Artikel: Malu Mengeluh
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk 
yang suka berkeluh kesah? Saya mendengar itu sudah sangat lama. Mungkin ketika 
saya masih kecil. Dan sekarang setelah memasuki usia dewasa, saya mendapati 
bahwa hal itu benar adanya. Kenyataannya, sangat mudah bagi kita untuk 
mengeluhkan tentang ini dan itu. Kita bisa mengeluh tentang penghasilan. Kita 
bisa mengeluh tentang pekerjaan. Tentang kesehatan. Tentang atap rumah yang 
bocor. Tentang jerawat yang membandel. Tentang sariawan akibat bibir tergigit 
secara tidak sengaja. Bahkan, kita mengeluh karena terlalu banyak hal yang 
harus kita keluhkan. Lantas, kapan kita akan berhenti mengeluh?
 
Belum lama ini saya bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Sebenarnya, 
pertemuan itu dijadwalkan untuk melakukan wawancara supaya saya bisa memahami 
kebutuhan perusahaan itu akan program pelatihan yang saya fasilitasi. Selama 
proses wawancara itu, kami merasa mulai akrab satu sama lain, sehingga kami 
tidak menyadari bahwa sebelumnya kami sama sekali tidak saling mengenal. Oleh 
karena itu, setelah semua hal yang saya agendakan untuk didiskusikan dalam 
wawancara itu selesai, ada perasaan aneh yang kami rasakan, yaitu; kami seolah 
belum ingin berhenti berdiskusi. Walhasil, pembicaraan kami memasuki ’topik’ 
yang sifatnya lebih personal. Tepatnya, tentang ’konsep diri’ masing-masing. 
Lebih tepatnya lagi; saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan konsep diri 
beliau. Sebab, saya lebih banyak mengeksplorasi dan mendengar daripada 
mengemukan pandangan saya sendiri.
 
Ada begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Namun, satu hal yang bisa saya 
paparkan disini adalah tentang pandangan beliau mengenai rasa malu. Rasa malu? 
Ya, rasa malu. Tetapi, ini bukan rasa malu kita dihadapan sesama manusia. 
Melainkan rasa malu kepada Tuhan. Hebatnya lagi, orang yang saya kagumi ini 
mampu menggambarkan pelajaran penting itu dalam sebuah kalimat sederhana. Maaf, 
bukan kalimat, melainkan sebuah frase yang dibangun oleh dua kata, yaitu;’Malu 
Mengeluh’.
 
Jika kita merasa malu untuk berlari-lari dijalanan dengan tubuh tanpa busana, 
maka kita tidak akan melakukannya. Itu pasti. Kecuali jika kita sudah 
kehilangan akal sehat; maka apapun tidak akan membuat kita malu. Bayangkan, apa 
yang terjadi jika seseorang merasa malu untuk mengeluh. Dia malu kepada Tuhan 
jika harus mengeluh. Lho, bukankah orang bijak menyarankan agar kita mengadukan 
segala permasalahan yang kita hadapi itu kepada Tuhan? Benar. Namun, mengeluh 
bukanlah istilah lain dari frase ’mengadukan setiap permasalahan kepada Tuhan’.
 
Ketika kita mengadukan persoalan hidup kepada Tuhan, kita mengakui bahwa diri 
ini memang lemah. Dan kita berharap agar Tuhan berkenan untuk memberikan 
bantuan. Sedangkan mengeluh? Ini beda. Sebab, ketika kita mengeluh kita merasa 
ada sesuatu yang salah dengan takdir ini. Sehingga, ketika mengeluh 
sesungguhnya kita seperti menyalahkan nasib atas semua hal yang kita alami. 
Padahal, ada banyak bukti bahwa keluhan yang kita lontarkan selalu bersumber 
kepada kurangnya rasa syukur kita atas semua pencapaian yang sudah kita raih. 
Itulah sebabnya, mengapa ’mengeluh’ itu bukan monopoli orang susah. Orang yang 
sukses pun sangat terampil mengeluh. Ibaratnya, si A mengeluhkan nasibnya yang 
tidak sebaik si B. Sebaliknya, si B mengeluhkan takdirnya yang tidak senyaman 
si A. Anehnya, jika saja si A dan si B saling bertukar posisi; belum tentu 
mereka akan berhenti mengeluh. 
 
Sahabat baru saya itu bercerita tentang berbagai pencapaian yang pernah 
diraihnya. Baik pencapaian karir profesionalnya, maupun pencapaian dalam bidang 
kehidupan lain. Semua itu cukup untuk membuat saya mengagumi semua pencapaian 
beliau. Tidak banyak orang yang bisa seperti dirinya. Tentu saya tidak 
bermaksud melebih-lebihkan. Karena kenyataannya manusia memang tidak sempurna. 
Namun, diantara ketidaksempurnaan itu; ada orang-orang yang amat diberkati. 
Lalu dia berkata; ”Itulah sebabnya, saya merasa malu untuk mengeluh......”
 
Saya tersentak mendengar itu. Sebab, kalimat itu benar-benar menohok jantung 
saya. Memang, tidak ada satu manusia pun yang kehidupannya selalu indah. Sebab, 
kita percaya bahwa kehidupan itu seperti roda. Kadang diatas, kadang dibawah. 
Tetapi, orang-orang yang senantiasa berterimakasih atas semua pengalaman diri 
ketika roda kehidupannya tengah berada diatas; adalah mereka yang tidak hendak 
menghapus semua keindahan itu dengan kesulitan yang dia hadapi saat roda 
kehidupan tengah menekannya dibawah. 
 
Ketika kita sungguh-sungguh berterimakasih atas sebuah berkat, maka kita tidak 
akan mengeluh ketika tengah diuji dengan sebuah situasi sulit. Sebaliknya, kita 
semakin berterimakasih karena ternyata nikmat yang dulu pernah didapat itu 
begitu bernilai. Dan ketika kita begitu khusyuknya bersyukur, kita lupa untuk 
mengeluh. Bahkan, sekalipun kita ingat; kita tidak jadi mengeluh. Karena, kita 
malu untuk mengeluh. Oleh karenanya, yang terucap dan tertindak tiada lain 
adalah ungkapan penghargaan atas semua kenikmatan yang telah Tuhan anugerahkan. 
Sekalipun Tuhan tengah mengujinya, tetapi kita merasa malu mengeluh. Lalu 
kembali berterima kasih. Duh, betapa santunnya seorang hamba ketika terus 
berterimakasih, bahkan ketika tengah berada dalam ujian. Pantaslah jika semakin 
hari, dia semakin disayang oleh Tuhan.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Tidak ada tindakan yang akan kita lakukan jika kita merasa malu melakukannya. 
Sehingga, jika kita merasa malu untuk mengeluh, kita hanya akan bisa menyelam 
dalam lautan rasa syukur yang dalam.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 
 
Kami akan memilih/mengundi 4 perusahaan untuk mendapatkan In-house GRATIS 
Workshop 4 jam bertema ”Never Give Up, Never Surrender” untuk para karyawannya. 
Perlu diketahui bahwa program ini BUKAN preview untuk menarik minat peserta 
mengikuti program lanjutan. Ini adalah program yang dirancang khusus berdurasi 
½ hari. Jika perusahaan Anda ingin mengikuti undian Workshop Gratis ini, 
silakan mendaftar/hubungi kami dengan subjek “Workshop Gratis” ke 
[email protected].  Penawaran gratis ini hanya untuk pelaksanaan di 
Jakarta, dan dijadwalkan pada bulan Agustus 2009. Pengumuman perusahaan 
terpilih/hasil undian dilakukan pada  minggu ke-2 bulan July.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke