Artikel: Siapakah Kita Hingga Pantas Mengklain Diri Sempurna?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Konon, salah satu profesi paling bergengsi adalah sebagai konsultan. Baik 
konsultan management, motivator, trainer dan beragam jenis konsultan lainnya. 
Diluar soal penghasilan, profesi sebagai konsultan itu sekeren namanya;’tempat 
berkonsultasi’. Lazimnya, kita berkonsultasi kepada orang yang dianggap 
memiliki ’kelebihan’ dari kita. Sebab, tidaklah mungkin mengkonsultasi sesuatu 
kepada orang yang tidak memiliki kelebihan itu. Karena posisinya yang tinggi 
itu, kemudian kita sering salah kaprah. Kita menganggap bahwa konsultan adalah 
orang yang serba tahu dan serba benar. Sehingga, kita mengira bahwa seorang 
konsultan adalah manusia sempurna yang terbebas dari kesalahan dan kelemahan. 
Apa benar demikian?
 
Sekedar untuk memudahkan pembahasan selanjutnya, mari kita membagi fungsi 
konsultan kedalam 2 bagian besar. Sebut saja konsultan bidang teknis, dan 
non-teknis. Bidang teknis misalnya konsultan management, konsultan proyek dan 
sebagainya. Sedangkan konsultan non teknis misalnya konsultan psikologi, 
konsultan bimbingan penyuluhan, konsultan perilaku, serta para trainers dan 
motivators yang juga termasuk kedalamnya. 
 
Mari kita bahas tentang konsultan bidang teknis. Para konsultan bidang teknis 
sekurang-kurangnya harus memiliki 2 hard skill. Yaitu, penguasaan terhadap 
bidang yang ditanganinya, dan kedua adalah pengalaman aktual yang pernah 
dijalaninya. Sehingga, agak janggal jika seseorang yang hanya memahami textbook 
menjadi konsultan bidang teknis. Karena, jasa konsultasi yang diberikannya 
harus ditopang oleh pengalaman nyata yang dijalani dilapangan. Misalnya, jika 
seseorang mengatakan; ”begini lho, cara menjual yang sukses itu...” tapi dia 
tidak pernah menjadi seorang sales person. Wagu.
 
Masalahnya adalah; kita tidak mungkin ’mengalami’ semua hal teknis didalam 
industri manapun. Lagipula, ilmu berkembang terus, sehingga apa yang kita 
pelajari di bangku kuliah mungkin sudah tidak relevan lagi. Lebih dari itu, 
situasi dan lingkungan dunia bisnis kita terus-menerus bergerak. Sehingga, 
boleh jadi pengalaman kita tidak lagi sejalan dengan apa yang terjadi saat ini, 
apalagi kemungkinan-kemungkinannya dimasa depan. Lantas, bagaimana dong ya? 
 
Bagaimana? Ya, ’bagaimana’ adalah jawabannya. Yaitu, ’bagaimana’ jika kita 
terus belajar? Sebab, jika kita terus belajar, maka sekurang-kurangnya kita 
memiliki 2 karakteristik unik, yaitu; pertama, kita selalu bisa mengadopsi 
pengetahuan dan kemampuan  baru. Kedua, kita memiliki sifat rendah hati. Sebab, 
kesadaran untuk terus belajar adalah bibit dari pengakuan bahwa kita ini bukan 
mahluk yang sempurna. Dan jika kita tidak sempurna, maka kita tidak memiliki 
alasan untuk menutup diri dari masukan dan kritikan orang lain. Sehingga, 
’ukuran’ kepala kita tidak membesar hanya karena kita merasa sudah menjadi 
konsultan bagi orang lain. 
 
Pertanyaannya sekarang adalah; siapakah guru terbaik untuk membimbingnya 
menjalani proses pembelajaran tanpa henti itu? Saya meyakini bahwa, guru 
terbaik bagi seorang konsultan teknis adalah; klien-kliennya. Berguru kepada 
klien? Mengapa tidak? Sebab, didalam permasalahan yang mereka hadapi itu 
tersimpan berjuta kesempatan untuk belajar dan meningkatkan diri.
 
Bagaimana dengan konsultan non-teknis? Secara pribadi saya menganggap bahwa 
tanggungjawab moral seorang konsultan non-teknis memiliki bobot yang lebih 
besar lagi. Mengapa? Karena, ketika kita berbicara tentang ’values’ atau sistem 
nilai dan moral, maka kita sama sekali tidak bisa memisahkan diri dari 
implementasi sistem nilai itu barang sedetikpun. Begitu idealnya. Misalnya, 
didalam bidang konsultasi non-teknis kita mengenal sebutan ’motivator’. Jika 
seseorang sudah menjadi atau mengklaim diri sebagai motivator, apakah dia tidak 
pernah kekurangan motivasi? Kenyataannya, kita tidak selalu bisa begitu. Sebab, 
bahkan para motivator pun mengetahui bahwa yang namanya motivasi itu sifatnya 
bisa naik dan bisa turun. Dan itu sama artinya dengan mengakui bahwa motivasi 
seorang motivator pun bisa turun. Dengan kata lain; seorang motivator sekalipun 
membutuhkan motivasi.
 
Butuh kebesaran hati untuk mengakui bahwa kita ini memang tidak sempurna. Dan 
lebih besar lagi kebesaran hati yang mesti kita miliki untuk mengakui bahwa 
kita belajar dari orang-orang yang selama ini menjadi klien kita. Dari mereka 
yang menganggap bahwa kita adalah konsultan bagi mereka. Sebesar keberanian 
untuk mengakui bahwa guru-guru terbaik kita adalah mereka. Sehingga, selayaknya 
yang kita harapkan dari mereka bukanlah feedback atau komentar positif saja. 
Melainkan juga hal-hal tertentu yang mesti kita perbaiki. Sehingga, ketika kita 
mengharapkan feedback dari mereka, kita tidak hanya berharap mereka bicara 
bagus tentang yang ingin kita dengar. Melainkan juga, kekurangan yang bisa kita 
tingkatkan. Dengan begitu, seorang konsultan bisa diposisikan sederajat dengan 
kliennya. Tidak lebih tinggi. Atau lebih rendah. Sebab, klien membutuhkan sang 
konsultan untuk membantunya menemukan solusi. Sedangkan konsultan membutuhkan 
kliennya lebih dari sekedar
 urusan uang. Melainkan sebagai guru, untuk terus belajar dan meningkatkan 
diri. Dengan begitu, kita kembali kepada kesadaran bahwa; kita ini memang tidak 
sempurna. Namun, dibalik ketidaksempurnaan ini, kita bisa saling mengisi agar 
bisa semakin baik dari hari ke hari.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Uang mungkin bisa membelikan kita sertifikat kelulusan. Namun uang tidak bisa 
membelikan kita ilmu. Sedangkan orang lain, adalah jalan untuk mendapatkan ilmu 
yang tidak bisa dibelikan oleh uang itu.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke