UNDANGAN DISKUSI BUKU PUISI 
"KEDAULATAN PANGAN" 
Karya Yonathan Rahardjo 
  
Kamis, 2 Juli 2009 
Pk. 19.00 - selesai 
Newseum Cafe 
Jl. Veteran I/33, Gambir Jakarta Pusat 
  
Pembahas: 
Binhad Nurrohmat 
Maulana Ahmad 
  
Konfirmasi: 
Alin SP Apriliani: 0818819944 
 
 
 
Pangan merupakan bagian tak terpisahkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup pokok 
manusia. Berbagai jenis makanan dan minuman diproduksi dan kita konsumsi setiap 
hari. Betapa dekat dan tak terpisahkannya pangan dengan kita, mengilhami 
Yonathan Rahardjo menulis puisi-puisi yang langsung berjudul nama makanan dan 
minuman. 
  
Dengan menempatkan nama ‘diri’ pangan itu pada judul sajak-sajak Yonathan 
Rahardjo, ada suatu harapan, bahwa pangan itu akan berbicara kepada kita 
–-apapun materi dan maknanya-- dengan segenap kedaulatannya, terurai pada isi 
puisi. 
  
Kedaulatan Pangan yang berbicara atas nama batin dan pandangannya sendiri, 
adalah antitesa terhadap sikap tunggal manusia terhadap pangan hanya berfungsi 
sebagai pemuas rasa lapar dan pemasok gizi hidup belaka. Dengan pangan, 
kebutuhan kita dipenuhi bukan hanya yang bersifat fisik, tapi juga batin. 
  
Nilai batiniah dalam pangan konsep Yonathan Rahardjo antara lain dipublikasikan 
pada 2003 dalam Antologi Puisi Bisikan Kata Teriakan Kota oleh Dewan Kesenian 
Jakarta. Pecel Lele dan Siomay adalah judul yang termuat dalam antologi 
tersebut. 
  
Salah seorang yang memberikan perhatian besar pada eksistensi puisi pangannya 
sejak saat itu adalah penyair Binhad Nurrohmat yang terus mengingatkan ia akan 
makna penting Sajak-sajak Kedaulatan Pangan saya dalam peta sastra Indonesia 
hingga lahir buku ini. 
  
Perhatian Binhad, antara lain dipublikasikan pada 1 Mei 2004 di Fajar Banten 
dengan tulisannya: “....Yonathan meski secara tersamar sebenarnya menunjukkan 
suatu komitmen sosial juga (puisi “Bukan Serabi Bandung....)” 
Terkait nilai yang tampak dari puisi Yonathan seperti “Bukan Serabi Bandung” 
ini, Sinar Harapan 10 Januari 2004 menulis, “..., Yonathan menggali ide baru 
yang sederhana, suatu gurauan serius dengan logika anak muda yang hendak bebas 
berkreasi. Coba simak sajaknya yang berjudul “Bukan Serabi Bandung....” 
  
Kalaulah sastrawan Maroeli Simbolon masih hidup saat ini, ia tentu juga akan 
terus mengingatkan tentang makna penting sajak-sajak pangan karya Yonathan 
Rahardjo. Perhatian ini antara lain ditulis oleh Maroeli Simbolon di Lampung 
Post 8 Agustus 2004. 
Tulis Maroeli di situ, “..., Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. 
Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, 
yang mengekspresikan pendapat Tardji (penyair Sutardi Calzoum Bahri) –dengan 
pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan 
jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, 
lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.” 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke