Opini

Menatap 2014

Selasa, 28 April 2009 - pengirim: redaksi

Sejak hasil quick count pemilu pertama kali keluar, sudah
ada yang meminta saya membuat analisa. Meskipun berbagai pertanyaan muncul,
tapi muaranya satu : mengapa PKS hanya dapat (sementara ini sekitar) 8% suara?



Hal pertama yang harus diklarifikasi adalah bahwa saya tidak memiliki basis
data maupun latar belakang keilmuan yang cukup untuk memberikan analisa yang
komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kedua, saya juga
bukan orang yang berwenang dalam menentukan langkah-langkah strategis PKS ke
depannya, sehingga tak mungkin bagi saya untuk memberitahukan bagaimana sikap
resmi PKS berikutnya. Ketiga dan terakhir, setelah saya pikir-pikir, nampaknya
analisa yang ada di otak saya terlalu rumit untuk dituangkan dalam sebuah
artikel atau dalam pembicaraan- pembicaraan singkat lagi santai.

Yang lebih penting daripada analisa, hemat saya, adalah
memberikan respon yang tepat terhadap semua fenomena. Penting sekali bagi
setiap muslim untuk terus mengingatkan dirinya bahwa hidup ini cuma
aksi-reaksi. Allah SWT. sebagai pemberi aksi, dan kita dituntut untuk
memberikan reaksi yang tepat. Bocorannya sudah diberikan sejak dahulu kala.
Rasulullah SAW. pernah menjelaskan bahwa hanya ada dua hal yang menyebabkan
kehidupan seorang Muslim begitu luar biasa, yaitu : sabar dan syukur. Respon
yang perlu kita berikan tidak akan keluar dari yang dua ini.



Prinsip pertama yang harus dipegang adalah berprasangka baik kepada Allah SWT.
Semua kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tak ada satu pun ciptaan-Nya yang
tanpa hikmah, baik berupa material maupun fenomena. Tapi tak cukup berhenti
sampai titik itu. Kita pun wajib meyakini bahwa skenario yang dipilih oleh
Allah adalah yang terbaik. Perbedaan dari evaluasi yang benar dengan menyesali
nasib adalah pada perilaku berandai-andai. Sebenarnya akal manusia tidak punya
kemampuan untuk menyusun skenario kehidupan, karena begitu banyaknya variabel
yang terlibat.



Maka,
pandanglah angka 8% itu dengan perasaan dekat dengan Allah. Jika hati merasa
berat, maka bersabarlah. Kemudian cobalah tinjau fenomena ini dari berbagai
perspektif yang akan membuat kita untuk mudah bersyukur.



Kenaikan dukungan dari 1,5% pada Pemilu 1999 menjadi 7,5% pada Pemilu 2004
tidak hanya ditanggapi dengan gegap gempita, namun ada juga sisi bahayanya. Kita
sudah sama-sama mengalami tahapan ketika dakwah harus dilaksanakan seperti
petak umpet dengan rejim penguasa. Kita juga mengalami tahapan ketika para da'i
merasa gamang diterjunkan ke kancah politik. Kemudian, barangkali tempo hari
adalah masa-masanya kita mencicipi euforia ketika dukungan dari masyarakat
berlipat ganda dan PKS

menjadi parpol yang sangat diperhitungkan. Namun pada saat yang bersamaan,
ketika jatah kursi di DPR berlipat ganda, maka waktu pendewasaan diri bagi para
kader pun disingkat hingga berkali-kali pula.



Pembagian tugas adalah sebuah keniscayaan. Ada yang harus duduk di Majelis
Syuro, ada yang mesti menerima amanah di Dewan Syariah, ada yang 'terpaksa'
menjadi pengurus DPP, DPW, DPD, DPC, hingga ke DPRa. Di luar jabatan struktural
itu, ada juga yang mesti menjalani kaderisasi sebagai mutarabbi, ada pula yang
menjadi murabbi (sekaligus mutarabbi juga, karena tarbiyah tidak mengenal kata
'lulus'). Kenaikan suara yang signifikan tentunya memaksa kader untuk mengambil
tanggung jawab yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Nampaknya, tidak semua
kader siap.



Ini titik kekuatan sekaligus tantangan besar bagi PKS. PAN dan PMB, yang
memiliki background Muhammadiyah, misalnya, punya sumber daya manusia yang
sangat besar. Demikian pula PKB dan PKNU, mereka punya basis dengan SDM yang
sangat masif. Di partai-partai lain, kadang kita temukan juga 'kader karbitan',
yang pindah dari parpol satu ke parpol lainnya, lalu tiba-tiba menerima jabatan
yang cukup tinggi. Politik uang atau apa, entahlah. Yang jelas, hal yang
semacam ini sangat tidak disukai di PKS yang murni partai kader dengan jenjang
kaderisasi yang sangat jelas.



Ketika dukungan naik menjadi 7,5%, tentunya tidak seluruhnya dari 7,5% itu
merupakan kader. Banyak juga yang simpatisan; tidak terlibat di struktur PKS
namun mendukung perjuangan PKS (dan tentunya, insya Allah memilih PKS). Jika
angka 1,5% pada Pemilu 1999 cukup mendekati prosentase jumlah kader diantara
keseluruhan masyarakat Indonesia, maka angka 7,5% pada Pemilu 2004 bergerak
semakin jauh dari realita jumlah kader. Andaikan perbandingan kader dan
simpatisan adalah 50:50, maka itu berarti hanya setengah dari 7,5% perolehan
suara tersebut yang

merupakan mesin politik PKS.



Target suara
20% dalam Pemilu 2009 juga mesti dilihat dari dua sisi. Tentu tidak ada
salahnya mematok harapan setinggi langit, namun harus siap juga menghadapi
kewajiban-kewajiban yang datang beserta cita-cita itu. Andaikan angka 20%
benar-benar berhasil ditembus, itu artinya dukungan suara untuk PKS kembali
berlipat ganda hingga nyaris tiga kali lipat. Kalau benar-benar mendapat 20% 
suara, bagaimanakah perbandingan antara
kader dan simpatisan? Seberapa siapkah mesin politik PKS untuk mengelola
tanggung jawab sebesar itu?



Kalau sudah bisa menerima angka 8% dengan hati lapang (baca: bersabar), tibalah
gilirannya untuk bersyukur. Pandanglah angka 8% sebagai tanda cinta Allah
kepada jalan dakwah ini. Segala puji bagi Allah yang tidak menuntut
hamba-hamba- Nya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Kita punya waktu
lima tahun lagi untuk membenahi apa-apa yang belum sempat kita benahi lima
tahun ke belakang. Segala yang kendur bisa dikencangkan, yang lalai bisa
dikoreksi, sementara mendewasakan diri untuk menerima tanggung jawab di
marhalah dakwah berikutnya. Kita tidak perlu memaksa diri mengambil tanggung
jawab 'level 20%' jika posisinya masih di 'level 8%'.



Keadilan
Untuk PKS



Menjelang Hari-H Pemilu 2009 kemarin, iklim perdebatan di kalangan umat Islam
mencapai puncaknya. Dari wacana golput atau tidak golput, beralih pada topik
kekecewaan terhadap parpol-parpol Islam, dan biasanya berujung pada kritik
pedas terhadap PKS. PKS tidak seperti Al-Ikhwan

Al-Muslimun lah, PKS tidak seperti Masyumi lah, PKS tidak seperti PK lah, dan
seterusnya.

Nampaknya memang sikap paling bijak
dalam menyikapi debat kusir adalah meninggalkannya. Kita semua (termasuk saya)
harus belajar untuk

mengimani sungguh-sungguh petuah Rasulullah tentang hal ini. Pada akhirnya,
debat kusir hanya mencederai ego masing-masing. Yang salah akan mencari
pembenaran, dan yang benar akan menghadapi resiko sombong (ingat, yang sombong
takkan masuk surga!). Kalau atmosfernya sudah dipenuhi keinginan untuk saling
menjatuhkan, itulah saatnya untuk mundur.

Sebagian orang 'menyerang' PKS simply
karena memang tidak suka. Akibatnya, setiap isu negatif soal PKS akan langsung
dicerna, bahkan disebarluaskan ke milis-milis. Asalkan berita tentang PKS itu
buruk, mereka akan langsung percaya tanpa mengecek sanad-nya. Kadang-kadang
berita semacam itu mereka ambil dengan mudahnya dari media-media sekuler yang
jelas-jelas memusuhi Islam, bahkan mereka pun pernah membicarakan tentang
keberpihakan media-media tersebut kepada kekuatan anti-Islam. Untuk berita yang
lain, mereka mau tabayyun. Untuk berita soal PKS, lain lagi hukumnya. Kalau mau
direpotkan oleh yang seperti begini, maka waktu 24 jam sehari akan habis begitu
saja. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendesain rencana ke depannya
untuk menangkis berita-berita tidak benar tentang PKS.

PKS memang seringkali diperlakukan
tidak adil oleh sebagian pihak. Kalau melihat fenomena parpol-parpol Islam yang
sulit bersatu, tiba-tiba semua pandangan diarahkan ke PKS, seolah-olah PKS-lah
biang kerok tidak terwujudnya persatuan tersebut. Kemudian jika ada satu saja
keburukan PKS, maka orang akan bersikap seolah-olah PKS adalah yang paling
buruk dari semua parpol, bahkan yang paling buruk diantara semua parpol.



Banyak orang menyindir PKS karena menunjukkan keinginan untuk berkoalisi dengan
Partai Demokrat. Menurut mereka, PKS hanya akan dimanfaatkan saja oleh kekuatan
sekuler di partai itu. Tapi ketika PKS menunjukkan sikap tegasnya belakangan
ini (yaitu untuk menimbang ulang koalisi jika Partai Golkar ikut-ikutan dalam
koalisi), nyaris tak ada yang mau memberikan apresiasinya. Padahal, sikap tegas
ini menunjukkan bahwa PKS pun siap menunjukkan integritasnya untuk kepentingan
umat. "Sungguh, umat terdahulu ada yang digergaji kepalanya dan disisir
oleh sisir besi, namun mereka tidak mundur dari agamanya. Sungguh, demi Allah,
urusan ini akan disempurnakan kelak. Akan tetapi kalian terlalu
terburu-buru." Begitulah penggalan nasihat Rasulullah saw. kepada umatnya
yang kurang bersabar. Ingin berlagak raksasa padahal masih kelas liliput.



PKS memang banyak kekurangan, namun tidak jarang juga difitnah. Dari sekian
banyak berita bohong yang disebarluaskan itu, berapakah yang

dikembalikan dengan sebuah permintaan maaf? Sepanjang pengamatan saya di
berbagai milis, belum ada. Mereka yang menebar berita bohong tentang PKS sama
sekali enggan meminta maaf meskipun beritanya sudah terbukti bohong. Insiden
memalukan yang kerap terjadi ini semestinya tidak membuat hati kita susah. 
Jelaslah
bahwa diskusi yang sehat dengan oknum-oknum semacam ini sudah nyaris tak
mungkin terjadi, karena egonya sudah mendahului akal dan moralnya. Jika mereka
tak sanggup bersikap adil, barangkali memang kitalah yang ditakdirkan untuk
menjadi orang yang lebih besar hatinya.



Melarikan
Diri?



Beredar pula sugesti-sugesti negatif. "Dulu saya aktif di PK. Sekarang,
saya sudah muak. PKS tidak sama dengan PK. Militansinya jauh beda. Kualitas
kader menurun jauh. Buat apa saya habiskan waktu dengan jamaah yang seperti
ini?"



Buang waktu atau tidak, itu sepenuhnya keputusan dirinya sendiri. Jika memang
tidak mampu lagi mengambil manfaat, maka itu adalah kelemahan dirinya sendiri. 
Hampir
semua orang yang menyatakan dirinya 'mantan aktifis PK/PKS yang kecewa berat'
tidak mau (atau tidak mampu)

membuktikan klaimnya. Ada beberapa orang yang saya kenal dengan karakter
seperti itu, namun ternyata ia bukan aktifis dimana-mana. Aktifisme yang
dibangga-banggakann ya di masa lalu itu cuma sebatas halaqah pekanan dan
beberapa kepanitiaan saja, itu pun statusnya cuma 'bantu-bantu' , bukan Ketua
Panitia atau apalah. Sama dungunya seperti pernyataan Arbania Fitriani yang
konon 'membongkar rahasia PKS' sebagai parpol yang hendak menyebarluaskan
kultur Arab di Indonesia.



Para pengkhianat takkan pernah jadi kader yang baik. Komprador akan dipandang
rendah, baik di negerinya sendiri maupun di negeri penyandang dananya. Paling
tinggi, ia hanya akan jadi alat bagi orang lain.



Dalam pandangan saya, orang yang melarikan diri dari jamaah (jamaah apa pun,
asalkan masih dalam tubuh umat Islam) ketika ia menjumpai kekurangan di
dalamnya, sebenarnya telah memelihara sikap khianat dalam dirinya. Yang seperti
ini takkan pernah puas, karena jamaah impiannya (yaitu jamaah yang sempurna
tanpa cela) takkan pernah eksis. Lagipula, sikap mental meninggalkan kelompok
yang butuh bimbingan bukanlah modal yang baik bagi seorang da'i (ingat kisah
Nabi Yunus 'Alaihissalam?). Meskipun

ilmu agamanya selangit, namun jika masih terus-terusan menjadi barisan sakit
hati, pasti bukan da'i namanya, dan pasti bukan dakwah kerjanya.



Mau kecewa sampai kapan? Mereka yang gampang memisahkan diri dari jamaah
biasanya hanya jadi penggembira dan pengamat, bukan pekerja yang sesungguhnya. 
Paling
banter hanya akan jadi Khawarij umat ini, dan bukannya Bilal ra. yang memompa
semangat di Perang Badar, atau pasukan pemanah yang tidak ikut silau matanya
dengan harta rampasan di Perang Uhud. Lucu juga membayangkan apa jadinya jika
pasukan pemanah pada Perang Uhud itu terbagi dua: kelompok yang pertama lari
menyongsong harta rampasan, kelompok yang kedua diam di posnya masing-masing
kemudian kecewa dengan jamaah dan pergi meninggalkan medan perang. Di medan
perang manapun, mereka yang pergi meninggalkan teman-temannya ketika tenaganya
justru sangat dibutuhkan tidak akan pernah dicatat dalam sejarah.



Seorang pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nampak kebingungan
ketika Ust. Hidayat Nur Wahid menceritakan sekelumit sejarah di balik
berdirinya PK. Banyak orang tak menyangka bahwa dulunya beliau termasuk
kelompok yang tidak setuju didirikannya parpol. Namun beliau tunduk pada
syura', memahami resiko dari pilihan yang diambil, dan konsisten bersama jamaah
ini, menghadapi senang dan susahnya. Siapakah yang namanya lebih besar, Ust.
Hidayat ataukah barisan sakit hati yang hanya bersama kita di saat senang?



Bersabarlah, dan bersyukurlah. Jalan masih panjang.

Oleh Akmal Sjafril*)

 

 

*) Penulis adalah mahasiswa Program
Pasca Sarjana, Magister Pendidikan dan Pemikiran Islam, Universitas Ibnu Khaldun


 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke