Artikel: Kontras Antara ’Tampak Luar’ Dan ’Daleman’ Seseorang
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Sudah menjadi kelaziman jika kita terpukau oleh ’tampilan luar’ segala sesuatu.
Kita suka pada orang-orang yang ’kelihatannya’ baik, pintar, bijaksana dan
berwibawa. Tak jarang kita mengidolakan mereka secara berlebih-lebihan. Namun,
kadang-kadang rasa suka itu berbalik menjadi kekecewaan begitu kita tahu bahwa
’ternyata’ ada sisi gelap yang dimiliki oleh orang yang kita kagumi itu.
Walhasil, rasa hormat kita berubah menjadi kebencian. Atau setidak-tidaknya,
kita tidak lagi bersedia mendengar suara-suara kebijaksanaan darinya. Padahal,
kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun dia datang dari dalam lumpur.
’Kekurangan’ atau sisi gelap seseorang mestinya tidak menjadikan nilai-nilai
luhur lain yang disampaikannya kehilangan makna. Sebab, jika kita hanya
bersedia mendengar ’orang-orang yang tidak memiliki kekurangan’ maka kita tidak
akan pernah menemukan orang semacam itu. Walhasil, kita tidak bisa saling
belajar satu sama lain.
Saya sedang bekendara dengan istri saya ketika sebuah mobil mewah mendahului
mobil yang saya kendarai. Karena saya belum mampu memiliki mobil mewah seperti
itu, maka secara otomatis mata saya tertuju kepadanya. Mengikuti gerakannya
yang seolah bersinar laksana rembulan tengah purnama. Memukau. Dan mengagumkan.
Apalagi mobil itu terlihat bersih karena sang pemilik merawatnya dengan baik.
Namun, ketika mobil itu tepat berada didepan, saya melihat ada sesuatu yang
janggal. Bamper belakangnya tidak ada. Mungkin dicopot dibengkel untuk
diperbaiki sehingga sekarang saya bisa melihat ’daleman’ mobil mewah yang
selama ini tertutup oleh bamper. Sungguh, body mobil yang tidak tertutup bamper
itu tidak terlihat indah. Ternyata, kalau tidak dibungkus dengan ’tampilan
luar’ itu, mobil paling mewah sedunia pun tidak terlihat sempurnanya.
Saya menjadi teringat celetukan seseorang yang berbunyi kira-kira
begini;”Ngapain aku dengerin omong dia? Wong sama istrinya saja dia cerai kok.
Pake khotbah kayak gitu segala.....”
Orang yang seperti teman saya ini tidak hanya satu. Mungkin banyak sekali. Yang
meskipun tidak salah untuk bersikap begitu, namun juga tidak sepenuhnya fair.
Jika kita mengharapkan seseorang menjadi ’manusia super’ terlebih dahulu
sebelum bersedia berbagi sistem nilai dan prinsip-prinsip kebajikan, maka
artinya tidak seorangpun didunia ini yang mampu melakukan itu. Dan itu juga
berarti bahwa jika kita punya gagasan positif, kita tidak bisa berbagi gagasan
itu dengan orang lain sebelum kita bisa menjadi manusia yang benar-benar suci.
Oleh karena itu, kita perlu bersikap proposional, rasional, sekaligus
realistis. Dengan begitu, kita bisa tetap objektif tanpa harus menutup mata
kepada nilai-nilai kebenaran dan keluhuran budi. Dan untuk bisa begitu, kita
perlu mengambil langkah sekurang-kurangnya seperti ini:
Pertama, benar-benar bersedia menerima kenyataan bahwa orang lain tidak berbeda
dengan kita, dalam konteks sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.
Berfokus kepada kelebihan untuk dicontoh dan kepada kekurangan untuk dihindari,
jauh lebih produktif daripada mempermasalahkan kekurangan seseorang.
Kedua, menghindari terlampau mengidolakan seseorang. Kekaguman secara
berlebihan bisa menjebak kita kepada dua kutub ekstrim. Yaitu, kutub
tertutupnya mata batin kita, sehingga ketika orang yang terlampau kita idolakan
itu terpeleset sedikit saja sudah menjadikan kebencian kita memuncak
sepuncak-puncaknya. Sebaliknya, kita juga bisa masuk kekutub ekstrim lain
berupa tertutupnya mata lahir kita oleh kezaliman dan keburukan orang yang kita
kagumi itu, sehingga kita menjadi terlampau permisif. Itulah sebabnya banyak
orang T-O-P-B-G-T yang meskipun melakukan kezaliman tetapi tidak tersentuh oleh
hukum negara maupun hukum sosial. Kita menutup mata dengan sikap dan perilaku
buruknya. Maka dari itu, kekaguman pada seseorang mestilah ada dalam kadar yang
wajar.
Ketiga, perlu dibedakan antara kekurangan seseorang yang bersifat kelemahan
manusiawi, dan kejahatan atau kebejatan moral. Seseorang yang ’tercela’ karena
ketidakmampuannya atau kelemahannya tetapi masih bisa menjaga kesucian nilai
kemanusiaannya adalah gambaran seorang manusia apa adanya. Begitulah manusia.
Dia punya kelemahan. Sehingga hendaknya kita tidak memvonis buruk reputasinya,
dan menutup mata dan telinga dari kebaikan dan kebijaksanaan yang masih bisa
ditebarkannya. Seperti kasus teman saya itu; perceraian seseorang dengan istri
atau suaminya tidak serta merta mengisyaratkan dia orang yang buruk.
Berbeda dengan orang-orang yang memang berperilaku buruk, kriminal, dan
melanggar norma. Misalnya, seorang sahabat bercerita kepada saya tentang
seseorang yang dikenal sangat bijaksana, berbicara tentang moral disana-sini;
namun, jika berurusan dengan uang, dia seolah lupa atas semua yang pernah
dikatakannya. ”Seolah dia tidak takut lagi pada Tuhan,” begitu kira-kira
ungkapannya. Ada juga orang yang bergembar-gembor soal keluhuran moral dan
etika, namun diketahui sering bersikap asusila dengan perempuan-perempuan yang
bukan muhrimnya. Atau, mereka yang dikenal bijak dan pantas dijadikan tempat
berguru tapi ternyata sering menyakiti hati tetangganya dan tidak peduli jika
tetangganya itu terganggu oleh ulahnya.
Hal ini semakin menegaskan kepada kita, bahwa seperti mobil mewah tadi;
’daleman’ seseorang tidak selalu semulus dan sekelimis tampilan luarnya. Meski
begitu, tidak berarti bahwa kita boleh mencampakkannya begitu saja. Namun, juga
tidak berarti kita boleh mentolelir tindakan amoral dan kriminal yag
dilakukannya. Ini menegaskan kita bahwa bersikap objektif dan proporsional itu
penting. Sehingga, kita tidak kehilangan makna atas keyakinan kita bahwa setiap
manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Agar kita bisa terus saling belajar,
sambil tetap memberi ruang kepada setiap pribadi untuk melakukan kesalahan
dalam koridor keterbatasannya sebagai seorang manusia. Dan pada saat yang sama,
kita mengatakan ’tidak’ pada kebejatan moral dan perilaku tercela lainnya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
Catatan Kaki:
Ada bedanya antara kelemahan dan kebejatan. Kita boleh menerima kelemahan,
namun menolak tindakan dan perilaku buruk yang datang dari hati yang kotor.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]