Bosan dan Jenuh dengan Keramaian
Sedikit Menepi dalam menata hati sunyi
Canda, teriakan, Kebosanan, penderitaan
Mencari sejati diri dalam sebuah sepi

Kita hidup dalam ruang lingkup yang ramai, di kantor, di Jalan, Di pasar,
dan ditempat-tempat lain di dunia ini, Jakarta dan kota besar lainya
menawarkan keramaian yang tak pernah berhenti, dan dalam keramaian mungkin
kita kehilangan waktu untuk sendiri, yang menyegarkan nurani yang penat oleh
hiruk pikuk Duniawi.

Kesunyian yang lahir karena kesendirian dari rahim ketenangan hati. Ia
begitu bernilai, bagai mata air yang menengok di tanah tandus pekarangan
kita. Sementara yang lain, masih berjibaku dengan dahaga dan teriknya
kekeringan. itulah sebuah anugrah yang banyak orang menampikanya, ketika
kita bisa menyendiri bukan untuk bengong atau melakukan hal yang tidak baik
kita membutuhkan waktu untuk sendiri untuk memikirkan ide-ide besar, untuk
merenungi kesalahan-kesalahan kita, sangat banyak ide besar muncul dalam
sautu kesendirian dalam merenung

Tak luput manusia butuh waktu untuk sendiri dalam kesunyian untuk
mendekatkan diri kepada sang kuasa yang telah menciptakan manusia, kesunyian
Menjaga mata agar tak sepenuhnya menutup, di waktu pilihanNya untuk menepi
merasakan isyarat pada detik penuh keagungan kepunyaanNya.

Tanpa kita sadari banyak dari kita tak tahu diri sendiri, tidak kenal siapa
dirinya, banyak dari kita menjalani hidup dengan  berjalan tanpa sadar apa
makna dari hidup dan tujuanya, dan banyak dari kita menggunakan
Topeng-topeng semu yang selalu kita banggakan, benarkah itu diri kita yang
sesungguhnya?, manusia banyak tidak percaya pada wajah aslinya dan selalu
mengganti topeng sesuai dengan keadaan di sekitarnya sadarkah siapa kita?

Beribu bahkan berjuta topeng manusia penggunakan, ada topeng kemunafikan,
ada topeng penjilat ketika berhadapan dengan atasnya kita, sadarilah inilah
kenyataan hidup kita, suka atau tidak suka itulah yang kita kenakan
topeng-topeng yang selalu berganti-ganti yang sering mempengaruhi nurani
hati. Tak banyak yang menyadari. Hingga ratusan kali pengalaman semacam itu
menyuapi sebagian yang lain. Sehingga, mereka kehilangan jati diri, siapa
kita sebenarnya, jutaan topeng berubah-ubah wujud demi menyelamatkan diri
dari kerasnya hidup dalam dunia dunia.

Kembali dalam sepi, dengarkan lah jeritan hati yang menangis mengetahui kita
menggunakan seribu topeng, mugik kita memiliki seribu kepribadian dalam
seribu balutan topeng sesungguhnya, hanya dalam sepi tanpa ada satu mahluk
pun yang mengetahui kita bisa melepaskan diri dari beribu topeng, dari
kelelahan dalam semua kepalsuan. dalam sepi ini cobalah kembali menjadi diri
sendiri tanpa balutan topeng yang ada.

Ya cari lah waktu untuk diri sendiri dalam sepi, menjadi jujur dalam sepi
memang tampak mudah, tapi hal itu tak akan pernah menjadi mudah, kecuali
kita bisa memulainya, belajar dalam sepi untuk jujur dan menjadi diri
sendiri bukan menjadi dia, atau mereka, jadilah anda sendiri. ketuklah diri
temuakan sebuah kerinduan kembalinya hati kita pada pangkuanNya. Saat Titik
rintik air menetes dari matamu, dan jujurlah dalam kesendirian. Karena
kesendirian akan membisikan dan membuka topeng diri.
dan jadilah dirimu yang sejati seperti dalam sendiri


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY
----------------------------------
Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita
yang telah dilabuhkan sampai kebelakang tabir.

- Terus mengharapkan yang terbaik, maka kita akan menghasilkan yang terbaik.
- Jangan bersungut-sungut tetapi mengucap syukurlah  senantiasa.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke