
Majelis Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin tak bisa menyembunyikan
kekesalannya.

"Boediono bukan representasi keumatan," ujarnya. Menurutnya, ada dua titik
lemah cawapres pilihan SBY itu, yakni tidak didukung partai politik dan
mayoritas pemilih adalah muslim.

Suasana semakin memanas ketika salah satu peserta rapat menyampaikan pesan
dari kader-kader PKS di daerah yang mempertanyakan dukungan PKS ke SBY.

"Mereka bertanya, apa benar istri JK dan istri Wiranto dalam keseharian
memakai jilbab? Kalau benar, kenapa kita tidak mendukung calon pemimpin yang
di keluarganya telah menerapkan ajaran-ajaran Islam? Bukankah Bu Ani (istri
SBY) hanya memakai jilbab kalau di acara keagamaan saja?" ungkapnya, seperti
dituturkan sumber Indonesia Monitor yang ikut dalam rapat tersebut, Jumat
(15/5).

Meski rapat malam itu berakhir menggantung, elite-elite PKS mulai ragu
dengan keputusan mendukung SBY. "Mereka jadi goyang, ragu jadi mendukung
siapa, SBY-Boediono atau JK-Wiranto," ujar sumber di internal PKS itu.

Keraguan mereka semakin transparan ketika PKS tidak hadir dalam acara
deklarasi dukungan parpol-parpol ke SBY di Wisma Negara, Rabu (12/5) malam,
atas undangan Partai Demokrat. "Itu bentuk protes kami karena merasa tidak
diajak bicara," ujar Ketua DPP PKS Almuzammil Yusuf, Rabu (13/5).

Namun, sikap elite-elite PKS itu mencapai anti-klimaks pada Jumat (15/5)
malam, menjelang detik-detik deklarasi pencalonan SBYBoediono di Gedung
Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung. Parpol berbasis massa gerakan Islam
Tarbiyah itu akhirnya menerima keputusan SBY menetapkan Boediono sebagai
cawapresnya.

Sikap PKS berubah setelah Hilmi Aminuddin, Presiden PKS Tifatul Sembiring,
dan Anis Matta bertemu SBY di Hotel Sheraton, Bandung, hanya beberapa saat
sebelum deklarasi. Menurut sumber Indonesia Monitor, PKS bersedia masuk
barisan koalisi pendukung SBY-Boediono setelah dijanjikan bakal mendapat
tambahan "jatah" menteri di kabinet mendatang.

"Awalnya PKS dijanjikan dapat tiga pos menteri. Setelah kasus ini (penetapan
Boediono), mereka bargaining lagi dan minta tambahan tiga menteri lagi,"
ujar sumber yang tidak bersedia disebutkan jatidirinya itu.

Presiden PKS langsung membantah informasi tersebut. Dia mengakui, PKS memang
terlambat memberikan dukungan karena kecewa dengan penetapan Boediono yang
tidak melalui pembicaraan terlebih dahulu. Namun, setelah mendapat
penjelasan langsung dari SBY, mereka akhirnya menerima.

"Kita mempertanyakan mengenai pemilihan Boediono sebagai wakil. Kita juga
mempertanyakan kebijakan Boediono dalam bidang politik. Kita khawatir jika
ekonomi syariah malah diberangus oleh kepemimpinan Boediono. Namun itu
ternyata tidak. Justru Boediono hadir ketika ekonomi syariah di Indonesia
digulirkan," ungkap Tifatul kepada wartawan, usai bertemu SBY.

Ia membantah jika pertemuan dengan SBY membicarakan soal jatah menteri di
kabinet. "Itu urusan nanti. Sekarang kita berjuang dulu," ujarnya, bergegas.

Tak hanya PKS, parpol berbasis massa Islam yang sempat ragu dengan
pilihannya berkoalisi untuk mendukung duet SBY-Boediono. PAN dan PPP juga
setali tiga uang. Bahkan, meski akhirnya bersedia meneken surat dukungan
sehari kemudian, Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir menolak hadir dalam
acara deklarasi tersebut.

Bergabungnya parpol-parpol Islam dalam koalisi pendukung SBY-Boediono
langsung memantik respon negatif. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI), yang selama ini jadi basis kader-kader muda PKS, berteriak menolak
Boediono.

KAMMI Surabaya, misalnya, mengekspresikan sikap mereka dengan berunjuk rasa
di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (15/5). Mereka berorasi dan memasang
poster-poster bertuliskan anti-Boediono, seperti "Boediono Boneka Amerika
Serikat", "Boediono Bejat Tidak Pro Rakyat", "Boediono Wapres, Asing Makmur,
Indonesia Hancur", dan lain-lain.

Mereka menilai Boediono sebagai antek Amerika Serikat dan mempunyai track
record buruk karena terlibat dalam kasus penjualan aset BLBI (Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia) sehingga tidak pantas memimpin negeri ini.
Boediono juga dianggap tidak mempunyai afiliasi terhadap Islam dan penganut
aliran neoliberal yang anti-ekonomi kerakyatan.

"Kami yang tergabung dalam KAMMI masih peduli dengan bangsa. Masyarakat
jangan pilih Boediono sebagai wakil presiden demi keselamatan bangsa.
Boediono boneka Amerika," teriak Adi Sagita, salah satu aktivis KAMMI, dalam
orasinya.

Tak hanya KAMMI, PB Himpinan Mahasiswa Islam (HMI) juga secara implisit
menolak duet SBYBoediono. Menurut Ketua Umum PB HMI Arip Musthopa,
capres-cawwpres harus merepresentasikan keanekaragaman etnis dan wilayah.
"Juga harus representasi kalangan nasionalis dan agamais, serta representasi
sipil dan militer," katanya.

Kalangan akademisi juga menyayangkan dipilihnya Boediono sebagai cawapres
SBY. Ekonom dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Revrisond Baswir,
misalnya. Ia sangat khawatir, rakyat kecil akan terpinggirkan jika duet
SBY-Boediono terpilih jadi presiden-wakil presiden di Pilpres 2009.
Menurutnya, Boediono sudah lama dibina oleh lembaga-lembaga keuangan asing,
seperti IMF (International Monetary Fund), ADB (Asian Development Bank), dan
WB (Word Bank), melalui jaringan "mafia Berkeley".

Jaringan mafia Berkeley awalnya identik dengan jaringan ekonom lulusan
Universitas Berkeley, AS, yang banyak mewarnai sistem perekonomian Indonesia
semasa Orde Baru. Namun, belakangan, tak hanya lulusan Universitas Berkeley
yang masuk jaringan ini, tapi beberapa universitas terkemuka di AS, seperti
Universitas Pennsylvania, kampusnya Boediono saat mengambil gelar doktor
(PhD).

"Kebijakan ekonomi neoliberal yang diusung mafia Berkeley mengadopsi
kebijakan yang dirancang IMF maupun Bank Dunia. Kebijakan itu dikenal dengan
sebutan Konsensus Washington," ujar Soni, sapaan Revrisond Baswir, kepada
Indonesia Monitor, Jumat (15/5).

Sebagai seorang penganut neoliberal, menurut Soni, Boediono membahayakan
bagi perekonomian Indonesia. Garis pemikiran yang dianut Boediono sudah
terbukti gagal. Bahkan di negara seperti di Amerika Serikat saja, yang
pemerintahannya tidak pernah "tidur", ternyata bangkrut juga. Apalagi di
Indonesia yang menduduki peringkat pertama dalam korupsi se-Asia.

Satu hal yang dikhawatirkan pihak asing jika SBY tidak menunjuk Boediono
adalah ekspansi mereka di Indonesia akan terhambat, karena mereka
mengharapkan "karpet merah". "UU Penanaman Modal sudah disiapkan. Nah lima
tahun ke depan tinggal implementasi saja. Kalau kemudian yang terpilih
adalah sosok yang tidak menganut sistem neoliberal, maka karpet merahnya
akan segera digulung. Rencana besar untuk menggelar karpet merah gagal
total. Ekspansi kapitalisme ke Indonesia akan terhambat," paparnya.

Soni merasa heran terhadap penyataan pendukung SBY yang mengatakan bahwa
Boediono bukan seorang neoliberal, karena dia yang mencetuskan BLT (bantuan
langsung tunai). "Orang itu pasti tidak tahu neoliberal. Ya justru BLT dan
PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) itu noeliberal," tandasnya.

"Orang-orang itu tidak ngerti neoliberal atau pura-pura tidak mengerti. Saya
yakin sebagian besar di antaranya tidak mengerti. Saya khawatir,
jangan-jangan Boediono sendiri tidak mengerti. Itu lumrah saja. Karena
istilah neoliberal itu bukan istilah para ekonom. Itu istilah para ekonomi
politik, istilah sosiolog, apalagi orang-orang kebanyakan, ngerti apa dia
tentang neoliberal," tegasnya.

Neoliberal, lanjut dia, sama artinya dengan subsidi BBM dihapus, subsidi
minyak tanah dihilangkan sehingga rakyat dipaksa memakai gas, dan BLT itu
bagian dari belanja politik. "Tema besarnya adalah apa yang sekarang dikenal
sebagai agenda ekonomi neoliberal. Kegagalan perekonomian Orde Baru adalah
utang luar negeri yang sangat besar dan ketergantungan Indonesia atas utang
luar negeri," katanya.

Sementara itu, saat pidato deklarasi, Boediono secara halus membantah jika
dirinya penganut neoliberal. "Perekonomian Indonesia masih butuh peran
negara, tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pasar bebas. Selalu diperlukan
intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil, untuk itu perlu lembaga
pelaksana yang efektif. Itu yang harus dilakukan negara," ujarnya.

"Saya berjanji akan selalu bekerja untuk membuat Indonesia lebih sanggup,
untuk membuat Indonesia bebas dari kesewenang-wenangan. Saya siap bekerja
mulai hari ini," tambahnya.

■ Sri Widodo, Moh Anshari, Ukay Subqy, Budiarie S

http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=2199&Itemid=33


-- 
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang yang murah dangan prospect yang
besar.. Berminat Hubungi [email protected]
=============================
(Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
=============================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
=============================
Space Iklan
=============================


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke